
Mounture.com — Kasus orang tersesat di gunung dan kawasan hutan kerap terjadi, terutama pada jalur pendakian yang memiliki medan ekstrem dan cuaca yang cepat berubah.
Oleh karena itu, teknik pencarian orang tersesat di gunung dan hutan harus dilakukan secara sistematis, terstruktur, dan berbasis data agar operasi SAR berjalan efektif dan efisien.
Berikut sejumlah tahapan penting yang menjadi acuan dalam operasi pencarian dan pertolongan (Search and Rescue/SAR).
1. Analisis Kronologis Kejadian
Langkah awal yang krusial adalah memahami kronologi kejadian secara menyeluruh. Informasi tentang waktu terakhir subjek terlihat, jalur yang dilalui, kondisi cuaca, serta saksi terakhir harus dicermati secara detail sebagai dasar perencanaan pencarian.
2. Pendalaman Data Subjek (Survivor)
Tim SAR perlu mempelajari profil subjek sedetail mungkin, meliputi usia, pengalaman mendaki, kondisi psikologis, karakter, hingga kebiasaan pribadi. Informasi mengenai perlengkapan dan bekal terakhir yang dibawa juga sangat penting untuk memperkirakan daya tahan survivor di alam terbuka.
3. Pemetaan dan Penentuan Area Pencarian
Area pencarian kemudian dipetakan dan ditandai pada peta, idealnya menggunakan peta topografi. Penentuan zona pencarian dilakukan berdasarkan kemungkinan pergerakan subjek, kondisi medan, dan faktor alam seperti sungai, jurang, atau jalur satwa.
BACA JUGA: Jalur Singolangu Gunung Lawu: Jalur Klasik Bersejarah dengan Panorama Magetan–Sarangan
4. Pemanfaatan Teknologi Navigasi
Untuk mempermudah navigasi, tim SAR kini dapat memanfaatkan aplikasi peta digital, seperti Avenza Maps, sesuai dengan kesepakatan tim. Teknologi ini membantu akurasi penentuan posisi dan meminimalkan risiko tersesat bagi tim pencari.
5. Penyusunan Strategi dan Struktur SAR
Strategi pencarian harus disesuaikan dengan jumlah personel yang terlibat. Selain itu, pembentukan struktur organisasi SAR yang jelas, mulai dari Search and Rescue Unit (SRU), On Scene Commander (OSC), hingga Search Mission Coordinator (SMC)—menjadi kunci koordinasi di lapangan.
6. Pencarian dari Titik Terakhir Subjek Terlihat
Operasi pencarian dimulai dari MPP atau TKP, yakni titik terakhir subjek terlihat. Dari titik ini, tim menganalisis kemungkinan arah pergerakan survivor, termasuk tujuan awal dan jalur yang mungkin ditempuh.
BACA JUGA: Mendaki Gunung Bareng Rombongan? Ini 3 Hal Penting yang Wajib Dipersiapkan
7. Simulasi Pergerakan Survivor
Salah satu metode efektif adalah melakukan pencarian dengan pendekatan simulasi, yakni menempatkan diri seolah-olah menjadi subjek. Cara berpikir dan bertindak seperti survivor membantu tim memprediksi keputusan yang mungkin diambil dalam kondisi tertekan.
8. Penerapan Sistem Flying Camp
Apabila area pencarian berada jauh dari basecamp, tim SAR disarankan menggunakan sistem flying camp, yaitu mendirikan camp di sekitar lokasi pencarian. Metode ini lebih efektif dibandingkan pencarian pulang-pergi (tek-tok) dan memungkinkan dukungan logistik yang lebih optimal.
9. Menjaga Komunikasi Antar Tim
Selama operasi berlangsung, komunikasi antar unsur SAR harus dijaga dengan baik. Koordinasi yang solid antara SRU, OSC, dan SMC sangat penting untuk keselamatan personel dan kelancaran misi.
10. Pemeriksaan Area Rawan dan Mencurigakan
Tim SAR perlu memberi perhatian khusus pada area-area yang dianggap mencurigakan, seperti jalur menyimpang, sumber air, lembah, atau lokasi yang berpotensi menjadi tempat bertahan hidup survivor.
(mc/ril)






