
Foto: Kontributor/Mohammad Ikbal SP
Mounture.com — Sulawesi Tengah memiliki sejumlah puncak dengan ketinggian lebih dari 2.800 meter. Berdasarkan data Gunung Bagging yang dapat menjadi salah satu pembanding, tiga puncak tertinggi di wilayah ini adalah Fuyu Sojol (2.890 meter), Bulu Kandela atau Kondoruang (2.870 meter), dan Buyu Katopasa (2.825 meter).
Namun, angka ketinggian gunung di Sulawesi Tengah belum sepenuhnya seragam. Perbedaan data tersebut menjadi menarik karena sebagian gunung memiliki catatan pengukuran lapangan dan sejarah ekspedisi yang panjang.
1. Fuyu Sojol — 2.890 Meter
Fuyu Sojol tercatat sebagai salah satu puncak tertinggi di Sulawesi Tengah dengan ketinggian 2.890 meter berdasarkan Gunung Bagging.
Meski demikian, ketinggian Gunung Sojol masih ditemukan berbeda dalam sejumlah sumber lokal dan administratif. Karena itu, angka tersebut sebaiknya dipahami berdasarkan sumber yang digunakan dan masih terbuka untuk penelusuran lebih lanjut.
2. Kondoruang/Kandela — 2.870 Meter
Puncak berikutnya adalah Kondoruang atau Kandela, yang tercatat memiliki ketinggian 2.870 meter.
Kondoruang menarik karena memiliki dokumentasi ekspedisi Mapala Sagarmatha Fakultas Pertanian Universitas Tadulako sejak 2002. Ekspedisi kembali dilakukan pada 2017 dan menghasilkan pengukuran GPS sekitar 2.908 mdpl.
Angka 2.908 mdpl tersebut merupakan hasil pengukuran GPS dalam ekspedisi Sagarmatha dan belum dapat disebut sebagai ketinggian resmi atau final Kondoruang. Sebagai pembanding, Gunung Bagging dan penelitian ilmiah mengenai habitat anoa di kawasan tersebut menggunakan angka 2.870 meter.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa data ketinggian sebuah gunung perlu dilihat berdasarkan sumber dan metode pengukurannya.
3. Buyu Katopasa — 2.825 Meter
Buyu Katopasa berada di posisi berikutnya dengan ketinggian sekitar 2.825 meter berdasarkan Gunung Bagging. Gunung ini juga memiliki sejarah ekspedisi. Mapala Lalimpala FKIP Universitas Tadulako tercatat melakukan pembukaan jalur Katopasa pada 1996.
Pada 2024, kawasan Katopasa juga menjadi bagian dari lintasan ekspedisi Katopasa–Kondoruang.

Foto: Kontributor/Mohammad Ikbal SP
BACA JUGA: Pendaki Wajib Tahu, Begini Cara Aman Turun Gunung Tanpa Tersesat
Dari ketiga puncak tersebut, Kondoruang memiliki salah satu dokumentasi ekspedisi yang cukup menarik.
– 2002: Mapala Sagarmatha melakukan ekspedisi pembukaan atau rintisan jalur Kondoruang.
– 2013: Ekspedisi Lalimpala mendokumentasikan pendakian Kondoruang.
– 2017: Mapala Sagarmatha kembali melakukan penelusuran dan pengukuran GPS sekitar 2.908 mdpl.
– 2024: Ekspedisi Mahusa Universitas Lampung bersama kelompok pendukung melakukan lintasan Katopasa–Kondoruang.
Dalam penelusuran 2017, tim juga mencari tanda atau titik triangulasi lama di kawasan puncak, tetapi tidak menemukannya pada lokasi yang ditelusuri.
Kendati demikian, hal tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa Kondoruang tidak pernah masuk dalam jaringan triangulasi pemetaan. Penelusuran peta topografi lama dan arsip pemetaan masih diperlukan untuk menjawabnya.
Kondoruang kini juga menjadi objek penelitian mengenai habitat anoa. Penelitian yang diterbitkan pada 2026 menggunakan ketinggian 2.870 mdpl dan mengidentifikasi ekosistem berupa savana, hutan dataran rendah, hutan bawah pegunungan, dan hutan atas pegunungan.
Dokumentasi ekspedisi 2017 juga memperlihatkan bunga yang informasinya diperoleh dari masyarakat Linte Tua. Jenis atau spesies bunga tersebut belum ditetapkan karena masih membutuhkan identifikasi botani.
Hal ini menunjukkan bahwa gunung tertinggi di Sulawesi Tengah tidak hanya menarik dari sisi ketinggian, tetapi juga dari sejarah ekspedisi, pemetaan, keanekaragaman hayati, dan pengetahuan masyarakat lokal.
Sebagai catatan, angka kurang lebih 2.908 mdpl pada Kondoruang merupakan hasil pengukuran GPS ekspedisi Sagarmatha 2017, bukan ketinggian resmi atau final.

Foto: Kontributor/Mohammad Ikbal SP
Tentang Penulis
Mohammad Ikbal SP (Mohammad Ikbal “Matahari”) merupakan kontributor sukarela dari Mapala Sagarmatha Fakultas Pertanian Universitas Tadulako yang turut mendokumentasikan ekspedisi dan penelusuran kawasan pegunungan di Sulawesi Tengah.
Kontribusi ini menjadi bagian dari upaya mendokumentasikan sejarah pendakian, ekspedisi, pemetaan, serta keanekaragaman hayati di kawasan pegunungan Sulawesi Tengah.
Kontributor sendiri berasal dari Parigi Selatan, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.
Catatan redaksi: Foto telah dilakukan restorasi menggunakan perangkat AI
(om/kr)





