Sulit Dievakuasi, Ini Alasan Jenazah Pendaki Dimakamkan di Gunung Leuser

Ekspedisi Leuser

Foto: Instagram/@gunungleusernationalpark

Mounture.com — Kabar duka datang dari kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. Seorang pendaki bernama Kris Biantoro dilaporkan meninggal dunia akibat hipotermia saat melakukan pendakian pada 9 April 2026.

Korban ditemukan di KM 44 atau yang dikenal sebagai “lapangan bola”, salah satu titik di jalur pendakian yang memiliki medan berat dan kondisi cuaca yang tidak bersahabat.

Upaya evakuasi sebenarnya telah dilakukan sejak 10 April 2026 oleh tim gabungan yang terdiri dari Polres Gayo Lues, Brimob, serta petugas Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL).

Sehari setelahnya, tim tambahan dari Basarnas Aceh Tenggara turut dikerahkan untuk membantu proses evakuasi.

Namun, kondisi medan yang ekstrem menjadi hambatan utama. Jalur yang panjang, curam, serta akses yang terbatas membuat proses evakuasi tidak dapat berjalan optimal. Bahkan, upaya evakuasi melalui jalur udara tidak dapat dilakukan karena keterbatasan helikopter yang tersedia.

Akhirnya, evakuasi hanya memungkinkan dilakukan melalui jalur darat yang memerlukan waktu lebih lama serta risiko tinggi.

BACA JUGA: Aplikasi Ayo ke Taman Nasional Resmi Diperkenalkan, Pesan Tiket TN dan TWA Kini Bisa dalam Satu Platform

Setelah melalui komunikasi intens antara tim di lapangan dan pihak keluarga, keputusan pun diambil. Keluarga korban mengikhlaskan jenazah untuk dimakamkan di lokasi terdekat dari jalur pendakian.

Langkah ini diambil dengan mempertimbangkan kondisi medan yang sangat berat, keselamatan tim evakuasi, serta kebutuhan penanganan jenazah yang harus segera dilakukan.

Perwakilan keluarga yang datang langsung ke Blangkejeren memahami situasi di lapangan dan memberikan persetujuan atas pemakaman tersebut.

Kasus ini kembali menegaskan bahwa Gunung Leuser merupakan salah satu gunung dengan tingkat kesulitan tinggi di Indonesia.

Hipotermia menjadi ancaman serius bagi para pendaki, terutama jika tidak didukung dengan perlengkapan yang memadai dan perencanaan yang matang. Suhu dingin, hujan, serta kondisi hutan lebat dapat mempercepat penurunan suhu tubuh secara drastis.

Pihak pengelola taman nasional mengimbau para pendaki untuk selalu mempersiapkan diri dengan baik sebelum melakukan pendakian, termasuk memahami kondisi jalur, cuaca, serta membawa perlengkapan yang sesuai standar keselamatan.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keselamatan harus menjadi prioritas utama dalam setiap aktivitas pendakian.

(mc/ril)