
Foto: TN Gunung Rinjani
Mounture.com — Fasilitas pendukung pendakian Gunung Rinjani yang dibangun untuk meningkatkan kenyamanan dan keselamatan pendaki dilaporkan kehilangan sejumlah komponen. Baterai, inverter, hingga lampu penerangan berbasis tenaga surya dilaporkan hilang dari sejumlah rest shelter di jalur pendakian Timbanuh, Senaru, dan Aik Berik.
Hilangnya komponen tersebut menjadi perhatian karena rest shelter merupakan salah satu fasilitas yang dibutuhkan pendaki untuk beristirahat dan memulihkan tenaga selama perjalanan. Kerusakan atau hilangnya perangkat kelistrikan berpotensi mengurangi fungsi fasilitas, terutama ketika penerangan dibutuhkan saat kondisi gelap.
Fasilitas berbasis solar cell atau tenaga surya tersebut disediakan untuk mendukung kebutuhan penerangan di area istirahat. Namun, ketika komponen penting seperti baterai dan inverter tidak lagi tersedia, sistem kelistrikan tidak dapat berfungsi secara optimal.
Keberadaan rest shelter di jalur pendakian Gunung Rinjani bukan sekadar pelengkap. Fasilitas ini menjadi tempat bagi pendaki untuk melepas lelah sebelum melanjutkan perjalanan di kawasan pegunungan.
Dalam perjalanan panjang dengan kondisi medan yang menantang, fasilitas pendukung yang berfungsi baik dapat membantu menciptakan pengalaman pendakian yang lebih nyaman. Penerangan juga menjadi salah satu kebutuhan penting ketika pendaki berada di area istirahat pada malam hari.
Hilangnya komponen kelistrikan membuat fasilitas yang seharusnya bisa dimanfaatkan bersama berisiko tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Dampaknya bukan hanya dirasakan pengelola, tetapi juga pendaki yang menggunakan jalur tersebut.
Selain mengurangi kenyamanan, kehilangan perangkat fasilitas umum juga berpotensi menambah kebutuhan biaya perbaikan dan pemeliharaan kawasan.
BACA JUGA: Wisata Alam dan Religi Makin Diminati, Ini Tren Perjalanan Wisatawan Indonesia 2026
Fasilitas di jalur pendakian disediakan untuk kepentingan bersama. Karena itu, mengambil atau merusak perangkat yang menjadi bagian dari fasilitas umum dapat menghilangkan hak pendaki lain untuk memperoleh layanan yang layak.
Terlebih, Gunung Rinjani merupakan kawasan konservasi yang membutuhkan dukungan berbagai pihak agar kegiatan wisata alam dapat berlangsung secara bertanggung jawab.
Menjaga kawasan tidak cukup hanya dengan membawa kembali sampah atau mematuhi aturan pendakian. Sikap menghormati fasilitas yang tersedia juga menjadi bagian dari etika ketika beraktivitas di alam bebas.
Pendaki dapat berperan dengan menggunakan fasilitas sesuai peruntukannya, tidak merusak sarana yang tersedia, serta melaporkan kepada petugas apabila menemukan kerusakan atau kehilangan perangkat.
Kasus hilangnya komponen kelistrikan di sejumlah rest shelter menjadi pengingat bahwa fasilitas pendakian membutuhkan kepedulian bersama agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Apa yang dibangun untuk kepentingan bersama semestinya dijaga bersama. Tanpa kesadaran tersebut, fasilitas yang telah disediakan untuk mendukung kenyamanan pendaki justru berisiko kehilangan fungsinya.
Mencintai Gunung Rinjani bukan hanya tentang mencapai puncak atau mengabadikan panorama alamnya. Lebih dari itu, kecintaan terhadap gunung juga tercermin dari sikap menjaga lingkungan, menghormati fasilitas, dan memastikan pendaki berikutnya tetap dapat menikmati pengalaman yang aman dan nyaman.
(mc/mg)





