
Foto: Kalara Borneo
Mounture.com — Cokelat tidak selalu meninggalkan rasa manis setelah meleleh di mulut. Ada yang menghadirkan sentuhan asam di akhir, jejak nutty atau menyerupai kacang-kacangan, hingga nuansa buah tropis. Perbedaan karakter rasa tersebut diperkenalkan Kalara Borneo melalui produk cokelat single origin berbahan kakao lokal dari tiga wilayah di Kalimantan Barat, yakni Kapuas Hulu, Sintang, dan Sanggau.
Setiap wilayah memiliki cerita tersendiri, bukan hanya dari karakter rasa cokelat yang dihasilkan, tetapi juga dari lingkungan tempat tanaman kakao tumbuh.
Yessy Octavia R. Tuani Mangasih, Kepala Produksi Kalara Borneo, menjelaskan bahwa cokelat asal Kapuas Hulu memiliki sentuhan asam pada bagian akhir. Karakter tersebut dikaitkannya dengan kondisi kebun kakao yang juga ditanami nanas.
Sementara itu, kakao dari Sintang yang tumbuh di antara pohon karet menghasilkan karakter nutty. Adapun cokelat asal Sanggau, yang berasal dari kebun dengan tanaman durian, memiliki nuansa fruity atau menyerupai buah tropis.
Menurut Yessy, perbedaan tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi penikmat cokelat. Mereka tidak hanya menikmati rasa manis, tetapi juga diajak mengenali karakter rasa yang muncul setelah cokelat meleleh di mulut.
Cerita tentang cokelat lokal Kalimantan Barat tersebut turut dibagikan Yessy dalam Bangkok Climate Action Week (BKKCAW) 2026 di Bangkok, Thailand, pada Oktober lalu.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Koalisi Ekonomi Membumi menggagas Paviliun Ekonomi Berbasis Alam yang mempertemukan pelaku usaha dan komunitas dengan praktik ekonomi yang menjadikan alam sebagai fondasi penghidupan.
“Negara-negara Global South mulai mempertanyakan dan merancang ulang sistem ekonomi agar kesejahteraan masyarakat dapat berjalan seiring dengan kelestarian alam,” ujar Fito Radianto, Direktur Eksekutif Koalisi Ekonomi Membumi.
BACA JUGA: GAPEKA 2026 Berlaku 1 Desember, KAI Tambah 39 Perjalanan Kereta dan 8.466 Kursi per Hari
Konsep single origin yang diperkenalkan Kalara Borneo memberikan kesempatan bagi konsumen untuk mengenali karakter kakao berdasarkan daerah asalnya.
Untuk kakao Kapuas Hulu, sentuhan asam menjadi salah satu karakter yang dirasakan Yessy. Di wilayah tersebut, tanaman kakao tumbuh bersama berbagai tanaman lain, termasuk nanas.
Berbeda dengan Kapuas Hulu, kakao dari Sintang memiliki jejak rasa nutty. Karakter ini berasal dari pengalaman pengecapan Yessy terhadap kakao yang tumbuh di lingkungan kebun dengan pohon karet.
Sementara itu, cokelat Sanggau menghadirkan nuansa fruity. Kakao di wilayah tersebut tumbuh berdampingan dengan tanaman lain, salah satunya durian.
Yessy menegaskan bahwa karakter rasa tersebut merupakan hasil pengamatannya dan tanggapan dari orang-orang yang telah mencicipi produk Kalara.
Bagi penikmat cokelat, ketiganya menawarkan pengalaman berbeda sekaligus memperkenalkan potensi kakao dari berbagai daerah di Kalimantan Barat.
Di balik karakter cokelat Kalara Borneo, terdapat praktik budidaya kakao yang mengandalkan sistem agroforestri atau kebun campuran.
Kakao yang digunakan berasal dari kebun masyarakat. Tanaman tersebut tumbuh bersama berbagai jenis pohon dan tanaman lain, seperti durian, nanas, pisang, kopi, hingga karet.
Menurut Yessy, kakao membutuhkan naungan sehingga dapat dibudidayakan bersama tanaman lain. Praktik tersebut juga berkaitan dengan sistem tembawang, yakni pola pengelolaan kebun yang telah lama dikenal masyarakat adat.
Melalui pendekatan tersebut, pengembangan kakao tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan bahan baku cokelat, tetapi juga mempertahankan keragaman tanaman di kebun masyarakat.
Kalara membeli biji kakao secara langsung dari pekebun untuk kemudian diolah di Pontianak. Perusahaan ini juga memberikan pendampingan mengenai standar kualitas biji kakao yang dapat diterima, termasuk pentingnya proses fermentasi.
Yessy menjelaskan bahwa fermentasi menjadi salah satu tahapan yang turut memengaruhi cita rasa cokelat. Karena itu, kualitas biji yang diterima diperiksa terlebih dahulu untuk menentukan kesesuaiannya dengan standar pengolahan sekaligus menjadi dasar penetapan harga pembelian.
Dengan demikian, proses menghasilkan cokelat berkualitas tidak hanya dimulai ketika biji masuk ke rumah produksi, tetapi sudah berlangsung sejak penanganan hasil panen di tingkat pekebun.
Pembelian langsung dari petani juga membuka akses pasar bagi masyarakat. Bersama organisasi pendamping, Kalara mendorong pekebun untuk kembali merawat kebun campuran yang sempat tidak produktif.
Upaya tersebut diharapkan dapat menjaga sumber penghasilan masyarakat sekaligus mengurangi risiko alih fungsi kebun menjadi perkebunan kelapa sawit.
BACA JUGA: Ray-Ban Meta dan Oakley Meta Resmi Hadir di Indonesia, Harga Mulai Rp8,79 Juta
Kalara Borneo dirintis Yohana Tamara melalui serangkaian percobaan mengolah kakao di dapur rumah. Gagasan awalnya adalah memperkenalkan potensi kakao Kalimantan Barat sekaligus menghadirkan proses pengolahan cokelat di daerah asal bahan bakunya.
Perjalanan tersebut berlangsung melalui berbagai percobaan, pengamatan, dan perbaikan proses produksi.
Kini, kegiatan produksi Kalara melibatkan sekitar sepuluh anak muda yang belajar bersama mengolah biji kakao menjadi cokelat batangan.
Prosesnya melewati sejumlah tahapan, mulai dari pemeriksaan biji, penyangraian, pemecahan, pemisahan kulit, hingga penggilingan sebelum adonan cokelat diproses lebih lanjut dan dicetak.
Menurut Yessy, beberapa tahapan masih membutuhkan penanganan manual. Bahkan, proses penggilingan dapat berlangsung semalaman.
Ketika menghadapi kendala produksi, tim Kalara berdiskusi untuk mencari solusi agar proses pengolahan dapat terus berjalan.
Menariknya, para pekebun juga dapat berkunjung ke rumah produksi untuk melihat secara langsung bagaimana biji kakao hasil panen mereka diolah menjadi produk cokelat. Dengan begitu, petani dapat mengenali hasil akhir dari bahan baku yang selama ini mereka tanam dan jual.
Selain cokelat single origin dari Kapuas Hulu, Sintang, dan Sanggau, Kalara Borneo juga mengembangkan sejumlah varian yang memadukan kakao dengan bahan pangan lokal.
Salah satunya Exotic Maram yang menggunakan maram, buah hutan Kalimantan dengan karakter rasa asam dan segar.
Ada pula Choco Mocha yang memadukan cokelat dengan kopi robusta lokal, serta Coconut Coast yang menghadirkan perpaduan cokelat dan kelapa, salah satu hasil kebun Kalimantan Barat.
Pengembangan varian tersebut menjadi cara Kalara memperkenalkan kekayaan bahan pangan lokal melalui produk cokelat.
Kalara juga menghadirkan kegiatan chocolate tour bagi pengunjung yang ingin mengenal lebih jauh proses pengolahan kakao hingga menjadi cokelat batangan.
Identitas budaya Kalimantan turut diperkenalkan melalui desain kemasan. Salah satu elemen yang digunakan adalah motif bunga terong yang berkaitan dengan tradisi tato pemuda Dayak Iban.
Menurut Yessy, motif tersebut memiliki makna perlindungan.
Bagi Kalara, kemasan bukan sekadar pembungkus produk, melainkan bagian dari cerita tentang masyarakat, budaya, dan lingkungan tempat kakao berasal.
“Kita pengen bahwa chocolate bar yang kita jual itu punya story-nya,” kata Yessy. “Di situ ada cerita tentang petani, di situ ada cerita tentang hutan, di situ ada cerita tentang ekosistem.”
Dari sentuhan asam kakao Kapuas Hulu, jejak nutty dari Sintang, hingga nuansa buah tropis dari Sanggau, Kalara Borneo memperkenalkan kekayaan kakao Kalimantan Barat melalui cokelat single origin.
Lebih dari sekadar produk olahan kakao, setiap batang cokelat membawa cerita tentang kebun masyarakat, petani, keragaman tanaman, serta upaya menjaga ekosistem hutan melalui praktik ekonomi berbasis alam.
(mc/mg)





