
Mounture.com — Seluruh jalur pendakian Gunung Lawu, baik yang berada di wilayah Jawa Timur maupun Jawa Tengah, masih ditutup total setelah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi sekitar satu bulan lalu. Pembukaan kembali akses pendakian bagi masyarakat umum masih menunggu kondisi cuaca dan pemulihan vegetasi di kawasan puncak.
Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Lawu Ds memastikan penutupan jalur pendakian Gunung Lawu diperpanjang hingga waktu yang belum ditentukan. Kebijakan tersebut diambil untuk mengantisipasi kebakaran susulan, mengingat kondisi vegetasi di kawasan pegunungan masih sangat kering akibat kemarau panjang.
Wakil Administratur Perhutani KPH Lawu Ds, Hermawan, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan seluruh pengelola jalur pendakian, termasuk yang berada di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, untuk memastikan penutupan tetap diberlakukan.
Menurutnya, keselamatan pendaki dan kelestarian hutan menjadi pertimbangan utama sebelum akses pendakian kembali dibuka.
“Kami tidak mau mengambil risiko keselamatan para pendaki maupun kelestarian hutan. Hasil patroli ke atas menunjukkan kondisi vegetasi di sana sangat kering,” katanya.
BACA JUGA: Gunung Sibayak Ditutup 15 Oktober–15 November 2026, Ini Alasannya
Berdasarkan hasil patroli dan pemantauan terbaru yang dilakukan jajaran Perhutani bersama aparat kepolisian, suhu di kawasan puncak Gunung Lawu dilaporkan sempat mencapai 38 derajat Celsius.
Selain suhu yang tinggi, hamparan semak dan dedaunan kering di kawasan tersebut juga masih melimpah. Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya kebakaran apabila terdapat sumber api, meskipun dalam skala kecil.
Perhutani pun belum menetapkan tanggal pembukaan kembali jalur pendakian Gunung Lawu. Terlebih, musim kemarau diperkirakan masih berlanjut hingga bulan depan sehingga potensi kebakaran susulan perlu diantisipasi.
Hermawan menegaskan, hujan yang turun di wilayah perkotaan Magetan dalam beberapa hari terakhir belum menjadi indikator bahwa kawasan puncak Gunung Lawu sudah cukup basah dan aman untuk aktivitas pendakian.
Petugas yang melakukan pengecekan ke kawasan atas melaporkan bahwa hujan tersebut belum menjangkau area puncak. Dengan demikian, kondisi jalur pendakian masih kering dan penutupan tetap diberlakukan.
BACA JUGA: Gunung Kerinci Kembali Dibuka, Ini Aturan Pendakian Terbaru 2026
Hermawan menjelaskan, salah satu indikator utama untuk mengevaluasi pembukaan kembali jalur pendakian Gunung Lawu adalah hujan yang turun selama tiga hari berturut-turut di kawasan puncak.
Hujan tersebut diharapkan mampu membasahi tanah dan vegetasi secara menyeluruh sehingga risiko kebakaran dapat ditekan.
“Minimal di atas itu sudah hujan tiga hari berturut-turut sampai tanah dan vegetasinya benar-benar basah. Jika dalam evaluasi kurun lima hari setelahnya kondisi dinilai aman, baru kami bersama jajaran kepolisian dan pengelola akan membahas opsi pembukaan jalur kembali,” jelasnya.
Perhutani juga telah berkoordinasi dengan kepolisian, termasuk Polsek Plaosan, untuk memastikan tidak ada pembukaan jalur sebelum kondisi dinyatakan aman.
Dengan demikian, hujan yang turun di kawasan perkotaan atau wilayah sekitar Gunung Lawu belum cukup menjadi dasar untuk membuka kembali jalur pendakian.
Bagi calon pendaki yang berencana mendaki Gunung Lawu dalam waktu dekat, penting untuk menunggu pengumuman resmi dari pihak terkait. Jangan memaksakan pendakian selama penutupan masih berlaku karena kondisi vegetasi yang kering dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan.
Hingga ada evaluasi dan keputusan lebih lanjut, seluruh jalur pendakian Gunung Lawu di Jawa Timur dan Jawa Tengah masih ditutup total.
(mc/ns)





