
Sungai Qolbu di Gunung Argopuro – Foto: BBKSDA Jatim
Mounture.com — Kelimutu Outdoor Indonesia memberikan klarifikasi terkait aktivitas sejumlah pendaki di kawasan Cagar Alam Sungai Qolbu-Gunung Argopuro yang sebelumnya ramai beredar di media sosial.
Melalui surat pernyataan tertanggal 24 Agustus 2026, Kelimutu Outdoor Indonesia menjelaskan kronologi kejadian sekaligus menegaskan bahwa aktivitas yang dilakukan sejumlah pendaki tersebut bukan merupakan arahan maupun bagian dari kegiatan mereka.
Klarifikasi tersebut disampaikan setelah muncul perhatian dan sorotan masyarakat terhadap aktivitas di kawasan sumber mata air Sungai Qolbu.
Dalam pernyataannya, Kelimutu Outdoor Indonesia, menyebut telah melakukan komunikasi dengan berbagai pihak untuk mendapatkan informasi mengenai kejadian tersebut. Informasi diperoleh dari tim yang bertugas di lapangan maupun peserta kegiatan pada saat kejadian.
Kelimutu Outdoor Indonesia, menjelaskan bahwa sebelum keberangkatan, Team Leader (TL) telah memberikan briefing kepada seluruh peserta pendakian.
Briefing tersebut mencakup berbagai hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama kegiatan, termasuk larangan mandi di area sumber mata air.
Ketika rombongan tiba di Camp Area Cikasur, beberapa pendaki disebut sempat meminta izin kepada Team Leader untuk mandi di area Sungai Qolbu. Namun, menurut Kelimutu Outdoor Indonesia, permintaan tersebut ditolak oleh Team Leader.
BACA JUGA: Pendaki 16 Tahun Terjatuh ke Jurang Gunung Sumbing, Ditemukan Meninggal Dunia
Setelah mendapat larangan dari Team Leader, pendaki yang bersangkutan kemudian disebut meminta izin kepada beberapa porter lokal untuk melakukan aktivitas membersihkan badan di kawasan Sungai Qolbu.
Kelimutu Outdoor Indonesia menjelaskan, izin yang diberikan porter hanya sebatas membersihkan badan di pinggir sungai.
Aktivitas tersebut juga disebut memiliki sejumlah batasan, yakni tidak menggunakan sabun dan tidak berendam di sumber mata air. Terlebih, di kawasan tersebut telah terpasang plang larangan mandi.
Namun, dalam pelaksanaannya, terdapat aktivitas yang menurut Kelimutu Outdoor Indonesia tidak sesuai dengan izin yang diberikan.
Kelimutu Outdoor Indonesia menegaskan bahwa aktivitas tersebut dilakukan tanpa sepengetahuan Team Leader. Karena itu, pihaknya menyatakan aktivitas tersebut bukan arahan maupun bagian dari kegiatan Kelimutu Outdoor Indonesia.
“Kelimutu Outdoor Indonesia sangat menyayangkan adanya kejadian tersebut karena tidak sejalan dengan etika pendakian dan aturan kawasan,” demikian inti pernyataan yang disampaikan.
Pihak Kelimutu Outdoor Indonesia juga menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang muncul setelah kejadian tersebut menjadi perhatian publik.
BACA JUGA: Cara Menghilangkan Pegal Setelah Naik Gunung, Pendaki Wajib Tahu
Sebagai bentuk tanggung jawab, Kelimutu Outdoor Indonesia menyatakan telah melakukan evaluasi internal. Evaluasi tersebut mencakup penegasan kembali kepada tim maupun pendaki yang bersangkutan mengenai pentingnya mematuhi aturan kawasan serta menerapkan etika selama melakukan aktivitas di alam bebas.
Selain itu, Kelimutu Outdoor Indonesia berencana memperketat pengawasan selama kegiatan pendakian. Setiap pelanggaran yang terjadi selama kegiatan juga akan dijadikan bahan evaluasi untuk meningkatkan sistem pendampingan dan pengawasan di lapangan.
Dalam surat pernyataannya, Kelimutu Outdoor Indonesia menyebut bahwa pihak penyelenggara memiliki tanggung jawab untuk memastikan adanya briefing, pendampingan, dan pengawasan selama pendakian.
Namun, di sisi lain, setiap pendaki juga memiliki tanggung jawab untuk mematuhi arahan yang telah diberikan serta menjaga etika ketika berada di kawasan alam.
Pihak Kelimutu Outdoor Indonesia berharap kejadian di Sungai Qolbu dapat menjadi pembelajaran bersama bagi penyelenggara maupun para pendaki.
Mereka juga menyatakan akan terus terbuka terhadap kritik dan saran dari masyarakat sebagai bagian dari proses evaluasi.
Pada akhirnya, Kelimutu Outdoor Indonesia mengajak para pendaki untuk lebih bertanggung jawab dalam menjaga lingkungan dan menaati aturan kawasan konservasi.
Sebab, aktivitas pendakian bukan hanya tentang mencapai tujuan, tetapi juga tentang menjaga alam agar tetap lestari dan dapat dinikmati oleh generasi berikutnya.
(mc/pd)





