
Mounture.com — Dulu, mendaki gunung mungkin menjadi salah satu kegiatan yang paling ditunggu. Membuka kalender untuk mencari tanggal kosong, mengajak teman, menyiapkan perlengkapan, hingga menentukan gunung yang akan didaki menjadi rutinitas yang menyenangkan.
Namun, seiring berjalannya waktu, tidak sedikit pendaki yang mulai jarang mendaki gunung. Padahal, dulu hampir setiap ada kesempatan selalu ingin naik gunung. Sekarang, ajakan mendaki terkadang hanya dijawab, “Nanti kalau ada waktu.”
Bukan berarti kecintaan terhadap gunung sudah hilang. Ada banyak alasan yang membuat seseorang yang sebelumnya aktif mendaki akhirnya mengurangi frekuensi pendakian.
Lantas, apa saja alasan pendaki sudah jarang mendaki gunung?
1. Sudah Berkeluarga dan Memprioritaskan Kebutuhan Keluarga
Salah satu alasan yang cukup umum adalah pendaki sudah berkeluarga. Ketika masih lajang, waktu dan penghasilan mungkin lebih leluasa digunakan untuk mendaki.
Sebagian uang bisa dialokasikan untuk membeli perlengkapan outdoor, membayar transportasi, logistik, hingga melakukan perjalanan ke berbagai gunung. Namun setelah menikah, prioritas hidup biasanya berubah.
Ada kebutuhan rumah tangga yang harus didahulukan, mulai dari kebutuhan sehari-hari, tempat tinggal, pendidikan anak, kesehatan, hingga kebutuhan keluarga lainnya.
Uang yang dahulu bisa digunakan untuk beberapa kali pendakian dalam setahun mungkin kini lebih penting untuk ditabung atau digunakan untuk kebutuhan keluarga.
Begitu juga dengan waktu. Akhir pekan yang dahulu bisa digunakan untuk mendaki selama dua atau tiga hari kini mungkin menjadi waktu untuk berkumpul bersama pasangan dan anak.
Bukan berarti kecintaan terhadap gunung hilang, tetapi prioritasnya berubah. Bagi sebagian pendaki yang sudah berkeluarga, mendaki tetap menjadi hobi yang ingin dilakukan. Hanya saja, pendakian dilakukan ketika kondisi keuangan, pekerjaan, dan keluarga benar-benar memungkinkan.
Bahkan, ada yang akhirnya mengurangi frekuensi mendaki dari beberapa kali dalam setahun menjadi satu atau dua kali saja.
2. Kesibukan Pekerjaan Semakin Padat
Pekerjaan juga menjadi alasan kuat kenapa seseorang mulai jarang naik gunung.
Saat masih memiliki banyak waktu luang, akhir pekan bisa digunakan untuk melakukan pendakian. Namun setelah memasuki dunia kerja, waktu libur terkadang justru dibutuhkan untuk beristirahat atau menyelesaikan pekerjaan.
Belum lagi bagi mereka yang memiliki pekerjaan dengan jadwal tidak menentu atau sering melakukan perjalanan dinas. Akibatnya, rencana mendaki yang sudah dibuat sejak jauh-jauh hari bisa kembali tertunda karena pekerjaan.
BACA JUGA: 8 Alasan Pendaki Tiba-Tiba Ingin Naik Gunung, Kamu Nomor Berapa?
3. Kondisi Fisik Tidak Lagi Seperti Dulu
Mendaki gunung membutuhkan kondisi fisik yang cukup baik. Seiring bertambahnya usia, kemampuan fisik seseorang juga bisa berubah. Jalur yang dahulu terasa biasa saja mungkin kini membutuhkan tenaga lebih besar.
Bukan berarti seorang pendaki kehilangan kemampuan untuk mendaki, tetapi persiapan fisik yang dibutuhkan mungkin menjadi lebih serius. Karena itu, sebagian pendaki lama memilih mengurangi frekuensi pendakian dan lebih selektif dalam memilih gunung maupun jalur yang akan dilalui.
4. Prioritas Hidup Mulai Berubah
Selain keluarga, perubahan prioritas hidup secara umum juga bisa membuat seseorang semakin jarang mendaki. Ada yang mulai fokus membeli rumah, kendaraan, membangun usaha, melanjutkan pendidikan, atau mengejar target finansial.
Dulu membeli perlengkapan outdoor menjadi prioritas. Kini, uang yang sama mungkin lebih dibutuhkan untuk kebutuhan lain. Pada akhirnya, bukan gunungnya yang berubah, tetapi kehidupan pendakinya yang semakin memiliki banyak tanggung jawab.
5. Biaya Mendaki Mulai Diperhitungkan
Mendaki gunung memang sering dianggap sebagai aktivitas yang relatif murah. Namun jika dihitung secara keseluruhan, biaya pendakian bisa cukup besar. Ada biaya transportasi, tiket atau tarif pendakian, logistik, perlengkapan, penginapan sebelum atau setelah pendakian, hingga pengeluaran tidak terduga.
Bagi pendaki yang tinggal jauh dari lokasi gunung, biaya perjalanan bahkan bisa lebih besar dibandingkan biaya pendakiannya. Karena itu, tidak sedikit orang yang akhirnya memilih mendaki lebih jarang dan menunggu kondisi keuangan benar-benar memungkinkan.
6. Perlengkapan Pendakian Membutuhkan Biaya
Perlengkapan juga menjadi pertimbangan. Sepatu gunung, carrier, jaket, sleeping bag, tenda, matras, kompor, hingga berbagai perlengkapan keselamatan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Perlengkapan tersebut juga harus dirawat dan pada waktunya perlu diganti. Bagi pendaki yang sudah memiliki keluarga, membeli perlengkapan baru mungkin bukan lagi prioritas utama.
BACA JUGA: Pendaki Wajib Tahu, Begini Cara Aman Turun Gunung Tanpa Tersesat
7. Semakin Sulit Mencari Teman Mendaki
Bagi sebagian orang, mendaki gunung bukan hanya tentang mencapai puncak, tetapi juga menikmati perjalanan bersama teman. Masalahnya, semakin dewasa, teman-teman yang dahulu sering mendaki bersama mulai memiliki kesibukan masing-masing.
Ada yang sibuk bekerja, menikah, memiliki anak, pindah kota, atau memiliki jadwal libur yang berbeda. Akhirnya muncul situasi klasik yang sering dialami pendaki lama:
Semua ingin mendaki, tetapi tidak ada yang punya waktu yang sama. Rencana pendakian pun kembali tertunda.
8. Cuaca dan Kondisi Gunung Menjadi Pertimbangan
Kondisi cuaca juga menjadi alasan pendaki mengurangi aktivitas mendaki.
Musim hujan dapat membuat jalur menjadi lebih licin dan meningkatkan risiko selama perjalanan. Sementara pada musim kemarau, kawasan hutan dan gunung di sejumlah daerah menghadapi risiko kebakaran.
Dalam kondisi tertentu, pengelola kawasan bahkan dapat menutup sementara jalur pendakian demi keselamatan pengunjung dan perlindungan lingkungan. Pendaki yang semakin berpengalaman biasanya juga semakin memahami bahwa tidak semua kondisi harus dipaksakan.
9. Tidak Lagi Terobsesi Mengejar Banyak Puncak
Ada fase ketika seorang pendaki ingin mencoba sebanyak mungkin gunung. Setelah berhasil mendaki satu gunung, muncul keinginan untuk mencoba gunung berikutnya. Kemudian muncul target baru, jalur baru, hingga daftar puncak yang ingin ditaklukkan.
Namun setelah bertahun-tahun mendaki, sebagian orang akhirnya tidak lagi terlalu mengejar jumlah puncak. Mereka mulai menikmati hal-hal sederhana.
Berjalan santai di jalur pendakian, menikmati suasana hutan, melihat matahari terbit, memasak di camp, atau sekadar berbincang dengan teman terkadang sudah cukup.
Tujuan mendaki pun berubah dari menaklukkan puncak menjadi menikmati perjalanan.
10. Semakin Sadar dengan Risiko Pendakian
Pengalaman juga membuat seorang pendaki semakin memahami risiko di gunung.
Semakin sering mendaki, seseorang biasanya semakin sadar bahwa kondisi fisik, cuaca, perlengkapan, navigasi, kondisi jalur, hingga kemampuan setiap anggota kelompok harus diperhitungkan. Karena itu, pendaki berpengalaman terkadang justru lebih berhati-hati.
Mereka tidak lagi merasa harus mendaki setiap kali ada kesempatan. Jika kondisi tidak memungkinkan, membatalkan pendakian justru dianggap sebagai keputusan yang bijak.
11. Beralih ke Aktivitas Outdoor Lain
Jarang mendaki bukan berarti seseorang berhenti menyukai alam.
Sebagian pendaki justru mengalihkan hobinya ke kegiatan outdoor lain seperti camping, hiking ringan, trail run, bersepeda, road trip, atau menjelajahi destinasi wisata alam. Aktivitas tersebut dianggap lebih fleksibel dan bisa dilakukan tanpa harus menghabiskan waktu berhari-hari di gunung.
BACA JUGA: Cara Menghilangkan Pegal Setelah Naik Gunung, Pendaki Wajib Tahu
Pada akhirnya, jarang mendaki bukan berarti berhenti mencintai gunung.
Bagi pendaki yang sudah berkeluarga, mungkin ada kebutuhan yang lebih penting untuk diprioritaskan. Bagi yang bekerja, mungkin waktu menjadi semakin terbatas. Sementara bagi pendaki yang semakin dewasa, mungkin cara menikmati alam juga ikut berubah.
Dulu, mendaki bisa dilakukan hampir setiap bulan. Sekarang mungkin hanya setahun sekali.
Dulu mengejar puncak menjadi tujuan utama. Sekarang bisa jadi menikmati perjalanan dan kembali dengan selamat sudah menjadi kepuasan tersendiri.
Gunung pun tidak akan ke mana-mana.
Ketika waktu, kondisi fisik, keuangan, pekerjaan, dan keluarga sudah memungkinkan, sepatu bisa kembali dipakai, carrier kembali dipanggul, dan langkah menuju jalur pendakian bisa dimulai lagi.
Sebab bagi banyak pendaki, gunung bukan sekadar tempat untuk mencapai puncak, tetapi tempat yang selalu bisa didatangi kembali ketika waktunya tiba.
(mc/ns)





