
Mounture.com — Sampah pendakian masih menjadi persoalan di sejumlah gunung di Indonesia. Padahal, upaya menguranginya bisa dimulai sejak di rumah, jauh sebelum pendaki menginjakkan kaki di jalur menuju puncak.
Pada Senin, 7 September 2026, sebanyak 70 orang yang terdiri dari petugas Balai Taman Nasional Gunung Merbabu, Karang Taruna Ngudi Luhur, porter, dan pengemudi ojek menyisir jalur pendakian Gunung Merbabu via Thekelan, mulai dari Pintu Rimba hingga Pemancar.
Berdasarkan unggahan resmi akun Instagram @btn_gn_merbabu, kegiatan tersebut menghasilkan sekitar 30 karung sampah dengan berat kurang lebih 106 kilogram. Sampah yang terkumpul meliputi botol minuman, plastik, puntung rokok, tisu, hingga emergency blanket atau selimut darurat.
Hal yang patut menjadi perhatian, sampah-sampah tersebut ditemukan ketika jalur pendakian sedang ditutup sementara.
Angka 106 kilogram memang tidak menjelaskan seberapa cepat sampah itu menumpuk atau berapa lama sampah tersebut berada di jalur. Namun, temuan itu kembali mengingatkan kita bahwa persoalan sampah di gunung tidak cukup diselesaikan dengan kegiatan bersih-bersih.
Menurut saya, masalah sampah pendakian lebih sering berkaitan dengan perencanaan, kebiasaan, dan sistem pengelolaan daripada sekadar niat baik.
Sampah Pendakian Sering Berawal dari Rumah
Coba periksa kembali isi carrier sebelum berangkat mendaki. Ada makanan ringan dengan kemasan plastik, minuman dalam botol sekali pakai, tisu, hingga berbagai perlengkapan yang berpotensi menjadi sampah selama perjalanan.
Sebagian besar barang tersebut sudah dipilih dan dimasukkan ke dalam tas sejak di rumah. Artinya, keputusan tentang sampah sebenarnya sudah dimulai sebelum pendakian berlangsung.
Setiap kemasan yang dibawa naik pada akhirnya harus dikelola. Ketika pendaki kelelahan, menghadapi cuaca buruk, atau bergegas mengejar waktu, membawa sampah turun membutuhkan kedisiplinan tambahan.
Karena itu, mengurangi sampah sejak awal lebih masuk akal daripada hanya mengandalkan kesadaran untuk membawa turun seluruh sampah setelah digunakan.
Misalnya, makanan bisa dipindahkan ke wadah guna ulang sebelum berangkat. Kebutuhan air dapat direncanakan menggunakan botol isi ulang, sementara jumlah makanan disesuaikan dengan kebutuhan perjalanan.
Langkah-langkah tersebut memang terlihat sederhana. Namun, jika dilakukan secara konsisten, jumlah kemasan yang berpotensi menjadi sampah di jalur pendakian bisa ditekan.
Pola serupa juga ditemukan di tempat lain. Pada Oktober 2025, operasi bersih di jalur Selabintana, kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, yang sedang ditutup, dilaporkan mengumpulkan 115,5 kilogram sampah. Sebagian besar berupa kemasan makanan dan botol minuman.
Dua lokasi berbeda, yakni Merbabu dan Gede Pangrango, sama-sama menyisakan sampah dalam jumlah besar meski aktivitas pendakiannya sedang ditutup.
Dua kejadian ini tentu belum cukup untuk menggambarkan kondisi seluruh gunung di Indonesia. Namun, keduanya menunjukkan bahwa sampah pendakian merupakan persoalan berulang yang membutuhkan upaya lebih dari sekadar pembersihan jalur.
Saya juga tidak ingin menyederhanakan semua jenis sampah sebagai akibat dari kesalahan packing. Puntung rokok dan emergency blanket, misalnya, memiliki konteks berbeda. Tanpa informasi lebih lanjut, kita tidak bisa memastikan apakah barang-barang itu sengaja dibuang, terjatuh, atau ditinggalkan dalam situasi darurat.
Packing bukan satu-satunya jawaban. Namun, inilah salah satu titik awal yang paling memungkinkan untuk dikendalikan oleh pendaki.
BACA JUGA: Lintas Alam Nasional 2026 Digelar di Gunung Merbabu, Catat Tanggalnya!
Slogan Bawa Turun Sampah Perlu Didukung Sistem
Membawa turun sampah merupakan prinsip dasar pendakian yang bertanggung jawab. Akan tetapi, imbauan tersebut akan lebih kuat jika didukung sistem yang membuat pendaki memahami kewajiban sekaligus merasa dihargai ketika melakukannya.
Pendekatan menarik dapat ditemukan di jalur pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu. Pendaki mendapatkan pengarahan sejak awal perjalanan, kemudian diminta menunjukkan sampah yang dibawa turun.
Perhutani bersama Paguyuban Giri Lawu (PGL) memberikan stiker eksklusif kepada pendaki yang membawa turun sampah. Bahkan, piagam juga disediakan bagi pendaki yang membawa sampah melebihi sampah yang dihasilkannya sendiri.
Menurut keterangan pengelola, penukaran stiker tidak mensyaratkan berat minimum sampah.
Menurut saya, hal menarik dari pendekatan ini adalah upaya mengubah perilaku membawa turun sampah menjadi sesuatu yang diapresiasi, bukan sekadar kewajiban yang terus diingatkan.
Pengakuan sederhana bisa menjadi pemicu kebiasaan baik, terutama bagi pendaki pemula yang sedang membangun kesadaran tentang etika beraktivitas di alam bebas.
Meski demikian, apresiasi tidak boleh dianggap otomatis menyelesaikan persoalan. Tanpa data yang menunjukkan perubahan jumlah sampah sebelum dan sesudah program diterapkan, efektivitas pendekatan tersebut belum bisa dipastikan.
Pengelola perlu mengevaluasi apakah program itu benar-benar mengurangi sampah yang tertinggal, meningkatkan kepatuhan pendaki, atau hanya menambah jumlah sampah yang berhasil dibawa turun.
Pertanyaan semacam ini penting agar program pengelolaan sampah tidak berhenti sebagai kegiatan simbolis.
BACA JUGA: Gede hingga Lawu, 6 Gunung yang Cocok untuk Pendakian Tek-Tok
Gunung Rinjani Mencoba Mengurangi Sampah dari Sumbernya
Jika Merbabu memperlihatkan persoalan yang harus ditangani melalui kegiatan pembersihan, sedangkan Lawu memberikan apresiasi terhadap perilaku pendaki, Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat (NTB) menawarkan pendekatan lain melalui pengendalian sampah sejak sumbernya.
Balai Taman Nasional Gunung Rinjani menerbitkan Revisi II SOP Penanganan Sampah. Dalam ketentuan tersebut, pedagang makanan dan minuman diwajibkan melaporkan daftar barang dagangan di pintu masuk. Penjualan produk dengan kemasan styrofoam, kaca, atau kaleng juga dilarang, sementara penyediaan wadah guna ulang menjadi bagian dari upaya pengurangan sampah.
Pendaki pun diarahkan untuk memindahkan makanan ke wadah sendiri dan mengembalikan kemasan kepada pedagang. Pendataan barang yang berpotensi menjadi sampah turut diperbarui melalui aplikasi eRinjani.
Pendekatan ini menarik karena pengelolaan sampah tidak hanya dibebankan kepada pendaki setelah mereka berada di jalur. Pedagang dan sistem pengelolaan di pintu masuk juga dilibatkan.
Dengan begitu, upaya pengurangan sampah bisa dilakukan sebelum kemasan dibawa ke kawasan pendakian.
Skala persoalannya juga terlihat dari data sementara Balai Taman Nasional Gunung Rinjani. Hingga Oktober 2025, tercatat sebanyak 72.528 pendaki dan sekitar 28,4 ton sampah pendakian berhasil dibawa turun.
Angka tersebut merupakan jumlah sampah yang berhasil dikelola, bukan jumlah sampah yang ditemukan tercecer di gunung. Karena itu, angka tersebut tidak bisa langsung digunakan untuk mengukur tingkat pencemaran atau membandingkan keberhasilan program dengan gunung lain.
Namun, data itu memberikan gambaran mengenai besarnya volume sampah yang harus ditangani ketika aktivitas pendakian berlangsung dalam skala besar. Logikanya sederhana, yaitu semakin sedikit sampah yang dibawa naik, semakin kecil pula beban pengelolaan yang harus ditanggung pendaki dan pengelola.
Meski demikian, penerbitan SOP belum otomatis membuktikan bahwa sampah berhasil dikurangi. Efektivitas kebijakan tetap bergantung pada pengawasan di lapangan, kepatuhan pedagang dan pendaki, serta konsistensi penerapannya. Aturan yang baik membutuhkan pelaksanaan yang baik pula.
Cara Mengurangi Sampah Saat Mendaki Gunung
Mengurangi sampah pendakian tidak harus dimulai dari kebijakan besar. Pendaki bisa melakukan sejumlah langkah sederhana sejak mempersiapkan perlengkapan di rumah.
1. Lakukan repacking sebelum berangkat
Pindahkan makanan ke wadah guna ulang dan kurangi kemasan yang tidak diperlukan. Selain mengurangi potensi sampah, langkah ini juga membantu membuat isi carrier lebih ringkas.
2. Rencanakan kebutuhan air minum
Gunakan botol isi ulang atau wadah air yang sesuai dengan kebutuhan perjalanan. Pelajari ketersediaan titik pengisian air di jalur yang akan dilalui, tanpa mengasumsikan semua sumber air aman diminum langsung.
3. Bawa makanan sesuai kebutuhan
Hitung kebutuhan makanan berdasarkan durasi pendakian, aktivitas, dan cadangan yang diperlukan. Hindari membawa makanan secara berlebihan hingga banyak yang tersisa dan berpotensi menjadi sampah.
4. Siapkan kantong sampah tersendiri
Gunakan kantong yang kuat dan tahan bocor. Pisahkan dari pakaian, kantong tidur, dan perlengkapan lain agar sampah tidak mengotori isi carrier.
5. Periksa kembali barang bawaan saat turun
Pastikan tidak ada sampah yang tertinggal di lokasi istirahat, tempat mendirikan tenda, maupun sepanjang jalur. Periksa juga perlengkapan pribadi, termasuk puntung rokok bagi perokok, agar tidak tertinggal atau dibuang sembarangan.
6. Patuhi aturan pengelola jalur
Setiap gunung dapat memiliki ketentuan berbeda mengenai sampah, barang bawaan, dan pengelolaan makanan. Pelajari aturan sebelum berangkat dan ikuti prosedur yang berlaku di pintu masuk.
Langkah-langkah tersebut tidak menjamin pendakian sepenuhnya bebas sampah. Namun, kebiasaan itu dapat membantu mengurangi sampah sejak sumbernya sekaligus membuat pengelolaan sampah lebih terencana.
BACA JUGA: Biar Stamina Tak Cepat Habis, Ini Cara Mengatur Ritme Jalan Saat Mendaki
Mencegah Lebih Baik daripada Membersihkan
Merbabu, Lawu, dan Rinjani memperlihatkan tiga pendekatan yang berbeda dalam menghadapi persoalan sampah pendakian: membersihkan sampah yang sudah tertinggal, mengapresiasi pendaki yang membawa turun sampah, dan mencegah timbulan sampah sejak sumbernya.
Menurut saya, urutan yang paling masuk akal adalah mencegah terlebih dahulu, mengapresiasi perilaku baik, lalu melakukan pembersihan untuk menangani sampah yang masih tertinggal.
Ketiganya tetap dibutuhkan. Tidak semua sampah bisa dicegah, dan kegiatan pembersihan masih diperlukan untuk menangani persoalan yang sudah terjadi. Namun, pembersihan seharusnya tidak menjadi satu-satunya strategi pengelolaan sampah di gunung.
Data yang tersedia juga belum cukup untuk menentukan pendekatan mana yang paling efektif. Kita membutuhkan indikator yang lebih terukur, seperti perubahan jumlah sampah yang ditemukan di jalur, tingkat kepatuhan pendaki, serta hasil evaluasi sebelum dan sesudah kebijakan diterapkan.
Pada akhirnya, menjaga kebersihan gunung bukan hanya soal membawa turun bungkus makanan setelah selesai mendaki. Tanggung jawab itu sudah dimulai ketika kita memilih perlengkapan, membeli makanan, menghitung kebutuhan air, dan mengemas carrier di rumah.
Gunung tidak membutuhkan pendaki yang sempurna. Gunung membutuhkan pendaki yang mau merencanakan perjalanan dengan lebih bertanggung jawab dan pengelola yang konsisten menjalankan sistem pengelolaan sampah.
Sebab, sebelum sampah ditemukan di jalur atau menumpuk di puncak, sebagian keputusannya sudah dibuat jauh sebelumnya: saat kita melakukan packing.
(mc/ls)





