Kisah Perjalanan Menuju ke Desa Rantau Malam di Kalimantan Barat

Desa Rantau Malam (dok. MAPALA UI)

Mounture.comGunung Bukit Raya yang berada di Kabupaten Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah merupakan salah satu puncak tertinggi di Indonesia atau kerap disebut 7 summits.

Untuk bisa menggapai puncak Bukit Raya, langkah awal pendaki ialah dengan menuju ke Desa Rantau Malam yang merupakan desa terakhir untuk memulai pendakian ke gunung dengan ketinggian 2.278 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu.

Desa Rantau Malam berada di salah satu hulu sungai paling ujung yang ada di Kalimantan Barat (Kalbar). Menurut salah satu keterangan warga desa setempat, Rantau Malam adalah desa persinggahan perantau yang dahulunya melewati Bukit Raya.

“Rantau artinya Perantau, Malam artinya bermalam. Perantau yang melewati pasti akan bermalam di desa ini (Desa Rantau Malam), maka dari itu disebutlah Desa Rantau Malam,” sebut salah seorang warga setempat.

BACA JUGA: Simak Informasi ini Jika Mau Ke Bukit Raya

Bicara perjalanan menuju ke Desa Rantau Malam, maka kalian akan melewati tantangan dan waktu tempuh yang panjang untuk tiba di sana. Untuk sampai ke Desa Rantau Malam, dari Kota Pontianak harus naik bus Damri selama satu malam menuju Kota Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi.

Kemudian, perjalanan dari Nanga Pinoh dilanjutkan dengan menaiki perahu cepat berukuran kecil dengan kapasitas hanya enam orang menuju ke Nanga Serawai. Adapun Nanga Serawai merupakan sebuah kecamatan yang berada di tanjung daratan. Daratan ini terbentuk oleh kelokan Sungai Melawi di Kabupaten Sintang, Kalbar.

Waktu yang akan ditempuh sekitar lima hingga enam jam perjalanan dengan jarak sekitar 200 kilometer. Selama perjalanan, perahu cepat atau speed boat akan berhenti sekali di daerah Nanga Nua untuk makan siang. Menariknya, makan di Nanga Nua ini memiliki suasana yang berbeda. Sebab, rumah makannya terapung di tepian Sungai Melawi.

BACA JUGA: Mengenal 7 Summits Indonesia

Sesampainya di Nanga Serawai, kalian harus bermalam dahulu di sini, pasalnya tidak ada kelotok (perahu) yang berlayar sore atau malam hari ke Desa Rantau Malam. Siang atau keesokan paginya, dengan menggunakan kelotok berkapasitas 10-20 orang, perjalanan dilanjutkan ke Desa Rantau Malam.

Kelotok menyusuri aliran sungai bahkan tidak jarang harus menentang arus dengan medan berkelok-kelok. Perjalanan ini berlangsung kurang lebih empat sampai lima jam.

Adapun desa Rantau Malam tepat terletak di pinggiran sungai dan didiami oleh Suku Dayak Udamun. Di desa ini terdapat sebuah rumah adat khas Suku Dayak Kalimantan yang disebut Rumah Betang. Rumah ini merupakan salah satu rumah adat Dayak tertua yang dihuni oleh suku Dayak Udamun.

Disebutkan bahwa rumah Betang di Dusun Rantau Malam sudah berusia lebih dari 100 tahun, di mana tiang-tiang utamanya menggunakan kayu ulin. (MC/PC)