Fakta Tragis Pendakian Gunung 2025: Hipotermia Jadi Penyebab Kematian Tertinggi Pendaki di Indonesia

Tim SAR

Ilustrasi – IST

Mounture.com — Aktivitas pendakian gunung di Indonesia terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Namun di balik tren positif wisata alam tersebut, angka kecelakaan dan kematian pendaki juga masih menjadi perhatian serius.

Sepanjang tahun 2025, setidaknya 16 pendaki dilaporkan meninggal dunia di berbagai gunung di Indonesia. Faktor cuaca ekstrem, kelelahan fisik, kondisi kesehatan tersembunyi, hingga medan pendakian yang berat menjadi penyebab utama berbagai insiden tersebut.

Data korban dihimpun dari berbagai sumber dan laporan lapangan. Jumlah sebenarnya kemungkinan bisa lebih banyak karena tidak semua kejadian terdokumentasi secara resmi.

Hipotermia Jadi Penyebab Kematian Pendaki Tertinggi

Dari berbagai kasus yang terjadi sepanjang 2025, hipotermia menjadi penyebab kematian paling dominan di jalur pendakian Indonesia.

Kondisi ini terjadi ketika suhu tubuh turun drastis akibat paparan cuaca dingin, hujan, angin kencang, serta kurangnya perlengkapan yang memadai.

Selain hipotermia, kasus jatuh ke jurang dan serangan penyakit bawaan seperti hipertensi, gagal napas, dan gangguan jantung juga menjadi faktor yang paling sering memicu korban jiwa.

Banyak kasus menunjukkan kondisi fisik pendaki yang sebenarnya tidak prima namun tetap memaksakan diri melakukan pendakian berat.

BACA JUGA: Helikopter FINNS Search & Rescue Evakuasi Wisatawan Malaysia di Gunung Rinjani

90 Persen Kecelakaan Terjadi saat Turun Gunung

Salah satu temuan menarik dari berbagai insiden pendakian adalah mayoritas kecelakaan justru terjadi saat perjalanan turun gunung.

Analisis berbagai kasus menunjukkan sekitar 90 persen kecelakaan pendakian terjadi ketika pendaki turun dari puncak.

Kondisi tubuh yang sudah kelelahan, fokus yang mulai menurun, serta rasa ingin cepat sampai basecamp sering membuat pendaki menjadi lengah.

Situasi tersebut diperparah dengan jalur menurun yang licin, berbatu, serta cuaca yang berubah cepat di kawasan pegunungan. Banyak pendaki menganggap perjalanan turun lebih mudah dibanding naik, padahal risiko cedera dan kecelakaan justru lebih besar.

Gunung Rinjani Jadi Salah Satu Gunung Paling Rawan

Dari sejumlah data kecelakaan pendakian sepanjang 2025, Gunung Rinjani menjadi salah satu gunung yang paling konsisten muncul dalam laporan insiden.

Selain Rinjani, beberapa gunung lain yang juga tercatat memiliki tingkat kecelakaan cukup tinggi antara lain Gunung Slamet, Gunung Lawu, dan Gunung Arjuno.

Faktor cuaca ekstrem, jalur panjang, perubahan suhu yang drastis, hingga medan yang berat menjadi tantangan utama di gunung-gunung tersebut.

Gunung Rinjani misalnya, dikenal memiliki jalur pendakian panjang dengan suhu dingin ekstrem di area Pelawangan dan Segara Anak yang kerap memicu hipotermia.

Sementara Gunung Slamet terkenal dengan cuaca yang cepat berubah dan medan berbatu yang cukup menguras tenaga pendaki.

BACA JUGA: Registrasi Pendakian Gunung Merbabu Juni 2026 Resmi Dibuka

Kondisi Kesehatan Tersembunyi Jadi Ancaman Serius

Sejumlah kasus kematian pendaki juga menunjukkan pola yang mulai menjadi perhatian pengelola taman nasional, yakni adanya riwayat penyakit bawaan yang tidak diungkapkan sebelum pendakian.

Adapun penyakit bawaan seperti hipertensi dan gangguan pernapasan dapat menjadi fatal ketika dipicu aktivitas fisik berat di gunung.

Kini sejumlah pengelola jalur pendakian, termasuk Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), mulai memperketat pemeriksaan kesehatan serta meminta pendaki lebih jujur terkait kondisi medis sebelum melakukan registrasi.

Langkah ini dilakukan untuk meminimalkan risiko fatal selama aktivitas pendakian berlangsung.

Pendakian Bukan Sekadar Wisata, Tapi Aktivitas Berisiko

Meningkatnya tren pendakian gunung sering kali membuat sebagian orang menganggap aktivitas ini sekadar wisata biasa.

Padahal, mendaki gunung merupakan aktivitas alam bebas berisiko tinggi yang membutuhkan persiapan fisik, mental, logistik, hingga pemahaman keselamatan dasar.

Cuaca ekstrem, kelelahan, minim pengalaman, serta perlengkapan yang tidak memadai masih menjadi faktor utama yang memperbesar risiko kecelakaan pendakian di Indonesia.

Karena itu, pendaki diimbau untuk tidak memaksakan diri, memahami kemampuan pribadi, serta mempersiapkan kondisi tubuh sebelum melakukan perjalanan ke gunung. Keselamatan tetap harus menjadi prioritas utama dibanding ambisi mencapai puncak.

(mc/pd/ls)