
Mounture.com — Mendaki gunung menjadi salah satu aktivitas luar ruang yang banyak digemari masyarakat Indonesia. Selain menawarkan pemandangan alam yang indah dan pengalaman menjelajahi jalur pendakian, kegiatan ini juga menghadirkan berbagai momen unik yang sulit ditemukan dalam aktivitas sehari-hari.
Di balik perjuangan menaklukkan tanjakan, medan terjal, hingga rasa lelah selama perjalanan, ada sejumlah kebiasaan pendaki gunung di Indonesia yang justru membuat aktivitas mendaki terasa lebih menyenangkan.
Menariknya, beberapa kebiasaan tersebut sering dilakukan secara spontan, bahkan kepada pendaki yang sebelumnya tidak saling mengenal. Berikut beberapa kebiasaan pendaki gunung di Indonesia yang kerap menjadi momen tak terlupakan saat berada di jalur pendakian.
1. Saling Menyapa di Jalur Pendakian
Salah satu kebiasaan yang paling mudah ditemui saat mendaki gunung adalah saling menyapa ketika berpapasan dengan pendaki lain. Tak peduli tua maupun muda, pemula ataupun pendaki berpengalaman, mereka biasanya akan memberikan sapaan ketika bertemu di jalur.
Sapaan sederhana seperti “pagi”, “siang”, “permisi”, atau sekadar menganggukkan kepala menjadi bentuk keramahan yang sudah cukup melekat dalam budaya pendakian di Indonesia.
Meskipun terlihat sederhana, kebiasaan ini bisa membuat suasana di jalur pendakian terasa lebih hangat. Apalagi ketika bertemu pendaki lain setelah melewati tanjakan panjang dan melelahkan. Kadang, sapaan singkat tersebut justru menjadi penyemangat untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju puncak.
2. Saling Berbagi Makanan dan Minuman
Kebiasaan lainnya adalah berbagi makanan dan minuman. Saat beristirahat di jalur atau mendirikan tenda di area camp, pendaki biasanya membawa bekal masing-masing. Namun, ketika waktunya makan, tidak jarang ada pendaki yang menawarkan makanan atau minuman kepada orang-orang di sekitarnya.
Hal tersebut bahkan bisa terjadi antara pendaki yang sama sekali belum saling mengenal.
“Mas, mau kopi?” atau “Mau makan?” menjadi pertanyaan sederhana yang cukup sering terdengar di area perkemahan.
Tidak jarang pula seorang pendaki membawa bekal berlebih dan kemudian membagikannya kepada pendaki lain. Kebiasaan berbagi inilah yang membuat pendakian gunung bukan hanya tentang mencapai puncak, tetapi juga tentang membangun rasa kebersamaan di tengah alam.
BACA JUGA: 11 Alasan Pendaki Mulai Jarang Mendaki Gunung, Kamu yang Mana?
3. Saling Menolong Ketika Ada Kesulitan
Mendaki gunung bukan aktivitas yang bisa dilakukan tanpa persiapan. Kondisi medan yang berubah-ubah, cuaca, kelelahan, hingga berbagai situasi tak terduga bisa dialami siapa saja.
Karena itu, saling menolong sesama pendaki menjadi salah satu hal yang cukup kuat dalam budaya pendakian di Indonesia.
Ketika melihat pendaki lain mengalami kesulitan, misalnya kelelahan, kesulitan membawa barang, atau membutuhkan bantuan di jalur, pendaki lain biasanya akan berusaha membantu.
Bantuan tersebut tidak selalu berupa sesuatu yang besar. Terkadang hanya dengan memberikan air minum, membantu membawa barang, menunjukkan arah jalur, atau menemani pendaki yang sedang kelelahan.
Di alam bebas, rasa saling membantu seperti ini menjadi sangat berarti. Sebab, siapa pun bisa berada dalam kondisi membutuhkan bantuan ketika sedang melakukan pendakian gunung.
4. Ada “Mandor” Saat Mendirikan Tenda
Nah, kebiasaan yang satu ini mungkin cukup familiar bagi banyak pendaki. Dalam sebuah kelompok pendakian, biasanya ada saja satu orang yang mendapat julukan “mandor”.
Julukan tersebut diberikan kepada pendaki yang bukannya sibuk membantu mendirikan tenda, tetapi justru duduk santai sambil memperhatikan teman-temannya bekerja.
Ketika teman-temannya mulai memasang frame, membentangkan flysheet, memasang pasak, hingga merapikan perlengkapan, si “mandor” biasanya cukup duduk sambil sesekali memberikan komentar atau instruksi.
“Sudah benar belum?”
“Pasaknya kurang kuat.”
“Yang sebelah sana ditarik lagi.”
Padahal, kontribusinya sering kali hanya sebatas mengawasi. 😄
Meski begitu, keberadaan “mandor” justru sering menjadi bahan candaan di antara kelompok pendaki dan menjadi salah satu cerita yang terus diingat setelah pendakian selesai.
(mc/ns)





