
Mounture.com — Gunung Salak dikenal sebagai salah satu gunung di Jawa Barat yang memiliki medan pendakian menantang sekaligus menyimpan banyak cerita mistis dari para pendaki.
Mulai dari kisah tersesat, suara-suara misterius, hingga penampakan sosok tak dikenal, cerita seperti ini kerap menjadi bagian dari pengalaman sebagian orang saat mendaki.
Salah satu kisah datang dari seorang pembaca Mounture.com yang membagikan pengalamannya saat mendaki Gunung Salak via Cidahu bersama tiga rekannya.
Perlu diketahui, pengalaman berikut merupakan cerita pribadi narasumber dan tidak dapat dipastikan kebenarannya. Setiap orang dapat memiliki pengalaman yang berbeda saat berada di alam bebas.
BACA JUGA: Berapa Lama Mendaki Gunung Sumbing via Mangli? Ini Estimasi Waktu Tiap Pos
Pendakian dimulai dari Jakarta menggunakan sepeda motor. Awalnya rombongan berencana berangkat pukul 20.00 WIB agar tiba lebih awal di basecamp Cidahu. Namun rencana berubah dan mereka baru memulai perjalanan sekitar pukul 23.00 WIB.
Sekitar pukul 03.00 WIB, rombongan tiba di kawasan Desa Cidahu. Karena belum pernah mendaki melalui jalur tersebut, mereka mengandalkan aplikasi peta digital. Sayangnya, titik lokasi yang digunakan ternyata keliru sehingga mereka sempat tersesat.
Mereka akhirnya beristirahat di sebuah musala hingga waktu Subuh. Setelah salat, warga sekitar membantu menunjukkan lokasi basecamp yang benar.
Sesampainya di basecamp, rombongan kembali beristirahat selama beberapa jam sebelum memulai pendakian sekitar pukul 10.00 WIB. Suasana di hari kerja cukup sepi, bahkan sebagian besar warung di sekitar basecamp tidak buka.
Pendakian dimulai dengan melewati jalan aspal sebelum memasuki jalur hutan yang didominasi tanjakan berbatu.
Di tengah perjalanan, salah satu anggota rombongan membaca catatan perjalanan yang menyebut jarak menuju Puncak Manik tinggal sekitar lima kilometer. Meski terdengar dekat, kondisi jalur yang terus menanjak membuat perjalanan terasa jauh lebih berat.
Banyaknya waktu istirahat membuat rombongan baru tiba di Pos Bayangan menjelang petang.
BACA JUGA: Gunung Sindoro via Watu Lunyu: Jalur Pendakian dengan Sabana Luas dan Trek Tanah yang Ramah Pendaki
Setelah melanjutkan perjalanan dalam kondisi gelap, ia cerita mengaku mulai merasakan suasana yang berbeda.
Ia merasa melihat sesuatu seperti lambaian dari belakang seolah memberi isyarat agar rombongan tidak melanjutkan perjalanan. Saat menoleh, tidak ada siapa pun di lokasi tersebut.
Beberapa saat kemudian, ia kembali mengaku melihat bayangan putih yang bergerak cepat di jalur pendakian. Menurut pengakuannya, sosok itu tampak berjalan di depan rombongan sehingga seolah-olah mereka berjalan bersama satu orang tambahan.
Ia juga mengaku beberapa kali merasakan seperti ada yang mengikuti langkahnya dari belakang. Meski diliputi rasa takut, mereka memilih terus berjalan sambil berdoa hingga akhirnya mencapai Puncak Manik sekitar pukul 21.30 WIB.
Setelah mendirikan tenda dan memasak makan malam, rombongan kembali mengaku mengalami kejadian yang menurut mereka sulit dijelaskan.
Penulis mengisahkan sempat melihat sosok berjubah putih melintas sangat cepat di samping tenda. Tak lama kemudian, angin kencang menghantam tenda disertai suara gemuruh yang membuat mereka terbangun.
Mereka memilih tetap berada di dalam tenda sambil berdoa hingga kondisi kembali tenang menjelang pagi.
BACA JUGA: Pendaki Gunung Ciremai Diimbau Gunakan Guide dan Porter Resmi, Ini Alasannya
Keesokan harinya, rombongan baru mengetahui keberadaan sebuah makam yang dikenal masyarakat sebagai Makam Mbah Salak di sekitar kawasan Puncak Manik. Setelah berdoa dan mengabadikan momen, mereka memutuskan segera turun agar tidak kembali melewati jalur dalam kondisi gelap.
Sesampainya di basecamp, masing-masing anggota rombongan akhirnya saling menceritakan pengalaman yang mereka rasakan sepanjang perjalanan malam sebelumnya. Menurut penulis, beberapa rekannya mengaku mengalami hal serupa, tetapi memilih tidak membicarakannya saat pendakian berlangsung.
Mereka juga berbincang dengan petugas di kawasan tersebut mengenai pengalaman yang dialami. Menurut penulis, petugas hanya tersenyum sambil mengacungkan jempol kepada rombongan.
Terlepas dari pengalaman yang mereka rasakan, pendakian berakhir dengan selamat dan seluruh anggota rombongan berhasil kembali ke rumah tanpa mengalami kendala.
Catatan Redaksi:
Kisah di atas merupakan pengalaman pribadi yang dikirimkan oleh pembaca melalui email. Cerita ini bersifat subjektif dan tidak dapat diverifikasi secara independen. Pengalaman setiap pendaki bisa berbeda-beda. Saat mendaki gunung, selalu utamakan keselamatan, patuhi peraturan, siapkan perlengkapan dengan baik, dan hindari mendaki sendirian.
(mc/ril)





