Berapa Jumlah Kawah Gunung Ciremai? Ini Fakta Dua Kawah Ganda dan Bahaya Turun ke Dasar Kawah

Kawah Gunung Ciremai

Foto: Instagram/@andrearamadhaan

Mounture.com — Gunung Ciremai tidak hanya dikenal sebagai gunung tertinggi di Jawa Barat, tetapi juga memiliki karakteristik geologi yang unik. Salah satu daya tariknya adalah dua kawah ganda yang berada di kawasan puncak, yaitu Kawah Barat dan Kawah Timur.

Meski menawarkan panorama yang memukau, kawasan kawah menyimpan potensi bahaya yang tidak boleh diabaikan. Pendaki diimbau untuk menikmati keindahan kawah dari bibir puncak tanpa mencoba turun ke dasar kawah karena risiko gas beracun, medan yang curam, dan potensi longsor.

Banyak pendaki bertanya, berapa jumlah kawah Gunung Ciremai? Dikutip dari laman Direktorat Jenderal KSDAE, disebutkan Gunung Ciremai memiliki dua kawah utama, yaitu Kawah Barat dan Kawah Timur, yang berada berdampingan di area puncak.

1. Kawah Barat

Kawah Barat memiliki bentuk menyerupai setengah lingkaran dan sebagian sisinya terpotong oleh Kawah Timur.

Di bagian tepi barat terdapat bukit lava yang dikenal sebagai Sunan Cirebon dengan ketinggian 3.078 meter di atas permukaan laut (mdpl). Titik ini merupakan puncak tertinggi Gunung Ciremai.

Tak jauh dari sana terdapat titik tinggi lainnya, yaitu Pangeran Talaga dengan ketinggian 3.058 mdpl. Berdasarkan catatan sejarah pendakian, Kawah Barat diperkirakan terbentuk pada 1698.

2. Kawah Timur

Kawah Timur memiliki usia yang lebih muda dibandingkan Kawah Barat. Kawah ini diperkirakan terbentuk pada 1924 dan berbentuk lebih membulat. Hingga kini, Kawah Timur menjadi pusat aktivitas vulkanik Gunung Ciremai.

Di kawasan ini terdapat dua bukit lava, yaitu Lawang Gede (3.046 mdpl), dan Sunan Mataram (3.046 mdpl). Gabungan dua kawah tersebut memiliki diameter terpanjang sekitar 841 meter.

Sementara itu, jarak dari bibir kawah menuju dasar kawah mencapai sekitar 600 meter, dengan estimasi kedalaman sekitar 427,9 meter.

BACA JUGA: Simak! Pendakian Puncak Carstensz Pyramid Kini Wajib Lewat TO Resmi

Salah satu hal yang perlu diwaspadai pendaki adalah kondisi bibir kawah. Jalur yang mengelilingi kawah memiliki panjang sekitar 2 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 1 hingga 2 jam.

Namun, lebar jalurnya hanya berkisar 1 hingga 4 meter, sehingga pendaki harus ekstra hati-hati, terutama saat angin bertiup kencang.

Pada musim kemarau, dasar kawah umumnya terlihat kering. Meski demikian, pendaki masih dapat melihat kepulan tipis asap belerang disertai aroma gas yang cukup menyengat.

Saat musim hujan, sebagian dasar kawah biasanya tergenang air berwarna hijau kebiruan.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa pendaki dilarang turun ke dasar kawah. Selain berpotensi mengandung gas vulkanik beracun, medan menuju dasar kawah juga sangat curam dan labil sehingga membahayakan keselamatan.

Selain dua kawah utama di puncak, Gunung Ciremai juga memiliki struktur kawah lain di lereng barat yang dikenal sebagai Goa Walet.

Goa yang berada di ketinggian sekitar 2.950 mdpl ini terbentuk akibat erupsi samping pada 1917.

Di dalamnya terdapat formasi batuan yang menyerupai stalaktit dan stalagmit dengan tetesan air. Namun, air tersebut tidak dianjurkan untuk dikonsumsi karena diduga mengandung unsur belerang.

BACA JUGA: 5 Cara Mengatasi Dingin di Gunung Saat Mendaki, Jangan Sampai Salah!

Puncak dan kawah merupakan tujuan utama banyak pendaki Gunung Ciremai. Panorama pegunungan yang terbentang dari ketinggian menjadi hadiah setelah perjalanan panjang menuju puncak.

Namun, keindahan tersebut harus dinikmati dengan tetap mengutamakan keselamatan.

Pendaki cukup menikmati pemandangan dari bibir kawah, mengabadikan momen, dan mematuhi seluruh aturan yang berlaku. Turun ke dasar kawah bukan hanya berbahaya, tetapi juga dapat mengancam keselamatan akibat gas vulkanik, longsoran material, serta kondisi medan yang ekstrem.

(mc/pd)