
Mounture.com — Jumlah pengguna LRT Jabodebek terus meningkat sepanjang 2026. Hingga September 2026, layanan transportasi publik ini telah melayani 24,7 juta pengguna, tumbuh sekitar 19 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan data LRT Jabodebek, jumlah pengguna sepanjang Januari hingga September 2026 mencapai 24.702.905 orang. Angka tersebut meningkat dibandingkan periode Januari hingga September 2025 yang tercatat sebanyak 20.769.914 pengguna.
Kenaikan jumlah pengguna juga terlihat pada September 2026. Dalam satu bulan, LRT Jabodebek melayani 2.893.108 pengguna, meningkat sekitar 18 persen dibandingkan September 2025 yang mencapai 2.449.304 pengguna.
Sementara itu, sepanjang kuartal III 2026, jumlah pengguna LRT Jabodebek tercatat sebanyak 8.683.994 orang. Jumlah tersebut naik sekitar 12 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025, yakni 7.729.511 pengguna.
Pertumbuhan ini berlangsung seiring dengan konektivitas LRT Jabodebek dengan berbagai moda transportasi publik lainnya. Sejumlah stasiun terhubung dengan Commuter Line, Kereta Bandara, Kereta Cepat Whoosh, Transjakarta, layanan shuttle, hingga bus antarkota dan antarprovinsi.
Integrasi tersebut memberikan pilihan bagi masyarakat untuk melanjutkan perjalanan menggunakan moda transportasi lain sesuai dengan tujuan dan kebutuhan masing-masing.
BACA JUGA: 7 Daya Tarik Raja Ampat yang Bikin Wisatawan Betah Menjelajah Papua
Pertumbuhan jumlah pengguna juga terlihat di sejumlah stasiun integrasi LRT Jabodebek selama Januari hingga September 2026. Dari lima stasiun yang disorot, Stasiun Kampung Rambutan mencatat kenaikan persentase tertinggi, baik untuk aktivitas tap in maupun tap out.
Berdasarkan data yang disampaikan LRT Jabodebek, jumlah pengguna yang melakukan tap in di Stasiun Kampung Rambutan mencapai 601.042 orang pada Januari hingga September 2026. Angka ini meningkat sekitar 41 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 427.644 orang.
Adapun jumlah pengguna yang melakukan tap out tercatat sebanyak 569.870 orang, tumbuh sekitar 37 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai 415.605 orang.
Stasiun lain yang menunjukkan peningkatan adalah Stasiun Cikoko. Jumlah pengguna yang melakukan tap in mencapai 1.998.624 orang, naik sekitar 21 persen dibandingkan Januari hingga September 2025 sebanyak 1.652.309 orang.
Untuk aktivitas tap out, Stasiun Cikoko mencatat 1.976.666 pengguna, meningkat sekitar 18 persen dari 1.670.836 pengguna pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, Stasiun Dukuh Atas Bank Syariah Indonesia juga mencatat pertumbuhan pengguna. Aktivitas tap in mencapai 3.773.510 pengguna, meningkat sekitar 19 persen dibandingkan 3.182.097 pengguna pada Januari hingga September 2025.
Adapun jumlah tap out di stasiun tersebut mencapai 3.254.508 pengguna, naik sekitar 14 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 2.845.094 pengguna.
BACA JUGA: Penanjakan Bromo Dibatasi Mulai 17 Oktober, Bukit Kedaluh hingga View Point Ditutup
Peningkatan jumlah pengguna juga terjadi di Stasiun TMII. Sepanjang Januari hingga September 2026, jumlah tap in tercatat sebanyak 993.066 pengguna, meningkat sekitar 11 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai 896.691 pengguna.
Aktivitas tap out di Stasiun TMII mencapai 906.156 pengguna, tumbuh sekitar 12 persen dibandingkan 810.191 pengguna pada periode Januari hingga September 2025.
Adapun Stasiun Halim mencatat pertumbuhan yang lebih moderat. Jumlah tap in selama Januari hingga September 2026 mencapai 372.735 pengguna, naik sekitar 2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 364.714 pengguna.
Sementara itu, aktivitas tap out di Stasiun Halim mencapai 321.546 pengguna, meningkat sekitar 3 persen dibandingkan 311.197 pengguna pada Januari hingga September 2025.
Manager of Public Relation LRT Jabodebek, Radhitya Mardika, mengatakan pertumbuhan jumlah pengguna menunjukkan pentingnya konektivitas dalam mendukung mobilitas masyarakat.
“Pertumbuhan pengguna menunjukkan bahwa LRT Jabodebek semakin menjadi bagian dari perjalanan masyarakat. Pada saat yang sama, pertumbuhan di sejumlah stasiun integrasi menunjukkan pentingnya konektivitas dalam membentuk perjalanan menggunakan transportasi publik,” ujar Radhitya.
Menurut dia, integrasi antarmoda memberikan fleksibilitas bagi masyarakat untuk menyesuaikan perjalanan berdasarkan tujuan dan kebutuhan masing-masing.
Masyarakat tidak selalu melakukan perjalanan dari satu titik ke titik lain dengan satu moda transportasi. Konektivitas memungkinkan pengguna LRT Jabodebek melanjutkan perjalanan menggunakan moda lain sehingga memiliki lebih banyak pilihan dalam merencanakan perjalanan.
Pertumbuhan jumlah pengguna hingga September 2026 menunjukkan meningkatnya aktivitas perjalanan yang dilayani LRT Jabodebek. Konektivitas dengan berbagai moda transportasi dan pusat aktivitas menjadi bagian penting dalam mendukung perjalanan masyarakat secara terintegrasi.
(mc/ns)





