
Mounture.com — Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat resmi menerapkan uji coba sistem pemesanan tiket online untuk wisata Pendakian Gunung Kerinci dan Danau Gunung Tujuh mulai 22 Mei 2026.
Kebijakan tersebut dilakukan sebagai bagian dari penerapan digitalisasi layanan publik, peningkatan transparansi, serta optimalisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) wisata alam.
Penerapan sistem baru ini juga menindaklanjuti arahan Direktorat Jenderal KSDAE melalui memorandum Nomor M31/KSDAE/PJLKSA.04.02/B/4/2026 terkait percepatan penggunaan aplikasi AyoKeTamanNasional.
Mulai tanggal kunjungan Jumat, 22 Mei 2026, seluruh pemesanan tiket masuk wisata pendakian Gunung Kerinci dan Danau Gunung Tujuh dilakukan secara online melalui website AyoKeTamanNasional, atau Aplikasi AyoKeTamanNasional yang tersedia di Play Store.
Pendaki diwajibkan melakukan registrasi terlebih dahulu untuk mendapatkan TN Identitas atau nomor registrasi yang nantinya digunakan saat proses verifikasi di pintu masuk pendakian.
Selain melalui aplikasi dan website, proses validasi tiket juga dapat dibantu oleh petugas loket di pintu masuk wisata pendakian dengan menunjukkan nomor registrasi yang telah didaftarkan secara online.
BACA JUGA: Gunung Gamkonora: Gunung Tertinggi di Halmahera dengan Kawah Eksotis dan Jalur Pendakian Menantang
Dalam sistem baru tersebut, seluruh transaksi pembelian tiket dilakukan secara non tunai atau cashless payment melalui aplikasi AyoKeTamanNasional. Artinya, pendaki maupun wisatawan tidak lagi melakukan pembayaran tunai di lokasi pendakian.
Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pelayanan, mempermudah proses administrasi, sekaligus mendukung transparansi pengelolaan wisata alam di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat.
Dengan diterapkannya sistem online, calon pendaki Gunung Kerinci dan pengunjung Danau Gunung Tujuh diimbau melakukan pemesanan tiket lebih awal untuk menghindari kendala saat registrasi.
Selain itu, wisatawan juga disarankan memastikan koneksi internet dan metode pembayaran digital aktif sebelum melakukan transaksi.
Penerapan sistem digital ini menjadi bagian dari transformasi layanan wisata alam nasional yang kini mulai diterapkan di sejumlah kawasan konservasi Indonesia.
(mc/ril)






