Gunung Halau-Halau Resmi Ditutup Permanen sejak 1 Mei 2026, Ini Alasannya

Foto: Wikipedia/Deavindy

Mounture.com — Gunung Halau-Halau yang dikenal sebagai atap tertinggi di Kalimantan Selatan dengan ketinggian 1.901 meter di atas permukaan laut (mdpl), kini resmi ditutup secara permanen mulai 1 Mei 2026. Keputusan ini menjadi kabar penting bagi para pendaki dan pecinta alam di Indonesia.

Penutupan Gunung Halau-Halau bukan tanpa alasan. Kebijakan ini diambil melalui musyawarah bersama antara masyarakat Desa Juhu dan Desa Hinas Kiri, tokoh adat, serta pihak terkait lainnya.

Langkah ini disebut merupakan bentuk komitmen bersama untuk menjaga kelestarian Pegunungan Meratus yang selama ini menjadi kawasan penting secara ekologis maupun kultural.

Gunung Halau-Halau tidak hanya dipandang sebagai destinasi wisata pendakian. Bagi masyarakat adat setempat, kawasan ini memiliki nilai sakral yang erat kaitannya dengan tradisi, kepercayaan, dan ruang hidup mereka.

Penutupan permanen ini bertujuan untuk melindungi ekosistem Pegunungan Meratus dari kerusakan, menjaga nilai sakral dan budaya masyarakat adat, dan mengurangi tekanan aktivitas manusia terhadap lingkungan alami.

Langkah ini sekaligus menjadi pengingat bahwa tidak semua gunung harus terbuka untuk aktivitas wisata, terutama jika menyangkut keberlanjutan alam dan kearifan lokal.

BACA JUGA: Wisata Jati Ombo Bogor: Hidden Gem Hutan Jati untuk Healing Tenang Dekat Jakarta

Bagi para pendaki, Gunung Halau-Halau selama ini menjadi salah satu tujuan favorit di Kalimantan Selatan. Namun dengan adanya keputusan ini, seluruh aktivitas pendakian dan wisata ke kawasan tersebut resmi dihentikan tanpa batas waktu.

Para pecinta alam diharapkan dapat memahami dan menghormati keputusan ini sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Pegunungan Meratus merupakan salah satu bentang alam penting di Kalimantan yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi. Penutupan Gunung Halau-Halau menjadi langkah konkret dalam menjaga kawasan ini tetap lestari.

Kesadaran kolektif untuk menghormati keputusan masyarakat adat menjadi kunci penting dalam pelestarian lingkungan. Dengan demikian, Meratus tetap bisa menjadi warisan alam berharga bagi generasi mendatang.

(mc/pd)