Ayo Ke Taman Nasional Resmi Diluncurkan, Beli Tiket Gunung dan Wisata Alam Makin Praktis

Aplikasi Ayo Ke Taman Nasional

Mounture.com — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) resmi meluncurkan aplikasi e-ticketing “Ayo Ke Taman Nasional” (AKTN) sebagai langkah transformasi digital layanan wisata alam di kawasan konservasi Indonesia.

Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, mengatakan hahwa aplikasi AKTN hadir untuk menjawab tingginya minat masyarakat terhadap aktivitas wisata alam, mulai dari pendakian gunung, wisata satwa liar, hingga penyelaman di kawasan konservasi.

“Aplikasi AKTN merupakan sebuah platform yang kami harapkan dapat memudahkan masyarakat melakukan pembelian tiket dan mencari informasi dengan lebih cepat serta lebih sederhana,” ujarnya.

Aplikasi AKTN dikembangkan oleh Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan (PJL), Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE).

Platform ini menjadi sistem terpadu untuk pemesanan dan pembelian tiket wisata alam yang berada di bawah pengelolaan Ditjen KSDAE.

Layanan tersebut mencakup berbagai kawasan konservasi, mulai dari Taman Nasional (TN), Taman Wisata Alam (TWA), hingga Suaka Margasatwa (SM).

Masyarakat dapat mengakses layanan ini melalui beberapa cara, yakni:

– Mengunduh aplikasi “Ayo Ke Taman Nasional” di Google Play Store untuk pengguna Android.

– Mengakses portal resmi AKTN melalui website Kementerian Kehutanan di ayoketamannasional.kehutanan.go.id untuk pengguna iPhone.

– Membeli tiket secara langsung melalui kios tiket digital yang tersedia di pintu masuk kawasan konservasi yang telah menerapkan sistem AKTN.

BACA JUGA: 7 Cara Mengetahui Tumbuhan Liar yang Layak Dimakan Saat Survival di Alam Bebas

Aplikasi AKTN dirancang untuk memberikan kemudahan sekaligus meningkatkan tata kelola wisata alam yang lebih modern dan berkelanjutan.

Melalui aplikasi ini, pengunjung dapat memesan tiket masuk taman nasional kapan saja dan dari mana saja menggunakan ponsel pintar. Sistem pembayaran juga telah terintegrasi dengan berbagai metode pembayaran nontunai seperti QRIS dan transfer bank.

Tak hanya mempermudah wisatawan, aplikasi ini juga membantu pengelola kawasan konservasi dalam memantau jumlah pengunjung secara real time. Dengan demikian, potensi kepadatan berlebih dapat diantisipasi sehingga kenyamanan wisatawan dan kelestarian kawasan tetap terjaga.

Sistem ini juga mendukung transparansi penerimaan negara. Seluruh transaksi tiket akan tercatat secara digital dan akuntabel sebagai bagian dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Selain itu, AKTN memungkinkan pengelola memahami profil pengunjung melalui pencatatan data dasar seperti kelompok usia dan asal daerah dengan tetap memperhatikan prinsip perlindungan data pribadi.

Data tersebut dapat menjadi dasar pengembangan fasilitas, peningkatan kualitas layanan, serta pengaturan kunjungan yang lebih efektif.

BACA JUGA: Swiss-Belhotel Rainforest Kuta Siapkan Promo Menginap Spesial Selama Libur Sekolah 2026

Sebelum diluncurkan secara nasional, AKTN telah melalui tahap uji coba operasional di sejumlah kawasan konservasi populer di Indonesia.

Beberapa lokasi yang telah menerapkan sistem e-ticketing ini antara lain:

– TWA Telogo Warno dan Telogo Pangilon
– TWA Grojogan Sewu
– Taman Nasional Gunung Merbabu
– Taman Nasional Gunung Merapi
– Taman Nasional Baluran
– Taman Nasional Gunung Halimun Salak
– Taman Nasional Kerinci Seblat
– Taman Nasional Bunaken
– Taman Nasional Alas Purwo
– Taman Nasional Wakatobi
– Taman Nasional Kelimutu
– TWA Kawah Ijen
– Taman Nasional Betung Kerihun Danau Sentarum

Menariknya, digitalisasi layanan ini tidak hanya diterapkan untuk wisata darat, tetapi juga mencakup sejumlah lokasi penyelaman (dive site) di kawasan konservasi laut.

Berdasarkan hasil uji coba, sistem AKTN diklaim mampu mempercepat proses transaksi dan meningkatkan akurasi pencatatan data kunjungan wisatawan.

Melihat hasil positif tersebut, Kementerian Kehutanan menargetkan seluruh kawasan konservasi yang berada di bawah pengelolaan Ditjen KSDAE telah menerapkan sistem e-ticketing AKTN pada akhir 2026.

Pada tahap pengembangan berikutnya, Kemenhut berencana menambahkan sejumlah fitur baru seperti layanan pemandu wisata, reschedule kunjungan, refund tiket, hingga fitur gamification untuk meningkatkan pengalaman pengguna.

Selain itu, aplikasi juga akan segera tersedia di App Store serta dilengkapi penguatan sistem keamanan siber guna melindungi data masyarakat.

Kementerian Kehutanan sengaja memilih INDOFEST 2026 sebagai lokasi peluncuran karena festival tersebut menjadi ajang berkumpulnya para pendaki, penyelam, pegiat alam bebas, dan pencinta wisata petualangan yang merupakan pengguna utama kawasan konservasi.

Melalui aplikasi AKTN, pemerintah berharap pengelolaan wisata alam Indonesia menjadi lebih modern, transparan, dan berkelanjutan. Setiap tiket yang dibeli wisatawan juga akan berkontribusi langsung terhadap PNBP sekaligus mendukung implementasi prinsip Responsible Tourism demi terwujudnya ekowisata berkualitas di Indonesia.

(mc/ril)