
Foto: ensiklopediakampar.id
Mounture.com — Provinsi Riau selama ini lebih dikenal dengan bentang alam dataran rendah, hutan, sungai, dan lahan gambut. Namun, di pedalaman Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, tersimpan sebuah bentang alam yang memiliki kisah menarik dalam perjalanan ekspedisi alam Riau, yakni Gunung Djadi.
Gunung Djadi berada di kawasan hulu Sungai Kampar, tepatnya di sekitar Desa Sungai Santi, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar. Lokasinya berada dalam kawasan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling, salah satu kawasan konservasi penting di Riau.
Nama Gunung Djadi mulai banyak dikenal setelah sebuah tim ekspedisi melakukan perjalanan pada 29 Desember 2011 hingga 4 Januari 2012 untuk menelusuri dan memverifikasi keberadaan gunung yang selama ini dikenal masyarakat setempat.
Ekspedisi yang dikenal sebagai Ekspedisi 12-12 tersebut menempuh perjalanan sekitar 18 kilometer menuju kawasan Gunung Djadi. Tim harus melewati sedikitnya 10 bukit dan tujuh anak sungai sebelum mencapai kawasan puncak.
Catatan ekspedisi menunjukkan medan menuju lokasi cukup berat. Tim juga harus mengandalkan informasi dari masyarakat setempat untuk mengetahui keberadaan gunung yang pada saat itu belum banyak terdokumentasikan.
Setelah perjalanan selama beberapa hari, tim akhirnya berhasil mencapai puncak pada awal Januari 2012. Dokumentasi tersebut kemudian menjadi salah satu catatan penting dalam memperkenalkan Gunung Djadi sebagai salah satu gunung yang berada di Provinsi Riau.
Menariknya, sebutan Gunung Jadi atau Djadi telah dikenal masyarakat lokal. Karena itu, istilah “ditemukan” dalam konteks ekspedisi lebih tepat dipahami sebagai proses verifikasi dan pendokumentasian oleh tim ekspedisi, bukan bahwa keberadaan gunung tersebut sebelumnya sama sekali tidak diketahui.
BACA JUGA: Mengenal Gunung Barujari, Gunungapi di Tengah Danau Segara Anak Rinjani
Gunung Djadi memiliki ketinggian yang dalam sejumlah sumber disebut sekitar 1.100 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sementara data pemetaan geospasial yang tersedia mencatat titik puncaknya sekitar 1.091 mdpl.
Sejumlah laporan mengenai Gunung Djadi juga menyebut kawasan puncaknya memiliki karakter medan terjal. Riau Online, misalnya, melaporkan Gunung Djadi memiliki dua puncak dengan kemiringan yang disebut mencapai sekitar 75 derajat.
Karakter tersebut membuat perjalanan menuju Gunung Djadi bukan sekadar pendakian biasa. Kawasan ini lebih tepat dipandang sebagai medan ekspedisi yang membutuhkan kemampuan navigasi, kesiapan fisik, serta pemahaman terhadap kondisi hutan.
Hal yang tidak kalah penting adalah posisi Gunung Djadi di dalam kawasan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling.
Menurut Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), SM Bukit Rimbang Bukit Baling memiliki luas sekitar 141.880,2 hektare dan berada di wilayah Riau serta Sumatera Barat.
Balai Besar KSDA Riau juga mencatat kawasan tersebut sebagai habitat berbagai satwa liar, termasuk harimau sumatera yang merupakan salah satu satwa terancam punah. Pada 2023, BBKSDA Riau bahkan mengukuhkan kader konservasi dari sembilan desa di dalam dan sekitar kawasan tersebut untuk memperkuat keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan kawasan konservasi.
Kondisi ini membuat cerita tentang Gunung Djadi tidak bisa dilepaskan dari konteks kawasan hutan yang lebih luas. Keberadaannya bukan hanya menarik dari sisi petualangan, tetapi juga berkaitan dengan bentang alam dan ekosistem penting di Kampar Kiri Hulu.
BACA JUGA: Jangan Panik! Ini Cara Aman Menghadapi Babi Hutan di Gunung
Akses menuju Gunung Djadi juga menjadi bagian dari daya tarik ekspedisinya. Sejumlah laporan menyebut perjalanan dari arah Pekanbaru menuju kawasan ini harus melalui Desa Tanjung Belit, kemudian perjalanan dilanjutkan menggunakan perahu tradisional atau piyau menuju Desa Pangkalan Serai.
Setelah memasuki kawasan hutan, perjalanan menuju puncak membutuhkan waktu dan kemampuan navigasi yang memadai. Riau Online melaporkan jalur Gunung Djadi tidak memiliki pos pendakian seperti gunung-gunung populer di Jawa, melainkan terdapat sejumlah titik shelter atau checkpoint.
Karena kondisi jalurnya yang tidak sederhana, Gunung Djadi tidak dapat disamakan dengan destinasi pendakian massal. Perjalanan ke kawasan ini membutuhkan persiapan lebih matang dan pemahaman mengenai aturan kawasan konservasi.
Keberadaan Gunung Djadi memperlihatkan bahwa Kampar memiliki bentang alam yang jauh lebih beragam daripada yang selama ini banyak dikenal.
Di kawasan sekitar Gunung Djadi terdapat hutan, sungai, perbukitan, serta berbagai potensi keanekaragaman hayati. Sejumlah catatan perjalanan juga menyebut keberadaan air terjun dan vegetasi hutan seperti damar, meranti, kruing, anggrek hutan, kantong semar, rotan, hingga manau. Namun, informasi mengenai jenis dan persebaran flora tersebut sebaiknya dipandang sebagai catatan ekspedisi dan bukan sebagai inventarisasi ilmiah menyeluruh.
Lebih dari sekadar tujuan petualangan, Gunung Djadi menjadi pengingat bahwa masih ada banyak sudut alam Riau yang belum dikenal luas.
Bentang alam di pedalaman Kampar Kiri Hulu menyimpan cerita tentang masyarakat lokal, ekspedisi, hutan konservasi, serta kekayaan alam yang masih perlu dijaga.
Bagi dunia pendakian dan ekspedisi, Gunung Djadi mungkin tidak setenar gunung-gunung di Pulau Jawa atau Sumatera lainnya. Namun, justru karena itulah kisahnya menarik: sebuah gunung di tengah bentang hutan Kampar yang mulai dikenal luas setelah perjalanan panjang untuk mendokumentasikan keberadaannya.
(mc/mg)





