Biaya Evakuasi Pendaki Hilang di Gunung Indonesia Bisa Capai Ratusan Juta, Siapa yang Menanggung?

Ilustrasi – Foto: Mounture.com

Mounture.com — Ketika seorang pendaki dilaporkan hilang atau mengalami kecelakaan di gunung, perhatian publik biasanya tertuju pada proses pencarian dan keselamatan korban. Namun di balik operasi penyelamatan tersebut, ada pertanyaan penting yang sering muncul: berapa biaya evakuasi pendaki gunung di Indonesia dan siapa yang menanggungnya?

Pertanyaan ini kembali menjadi sorotan setelah sejumlah kasus pendaki hilang dan kecelakaan di gunung-gunung populer Indonesia, mulai dari Rinjani, Merapi, hingga Binaya.

Banyak orang mengira proses evakuasi sepenuhnya gratis, padahal dalam kondisi tertentu biaya yang muncul bisa sangat besar, terutama jika membutuhkan bantuan udara menggunakan helikopter.

Operasi SAR Pendaki Melibatkan Puluhan hingga Ratusan Personel

Proses pencarian pendaki hilang bukanlah pekerjaan sederhana. Dalam banyak kasus, operasi SAR melibatkan gabungan berbagai unsur mulai dari Basarnas, TNI, Polri, relawan, hingga komunitas pecinta alam.

Pada pencarian dua pendaki ilegal di Gunung Merapi pada akhir 2025 misalnya, lebih dari 90 personel dari berbagai instansi diterjunkan ke lapangan. Operasi berlangsung selama beberapa hari dengan dukungan drone dan tim khusus yang menyisir medan curam serta berbahaya.

Kasus lain terjadi di Gunung Slamet pada awal 2026 ketika lebih dari 100 personel dikerahkan untuk mencari seorang pendaki yang hilang. Sementara di Gunung Binaya, Maluku, pencarian berlangsung selama lebih dari sepekan sebelum akhirnya dihentikan sesuai prosedur operasional standar.

Jika dihitung secara komersial, biaya personel, logistik, transportasi, konsumsi, hingga peralatan yang digunakan dalam operasi sebesar itu dapat mencapai puluhan juta rupiah per hari.

BACA JUGA: 4 Tips Membuat Rundown Pendakian Gunung agar Perjalanan Lebih Aman dan Teratur

Apakah Keluarga Pendaki Harus Membayar Biaya SAR?

Kabar baiknya, operasi pencarian dan penyelamatan dasar yang dilakukan Basarnas ditanggung oleh negara. Artinya, keluarga korban tidak dikenakan biaya untuk proses pencarian maupun evakuasi darat yang dilakukan sesuai prosedur resmi.

Namun kondisi berbeda bisa terjadi ketika operasi membutuhkan fasilitas khusus yang berada di luar cakupan standar, terutama evakuasi udara menggunakan helikopter.

Di sinilah biaya dapat meningkat drastis.

Evakuasi Helikopter Jadi Komponen Paling Mahal

Evakuasi menggunakan helikopter sering dianggap sebagai solusi tercepat untuk menyelamatkan korban di medan ekstrem. Namun kenyataannya, operasi udara di kawasan pegunungan memiliki tingkat kesulitan tinggi dan biaya yang tidak murah.

Ketinggian gunung, cuaca buruk, kabut tebal, hingga kondisi medan menjadi faktor yang menentukan apakah helikopter bisa digunakan atau tidak.

Perbedaan ini terlihat jelas dalam dua kasus yang terjadi di Gunung Rinjani pada 2025. Pendaki asal Brasil yang terjatuh di jurang harus dievakuasi secara manual karena kondisi cuaca tidak memungkinkan penggunaan helikopter. Sebaliknya, seorang pendaki asal Swiss berhasil dievakuasi melalui jalur udara karena memiliki perlindungan asuransi yang menanggung biaya evakuasi tersebut.

Fakta ini menunjukkan bahwa asuransi dapat menjadi faktor penentu dalam kecepatan dan metode penyelamatan yang digunakan.

BACA JUGA: 7 Cara Mengetahui Tumbuhan Liar yang Layak Dimakan Saat Survival di Alam Bebas

Berapa Estimasi Biaya Evakuasi Pendaki Gunung?

Tidak ada angka resmi yang dipublikasikan pemerintah mengenai biaya evakuasi satu pendaki. Namun sejumlah pengamat asuransi memperkirakan nilai perlindungan yang ideal untuk aktivitas pendakian berada pada kisaran Rp150 juta hingga Rp300 juta untuk pendaki domestik, atau lebih dari Rp500 juta untuk wisatawan mancanegara.

Nilai tersebut mencakup berbagai kebutuhan darurat seperti evakuasi helikopter, pengobatan akibat kecelakaan, rawat inap darurat, santunan meninggal dunia, serta repatriasi jenazah.

Besarnya nilai perlindungan tersebut memberikan gambaran bahwa biaya evakuasi serius di gunung bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Asuransi Pendakian Kini Bukan Lagi Pilihan

Masih banyak pendaki yang fokus pada perlengkapan fisik seperti carrier, tenda, atau sepatu gunung, tetapi mengabaikan perlindungan finansial.

Padahal, premi asuransi pendakian umumnya hanya berkisar puluhan hingga ratusan ribu rupiah. Nilai tersebut jauh lebih kecil dibandingkan risiko biaya evakuasi yang dapat mencapai ratusan juta rupiah jika terjadi kecelakaan serius.

Karena itu, sebelum melakukan pendakian, pastikan polis asuransi yang dimiliki mencakup evakuasi darurat, evakuasi helikopter, biaya medis, santunan kecelakaan, dan repatriasi jenazah.

Secara keseluruhan, biaya evakuasi pendaki hilang di gunung Indonesia tidak memiliki angka pasti karena bergantung pada lokasi, durasi operasi, jumlah personel, hingga metode penyelamatan yang digunakan. Namun dalam kondisi tertentu, terutama jika membutuhkan evakuasi udara, biayanya dapat mencapai ratusan juta rupiah.

Meski operasi SAR dasar ditanggung negara melalui Basarnas, perlindungan asuransi tetap menjadi faktor penting yang dapat menentukan akses terhadap layanan evakuasi yang lebih cepat dan optimal. Karena itu, sebelum mendaki, jangan hanya mempersiapkan fisik dan perlengkapan, tetapi juga perlindungan finansial yang memadai.

(mc/ls)