
Mounture.com — Matcha kini bukan lagi sekadar minuman teh hijau khas Jepang. Di tengah gaya hidup modern yang serba cepat, ritual menikmati matcha perlahan mulai menjadi bagian dari self-care dan momen rehat bagi banyak anak muda.
Mulai dari ceremonial matcha di pagi hari, dirty matcha untuk menemani deadline, hingga strawberry matcha saat akhir pekan, tren ini berkembang bukan hanya karena rasa, tetapi juga pengalaman yang dihadirkan.
Ritual sederhana seperti menyeduh matcha perlahan, mengaduk menggunakan bamboo whisk, hingga menikmati foam lembut di atas permukaannya kini menjadi bagian dari gaya hidup yang identik dengan ketenangan dan mindfulness.
Sebelum aktivitas dimulai dan pekerjaan mengambil alih fokus, banyak orang mulai meluangkan waktu beberapa menit untuk menikmati ceremonial matcha sebagai ritual pagi.
Ceremonial grade matcha dikenal memiliki karakter rasa yang lebih halus, lembut, dan nyaman dinikmati tanpa tambahan pemanis maupun susu.
Proses penyeduhannya pun menjadi bagian penting dari pengalaman tersebut. Bubuk matcha dituangkan ke dalam mangkuk, diseduh menggunakan air hangat, lalu di-whisk hingga menghasilkan foam halus di permukaan.
Gerakan repetitif saat mengaduk matcha justru menjadi bagian yang menenangkan. Aroma lembut, warna hijau pekat, serta rasa earthy dan umami menghadirkan sensasi rileks sebelum menjalani hari yang sibuk.
Untuk menghadirkan nuansa Japanese tea ritual di rumah, berbagai perlengkapan seperti matcha bowl, bamboo whisk, hingga chasen holder kini juga semakin mudah ditemukan.
BACA JUGA: Datascrip Luncurkan Program “Daur Sampah Jadi Bermakna”, Botol Tinta Disulap Jadi Meja Belajar
Saat memasuki tengah hari dan fokus mulai menurun, matcha latte maupun dirty matcha sering menjadi pilihan untuk mengembalikan mood.
Matcha latte menawarkan rasa yang creamy dan lembut, terutama ketika dipadukan dengan oat milk, fresh milk, atau susu favorit lainnya.
Sementara itu, dirty matcha menghadirkan perpaduan karakter earthy dari matcha dengan rasa bold espresso yang lebih kuat.
Minuman ini biasanya disajikan dengan es batu dan lapisan espresso di atas matcha latte, menciptakan tampilan estetik sekaligus rasa yang unik.
Popularitas dirty matcha pun meningkat karena dianggap mampu menjadi “pelarian singkat” di tengah padatnya aktivitas dan deadline pekerjaan.
BACA JUGA: Tren F&B Kian Dominan di Industri Perhotelan Bali, Jadi Penentu Pengalaman Menginap
Di sisi lain, strawberry matcha kini mulai banyak digemari sebagai pilihan minuman akhir pekan.
Perpaduan rasa manis dan segar dari strawberry puree dengan karakter matcha yang earthy menghasilkan minuman creamy namun tetap terasa ringan.
Minuman ini kerap menjadi pilihan setelah berbagai aktivitas santai seperti brunch bersama teman, olahraga sore, atau sekadar menikmati waktu santai di rumah.
Penyajiannya pun cukup sederhana. Bubuk matcha diseduh menggunakan air hangat bersuhu sekitar 70–80 derajat Celsius agar rasa dan warnanya tetap terjaga, lalu di-whisk hingga menghasilkan foam lembut.
Setelah itu, matcha dituangkan ke dalam gelas berisi es batu, susu, dan strawberry puree untuk menciptakan kombinasi rasa segar sekaligus comforting.
Di tengah kehidupan digital yang serba cepat, tren matcha kini berkembang menjadi simbol slow living modern.
Bukan hanya soal minuman, tetapi juga tentang menciptakan jeda kecil untuk diri sendiri di sela rutinitas yang padat.
Ritual sederhana seperti menyeduh matcha perlahan, menikmati aromanya, hingga fokus pada setiap proses pembuatannya dianggap mampu membantu menciptakan rasa tenang dan lebih mindful.
Tak heran jika matcha kini semakin identik dengan gaya hidup sehat, estetik, sekaligus bentuk self-reward sederhana bagi banyak anak muda.
(mc/pd)





