
Mounture.com — Konstantin Zulske membuktikan bahwa isu lingkungan tidak mengenal batas negara. Demi menyuarakan kampanye penyelamatan tanah global melalui gerakan Save Soil, ia menempuh perjalanan lebih dari 17.000 kilometer menggunakan sepeda melintasi berbagai negara, mulai dari Jerman Timur, India, hingga Indonesia.
Perjalanan panjang tersebut menjadi bagian dari misi #cyclingforsoil yang bertujuan meningkatkan kesadaran dunia terhadap krisis degradasi tanah yang terus memburuk di berbagai wilayah.
Saat ini Konstantin Zulske berada di Jakarta setelah menyelesaikan perjalanan di sejumlah daerah Indonesia dan Bali. Dalam wawancara bersama India News Desk di Taman Menteng, ia menceritakan pengalaman bersepeda lintas negara sekaligus pentingnya menjaga kesehatan tanah bagi masa depan manusia.
Gerakan Save Soil pertama kali digagas oleh Sadhguru bersama Isha Foundation sebagai kampanye global untuk meningkatkan perhatian terhadap degradasi tanah.
Menurut Konstantin, para ilmuwan telah lama memperingatkan bahwa sekitar 52 persen tanah produktif dunia mengalami degradasi. Dampaknya tidak hanya memengaruhi sektor pertanian, tetapi juga berkaitan langsung dengan ketahanan pangan, hilangnya keanekaragaman hayati, perubahan iklim, hingga migrasi manusia.
“Semua orang berbicara tentang perubahan iklim dan krisis air. Namun hampir tidak ada yang membicarakan soal tanah,” ujarnya.
Sebagai lulusan ilmu tanah sekaligus pecinta sepeda jarak jauh, Konstantin merasa gerakan Save Soil menjadi perpaduan sempurna antara minat pribadi dan tujuan hidupnya.
“Saya suka bersepeda, saya suka menyelamatkan tanah. Jadi itulah yang mendorong saya melakukan sesuatu yang cukup gila,” katanya sambil tertawa.
Meski telah melintasi banyak negara, Konstantin menyebut Indonesia sebagai salah satu tantangan paling berat secara fisik dalam seluruh perjalanan #cyclingforsoil.
Setelah enam bulan tinggal di India untuk fokus pada yoga dan meditasi tanpa bersepeda, ia langsung memulai perjalanan dari Jakarta menuju Bandung melalui jalur Puncak. Di tengah perjalanan, ia mengalami gangguan pencernaan dan nyeri lutut saat harus menghadapi medan menanjak.
Namun kesulitan tersebut justru tergantikan oleh berbagai pengalaman yang menurutnya sangat membekas selama berada di Indonesia.
Ia mengaku terkejut ketika pertama kali tiba di Jakarta saat momen Idulfitri karena suasana kota sangat sepi dibandingkan Mumbai yang padat dan ramai.
Ketika kembali melanjutkan perjalanan, ia juga merasakan antusiasme masyarakat Indonesia yang dianggapnya sangat unik.
“Semua orang sangat antusias melihat saya,” ujarnya sambil tertawa mengingat teriakan “Mister!” dan “Bule!” yang terus terdengar sepanjang perjalanan.
BACA JUGA: Cara Membuat Paspor Baru 2026, Lengkap Syarat, Prosedur, dan Biayanya
Salah satu pengalaman paling membekas bagi Konstantin adalah saat mengunjungi Gunung Bromo.
Ia mengaku terpesona saat melihat gunung berapi secara langsung untuk pertama kalinya. Perjalanan menuruni jalur menuju Probolinggo di bawah cahaya bulan menjadi salah satu momen favoritnya selama menjelajahi Indonesia.
Konstantin menggambarkan suasana garis pantai, jalanan malam yang diterangi bulan, hingga area penuh kunang-kunang sebagai pengalaman yang sulit dilupakan.
Selain panorama alam, ia juga memuji keramahan masyarakat Indonesia.
“Orang Indonesia sangat ramah dan menyenangkan,” katanya.
Mulai dari sekolah, universitas, hingga warga lokal yang menawarkan tempat tinggal dan makanan, Konstantin merasa selalu diterima selama perjalanannya di Indonesia.
Bagi Konstantin, perjalanan lintas negara tersebut bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan personal dan spiritual.
Waktu panjang yang dihabiskan sendirian di jalan membuatnya memiliki ruang untuk memahami apa yang benar-benar penting dalam hidup.
Ia juga mengaku perjalanan tersebut mengubah cara pandangnya terhadap manusia di berbagai negara, termasuk wilayah yang sering dikaitkan dengan konflik politik.
“Pada akhirnya, manusia tetaplah manusia,” ujarnya.
Meski banyak membawa pengalaman positif, Konstantin mengatakan ia juga melihat langsung dampak degradasi lingkungan selama perjalanan, mulai dari pembakaran sisa tanaman hingga sungai-sungai yang mulai mengering.
Karena itu, ia berharap gerakan Save Soil dapat mendorong lebih banyak orang untuk peduli terhadap kesehatan tanah sebelum dampaknya semakin sulit dikendalikan.
(mc/pd)






