Kebakaran Hutan Terjadi di Sejumlah Gunung, Begini Teknik Pemadamannya

Pemadam Api di Hutan

Mounture.com — Belakangan ini, kebakaran hutan dan lahan atau karhutla kembali terjadi di sejumlah wilayah pegunungan di Indonesia. Salah satu yang terbaru terjadi di kawasan Gunung Lawu, dengan area terdampak kebakaran mencapai hampir ribuan hektare.

Kebakaran hutan bukan hanya mengancam vegetasi dan ekosistem, tetapi juga dapat membahayakan masyarakat, pendaki, petugas, hingga warga yang tinggal di sekitar kawasan terdampak.

Dalam kondisi seperti ini, proses pemadaman membutuhkan strategi dan peralatan yang sesuai. Dikutip dari laman Arei Outdoor Gear, terdapat sejumlah teknik memadamkan kebakaran hutan yang dapat diterapkan sesuai kondisi medan dan skala kebakaran.

Namun, pemadaman karhutla merupakan pekerjaan berisiko tinggi. Penanganannya harus dilakukan oleh petugas atau tim yang memiliki pelatihan, peralatan, serta koordinasi dengan pihak berwenang.

Berikut beberapa teknik yang digunakan dalam pemadaman kebakaran hutan.

1. Membuat sekat atau garis api

Salah satu teknik memadamkan kebakaran hutan adalah membuat sekat api atau garis api untuk memisahkan area yang terbakar dengan wilayah yang belum terbakar.

Sekat api dapat dibuat dengan membersihkan vegetasi dan bahan mudah terbakar di jalur tertentu. Tujuannya untuk mengurangi atau menghentikan penyebaran api, terutama ketika api bergerak mengikuti arah angin dan kondisi vegetasi. Pembuatan sekat api harus mempertimbangkan kondisi medan, arah angin, jenis vegetasi, serta perilaku api.

2. Penyiraman menggunakan air

Air dapat digunakan untuk menurunkan suhu dan memadamkan api. Pada kebakaran dengan skala tertentu, petugas dapat menggunakan selang, pompa air, kendaraan pemadam, maupun sumber air lainnya.

Untuk kebakaran yang sulit dijangkau melalui jalur darat, pemadaman dari udara juga dapat dilakukan menggunakan helikopter atau pesawat yang membawa air. Efektivitas teknik ini sangat bergantung pada ketersediaan sumber air, akses menuju lokasi, kondisi cuaca, serta luas area yang terbakar.

3. Mengurangi bahan bakar api

Api membutuhkan bahan bakar untuk terus menyala. Karena itu, salah satu langkah dalam pemadaman karhutla adalah mengurangi material yang berpotensi memperbesar kebakaran.

Bahan tersebut dapat berupa rumput kering, ranting, daun kering, semak, maupun vegetasi lain yang mudah terbakar. Pengurangan bahan bakar dapat dilakukan sebagai bagian dari strategi pengendalian kebakaran, terutama untuk memperlambat laju penjalaran api.

BACA JUGA: Deretan Tempat Bersejarah di Indonesia yang Bisa Jadi Destinasi Liburan

4. Menggunakan alat berat

Pada kondisi tertentu, alat berat seperti ekskavator atau traktor dapat digunakan untuk membantu membuat sekat api.

Alat berat memungkinkan petugas membersihkan vegetasi dalam area yang lebih luas dan membuat jalur pemisah antara area yang terbakar dengan area yang belum terbakar.

Penggunaannya tetap harus disesuaikan dengan kondisi medan dan arahan tim pengendali kebakaran karena medan hutan dan pegunungan memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda.

5. Pemadaman dari udara

Pemadaman udara menjadi salah satu metode yang dapat digunakan ketika titik api sulit dijangkau oleh tim di darat atau ketika luas kebakaran membutuhkan penanganan tambahan.

Helikopter maupun pesawat khusus dapat membawa air atau bahan pemadam tertentu untuk dijatuhkan ke area kebakaran.

Metode ini membutuhkan koordinasi yang sangat ketat karena penerbangan dilakukan di sekitar kawasan yang sedang mengalami kebakaran dan dapat dipengaruhi kondisi cuaca, asap, angin, serta kontur wilayah.

6. Pemadaman secara manual

Pada lokasi yang memungkinkan dijangkau petugas, pemadaman dapat dilakukan secara manual menggunakan peralatan seperti sekop, cangkul, pemukul api, dan peralatan pemadam lainnya.

Petugas dapat mengurangi bahan bakar di sekitar api, membuat sekat, atau menangani titik api kecil agar tidak meluas.

Meski menggunakan alat sederhana, metode ini tetap memiliki risiko tinggi. Tim di lapangan harus memperhatikan perubahan arah angin, asap, suhu, serta kemungkinan munculnya api baru.

7. Menggunakan bahan pemadam

Selain air, dalam kondisi tertentu dapat digunakan bahan pemadam khusus untuk membantu mengendalikan api.

Bahan seperti busa atau retardant dapat digunakan sesuai kebutuhan dan prosedur yang berlaku. Penggunaannya harus mempertimbangkan kondisi lingkungan serta jenis material yang terbakar.

Karena itu, penggunaan bahan pemadam bukan sesuatu yang dilakukan secara sembarangan dan harus mengikuti standar operasional serta arahan petugas terkait.

8. Melakukan pemantauan setelah api padam

Api yang terlihat sudah padam belum tentu berarti kebakaran benar-benar selesai. Bara atau titik panas yang tersisa dapat kembali memicu kebakaran, terutama ketika kondisi kembali kering atau tertiup angin.

Karena itu, pemadaman kebakaran hutan perlu dilanjutkan dengan pemantauan dan pendinginan pada area terdampak.

Petugas dapat melakukan pengecekan kembali untuk memastikan tidak ada bara atau titik api yang berpotensi kembali menyala. Lamanya pemantauan bergantung pada kondisi kebakaran dan kawasan yang terdampak.

9. Koordinasi dan evakuasi

Penanganan karhutla membutuhkan koordinasi antara berbagai pihak, mulai dari petugas pemadam, pengelola kawasan, pemerintah daerah, aparat keamanan, relawan, hingga masyarakat.

Jika kebakaran mengancam permukiman, fasilitas umum, jalur pendakian, atau lokasi wisata, langkah evakuasi juga perlu dilakukan berdasarkan arahan pihak berwenang.

Dalam situasi kebakaran hutan, keselamatan manusia harus menjadi prioritas. Masyarakat maupun pendaki sebaiknya tidak mendekati lokasi kebakaran untuk melihat kondisi secara langsung.

10. Mematuhi aturan dan prosedur keselamatan

Teknik pemadaman kebakaran hutan harus dilakukan sesuai aturan dan prosedur yang berlaku. Pemadaman bukan pekerjaan yang aman untuk dilakukan secara mandiri tanpa pengetahuan, pelatihan, dan perlengkapan yang memadai.

Perubahan arah angin, medan terjal, asap, suhu tinggi, pohon tumbang, serta munculnya titik api baru dapat membuat kondisi di lapangan berubah dengan cepat.

Karena itu, masyarakat yang menemukan kebakaran hutan sebaiknya segera melaporkannya kepada pihak berwenang dan tidak mengambil risiko dengan mencoba memadamkan kebakaran besar seorang diri.

BACA JUGA: Buat Pendaki Wanita, Ini Tips Tetap Fresh dan Stylish Saat Naik Gunung

Kebakaran hutan dapat berkembang dengan cepat, terutama ketika kondisi vegetasi kering, angin kencang, dan cuaca mendukung penyebaran api. Karena itu, cara memadamkan kebakaran hutan tidak bisa dilakukan dengan satu metode saja.

Pemilihan teknik harus disesuaikan dengan luas kebakaran, kondisi medan, cuaca, jenis vegetasi, akses menuju lokasi, hingga ketersediaan sumber daya.

Yang paling penting, pemadaman karhutla harus dilakukan oleh personel yang memiliki kemampuan dan perlengkapan sesuai. Bagi masyarakat umum, langkah paling aman adalah menjauh dari area kebakaran dan segera melaporkan kejadian kepada petugas atau pihak berwenang.

(mc/mg)