
Foto: KAI
Mounture.com — Ada pelanggan yang berangkat dengan kereta setiap pagi untuk bekerja, mahasiswa yang bepergian menuju kampus, pedagang yang membawa hasil usaha, hingga keluarga yang menggunakan kereta api untuk berlibur. Beragam kebutuhan tersebut menunjukkan bagaimana kereta api telah menjadi bagian dari mobilitas masyarakat Indonesia.
Memasuki usia ke-81 tahun pada 28 September 2026, PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI terus mengembangkan layanan mengikuti perubahan kebutuhan masyarakat.
Ekosistem KAI Group kini tidak hanya melayani perjalanan antarkota dan kereta lokal, tetapi juga mencakup transportasi perkotaan, akses bandara, kereta cepat, hingga perjalanan wisata.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, perkembangan perkeretaapian tidak terlepas dari perubahan aktivitas masyarakat dari waktu ke waktu.
“Dahulu, perjalanan kereta api banyak dimaknai sebagai sarana menuju kota lain atau pulang ke kampung halaman. Kini, kereta api menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Ada yang menggunakannya untuk bekerja, sekolah, berdagang, hingga menikmati waktu bersama keluarga,” ujar Anne.
BACA JUGA: 81 Tahun KAI: Sistem Tiket Berubah dari Loket hingga Aplikasi Digital
Perubahan kebutuhan mobilitas tersebut tercermin dalam kinerja KAI Group sepanjang Januari-Agustus 2026. Dalam periode tersebut, seluruh layanan KAI Group mencatat 351.602.397 pelanggan.
Jumlah tersebut meningkat 7,09 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai 328.311.868 pelanggan.
Kontribusi terbesar berasal dari KAI Commuter dengan 277.272.682 pelanggan. Angka tersebut meningkat 6,32 persen dibandingkan 260.797.109 pelanggan pada Januari-Agustus 2025.
Sementara itu, layanan KA Jarak Jauh dan Lokal yang dikelola KAI mencatat 40.379.062 pelanggan atau tumbuh 8,69 persen dibandingkan 37.152.345 pelanggan pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Mobilitas masyarakat di kawasan perkotaan juga tercermin dari layanan LRT Jabodebek yang melayani 21.809.797 pelanggan. Jumlah tersebut meningkat 19,05 persen dibandingkan 18.320.610 pelanggan pada Januari-Agustus 2025.
Menurut Anne, tingginya penggunaan layanan commuter dan LRT menunjukkan peran transportasi massal berbasis rel dalam mendukung aktivitas masyarakat perkotaan.
Salah satu gambaran tingginya mobilitas masyarakat terlihat pada Bogor Line. Sepanjang Januari-Agustus 2026, layanan tersebut mencatat 105.704.913 pelanggan. Jumlah tersebut setara dengan rata-rata sekitar 435 ribu pelanggan setiap hari.
Tingginya volume pelanggan menjadi salah satu pertimbangan KAI dalam meningkatkan kapasitas dan fasilitas pelayanan. Salah satunya melalui pengembangan peron di Stasiun Bogor untuk mendukung operasional rangkaian SF12.
Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan transportasi masyarakat tidak hanya berkaitan dengan perjalanan antarkota, tetapi juga mobilitas harian di kawasan perkotaan.
BACA JUGA: Pulau Nusamanuk di Tasikmalaya, Destinasi Alam di Pesisir Selatan Jawa Barat
Selain kereta commuter, lokal, dan jarak jauh, kebutuhan perjalanan masyarakat kini juga dilayani melalui berbagai moda dalam ekosistem KAI Group.
Layanan Whoosh mencatat 4.078.168 pelanggan sepanjang Januari-Agustus 2026. Jumlah tersebut meningkat 0,68 persen dibandingkan 4.050.791 pelanggan pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, KAI Bandara melayani 4.647.947 pelanggan atau meningkat 0,19 persen dibandingkan 4.639.062 pelanggan pada Januari-Agustus 2025.
Di Sumatra Selatan, LRT Sumsel mencatat 2.965.997 pelanggan. Adapun KA Makassar-Parepare melayani 231.764 pelanggan, tumbuh 13,13 persen dibandingkan 204.856 pelanggan pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Layanan wisata juga menunjukkan pertumbuhan. KAI Wisata mencatat 216.980 pelanggan sepanjang Januari-Agustus 2026, meningkat 49,09 persen dibandingkan 145.537 pelanggan pada periode yang sama pada 2025.
Anne mengatakan setiap layanan memiliki karakteristik pelanggan yang berbeda. Layanan commuter membutuhkan frekuensi dan ketepatan waktu, sedangkan kereta antarkota memberikan pilihan perjalanan antardaerah. Di sisi lain, kereta wisata menawarkan pengalaman perjalanan dengan karakter yang berbeda.
Perubahan kebutuhan masyarakat juga mendorong KAI menghadirkan layanan dengan karakter yang lebih spesifik. Salah satunya adalah Kereta Ekonomi Kerakyatan yang telah melayani 182.208 pelanggan sejak mulai beroperasi pada 2026 hingga 9 September 2026.
Jumlah tersebut terdiri atas 181.900 pelanggan K3 Kerakyatan dan 308 pelanggan Kereta Petani dan Pedagang jarak jauh pada relasi Garut-Pasar Senen dan Pasar Senen-Garut.
Sementara itu, Kereta Petani dan Pedagang pada lintas Merak-Rangkasbitung telah melayani 43.780 pelanggan sejak beroperasi pada 1 Desember 2025 hingga 14 September 2026.
Layanan tersebut menerapkan tarif Rp3.000 untuk sekali perjalanan dan ditujukan untuk mendukung mobilitas masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, termasuk bekerja dan berdagang.
BACA JUGA: TN Komodo Perketat Penertiban Tiket, Kapal Wisata Juga Wajib Penuhi Aturan
Transformasi layanan KAI juga terlihat dari pemanfaatan teknologi digital. Jika sebelumnya pelanggan harus datang ke loket stasiun untuk memperoleh informasi dan membeli tiket, kini berbagai kebutuhan perjalanan dapat dilakukan melalui Access by KAI.
Sepanjang Semester I 2026, Access by KAI mencatat 17.009.374 transaksi penjualan tiket KA Utama dan KA Lokal. Jumlah tersebut setara dengan 76,34 persen dari total 22.281.645 transaksi melalui seluruh kanal penjualan.
Dari sisi volume tiket, Access by KAI melayani pembelian 24.544.468 tiket, atau 73,68 persen dari total 33.313.364 tiket KA Utama dan KA Lokal yang terjual pada periode tersebut.
Hingga 30 Juni 2026, jumlah pengguna terdaftar Access by KAI mencapai 30.449.049 pengguna. Jumlah tersebut bertambah 3.154.132 pengguna sepanjang Semester I 2026.
Sementara itu, jumlah pengguna aktif dalam 30 hari terakhir mencapai 9.058.935 pengguna dan jumlah unduhan kumulatif mencapai 41.011.320 kali. Access by KAI juga mencatat 4.893.743 member premium, setara 16,07 persen dari jumlah pengguna terdaftar.
Melalui aplikasi tersebut, pelanggan dapat mencari jadwal, membeli dan mengelola tiket, menggunakan e-boarding pass, memanfaatkan Trip Planner, serta memperoleh informasi perjalanan melalui Live Tracking.
Digitalisasi layanan KAI juga diterapkan dalam proses boarding melalui Face Recognition Boarding Gate.
Sepanjang Semester I 2026, fasilitas tersebut telah digunakan oleh 5.555.034 pelanggan KA Jarak Jauh.
Pelanggan yang telah melakukan registrasi dan memberikan persetujuan dapat menjalani proses boarding menggunakan pemindaian wajah. Kehadiran teknologi tersebut menjadi bagian dari pengembangan pengalaman perjalanan yang semakin terintegrasi dengan layanan digital.
Anne mengatakan perubahan cara masyarakat menggunakan kereta api akan terus berkembang. Karena itu, KAI perlu memahami kebutuhan pelanggan, mulai dari akses transportasi yang terjangkau, kemudahan berpindah antarlayanan, hingga pengalaman digital yang semakin praktis.
“Bagi kami, teknologi dan pengembangan layanan harus membantu pelanggan menjalani perjalanan dengan lebih mudah,” kata Anne.
Memasuki HUT ke-81 KAI, perkembangan jumlah pelanggan dan semakin beragamnya layanan menunjukkan perubahan peran kereta api dalam mobilitas masyarakat.
Kereta api kini tidak hanya digunakan untuk perjalanan antarkota atau mudik, tetapi juga menjadi bagian dari rutinitas bekerja, sekolah, berdagang, perjalanan menuju bandara, mobilitas perkotaan, hingga wisata.
KAI juga terus mengembangkan layanan digital melalui Access by KAI untuk menjawab perubahan kebiasaan pelanggan dalam merencanakan dan menjalani perjalanan.
“Selama 81 tahun, kereta api telah menemani berbagai perjalanan masyarakat Indonesia. Ke depan, kami ingin semakin banyak masyarakat dapat menikmati transportasi berbasis rel yang sesuai dengan kebutuhannya,” tutup Anne.
(mc/mg)





