
Foto: Wikipedia/Deavindy
Mounture.com — Tren mendaki gunung di Indonesia semakin populer dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut membuat sejumlah gunung mengalami peningkatan jumlah pengunjung, terutama saat akhir pekan, musim liburan, maupun periode tertentu ketika aktivitas pendakian sedang ramai.
Kepadatan tidak hanya terlihat di area basecamp, tetapi juga dapat terjadi di jalur pendakian hingga kawasan puncak. Bagi sebagian pendaki, kondisi tersebut tentu mengurangi sensasi menikmati suasana alam yang tenang.
Namun, Indonesia memiliki banyak gunung yang relatif lebih jarang dikunjungi dibandingkan destinasi pendakian populer. Gunung-gunung tersebut tersebar di berbagai wilayah, mulai dari Kalimantan, Sumatera, Jambi, hingga Sulawesi.
Jika kamu mencari pengalaman mendaki dengan suasana yang lebih sepi dan menantang, berikut sejumlah gunung yang dikenal memiliki tingkat kunjungan pendaki relatif lebih rendah.
1. Gunung Halau-Halau
Gunung Halau-Halau berada di kawasan Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan. Gunung dengan ketinggian sekitar 1.901 mdpl ini berada di wilayah perbatasan Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, dan Tanah Bumbu.
Gunung Halau-Halau dikenal sebagai titik tertinggi di Kalimantan Selatan. Perjalanan menuju kawasan puncaknya menawarkan pengalaman yang cukup menantang karena pendaki akan melewati beragam medan, seperti sungai, lembah, hingga lereng Pegunungan Meratus.
Suasana alam yang masih relatif alami menjadi salah satu daya tarik Gunung Halau-Halau bagi pendaki yang ingin mencari pengalaman berbeda dari gunung-gunung populer di Pulau Jawa.
2. Gunung Masurai
Gunung Masurai merupakan salah satu gunung yang berada di Provinsi Jambi. Gunung ini memiliki ketinggian sekitar 2.533 mdpl dan berada di kawasan yang berdekatan dengan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).
Salah satu daya tarik Gunung Masurai adalah keberadaan Danau Mabuk, yang berada di kawasan pegunungan pada ketinggian tertentu. Keberadaan danau tersebut membuat perjalanan pendakian menjadi semakin menarik karena pendaki tidak hanya disuguhi panorama pegunungan.
Dibandingkan sejumlah gunung populer di Indonesia, Gunung Masurai relatif belum menjadi tujuan utama wisata pendakian massal sehingga suasananya dapat terasa lebih tenang.
BACA JUGA: 5 Cara Mendaki Gunung agar Tidak Cepat Lelah
3. Gunung Mekongga
Berada di Sulawesi Tenggara, Gunung Mekongga merupakan salah satu gunung tertinggi di wilayah tersebut dengan ketinggian mencapai sekitar 2.620 mdpl.
Gunung ini berada di kawasan antara Kabupaten Kolaka dan Kolaka Utara. Salah satu karakteristik menarik Gunung Mekongga adalah kawasan puncaknya yang memiliki bentang alam batuan karst.
Karena lokasinya relatif jauh dari pusat destinasi pendakian populer di Indonesia, Gunung Mekongga dapat menjadi pilihan bagi pendaki yang ingin merasakan tantangan pendakian dengan suasana yang lebih sepi.
4. Gunung Tambusisi
Gunung Tambusisi berada di Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Gunung ini memiliki ketinggian sekitar 2.422 mdpl.
Salah satu jalur pendakiannya dikenal melalui kawasan Dusun Kabalo, Desa Tambayoli, Kecamatan Petasia. Jalur tersebut pernah dikembangkan oleh tim Mapatechno, Mapala Fakultas Teknik Universitas Tadulako.
Lokasi Gunung Tambusisi yang berada di kawasan Sulawesi membuatnya tidak seramai sejumlah gunung yang menjadi destinasi favorit pendaki di Pulau Jawa. Medan dan akses menuju lokasi juga menjadi bagian dari tantangan tersendiri bagi pendaki.
5. Gunung Rore Kautimbu
Gunung Rore Kautimbu memiliki ketinggian sekitar 2.400 mdpl dan berada di Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.
Gunung ini berada di kawasan Taman Nasional Lore Lindu, salah satu kawasan konservasi penting di Sulawesi. Lingkungan alam yang masih relatif terjaga menjadi salah satu daya tarik bagi pencinta aktivitas luar ruang.
Bagi pendaki yang terbiasa menjelajahi gunung-gunung populer, Rore Kautimbu menawarkan karakter petualangan yang berbeda karena lokasinya jauh dari pusat aktivitas pendakian di Pulau Jawa.
6. Gunung Sinabung
Gunung Sinabung berada di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, dan memiliki ketinggian sekitar 2.460 mdpl.
Berbeda dengan gunung-gunung sebelumnya, alasan Gunung Sinabung tidak menjadi tujuan pendakian umum bukan sekadar karena lokasinya, melainkan juga berkaitan dengan aktivitas vulkaniknya. Gunung ini kembali mengalami erupsi pada 2010 setelah sebelumnya lama tidak tercatat mengalami letusan.
Karena itu, Gunung Sinabung tidak dapat disamakan dengan destinasi pendakian biasa. Aktivitas vulkanik dan ketentuan keselamatan menjadi pertimbangan utama sebelum melakukan aktivitas di kawasan gunung ini.
BACA JUGA: TNGR Ingatkan Tiket Rinjani Tak Bisa Dibatalkan, Tapi Pendaki Bisa Reschedule
Jumlah pendaki yang lebih sedikit tidak otomatis membuat sebuah gunung lebih mudah untuk ditaklukkan. Justru, gunung yang jarang dikunjungi bisa memiliki akses yang lebih sulit, jalur yang belum familiar, medan lebih menantang, hingga keterbatasan fasilitas.
Pendaki juga perlu memperhatikan status kawasan, aturan pengelola, kondisi cuaca, informasi jalur, serta potensi bahaya sebelum melakukan perjalanan.
Catatan: informasi mengenai jalur, akses, status pendakian, dan keselamatan dapat berubah sewaktu-waktu. Khusus gunung api aktif seperti Gunung Sinabung, pendaki wajib mengikuti informasi resmi dan zona aman yang ditetapkan oleh pihak berwenang.
Bagi kamu yang ingin mencari pengalaman berbeda, gunung-gunung yang relatif sepi memang menawarkan sensasi petualangan tersendiri. Namun, semakin sepi sebuah jalur, semakin penting pula persiapan, kemampuan navigasi, perlengkapan, serta pengetahuan mengenai kondisi medan.
(mc/mg)





