Kenali Sinyal Tubuh saat Mendaki Gunung: Cegah Cedera, Hipotermia, dan Altitude Sickness Sejak Dini

Trekking Pendakian

Mounture.com — Mendaki gunung bukan sekadar soal fisik yang kuat dan perlengkapan yang lengkap. Kemampuan mengenali sinyal tubuh justru menjadi faktor krusial untuk mencegah cedera, hipotermia, hingga penyakit ketinggian atau altitude sickness.

Banyak pendaki mengabaikan tanda-tanda awal gangguan kesehatan karena mengira itu hanya rasa lelah biasa. Padahal, mendengarkan tubuh bisa menjadi pembeda antara perjalanan aman dan kondisi darurat yang mengharuskan Anda berhenti atau bahkan turun gunung.

Saat mendaki, tubuh bekerja lebih keras dari biasanya. Ketinggian, suhu dingin, medan berat, serta beban carrier memaksa jantung dan paru-paru bekerja ekstra.

Di gunung-gunung tinggi seperti Gunung Semeru atau Gunung Rinjani, risiko penyakit ketinggian meningkat karena kadar oksigen yang lebih rendah dibanding permukaan laut.

Jika sinyal tubuh diabaikan, risiko yang bisa terjadi antara lain cedera otot dan sendi, dehidrasi berat, hipotermia, Acute Mountain Sickness (AMS) hingga kondisi darurat yang membutuhkan evakuasi.

BACA JUGA: Gunung Wayang: Bukit Eksotis di Candipuro dengan Panorama Gunung Semeru

1. Membedakan Lelah Biasa dan Tanda Bahaya

Lelah Normal saat Mendaki

– Napas terengah saat tanjakan

– Otot terasa pegal

– Jantung berdebar setelah aktivitas berat

– Pulih setelah istirahat 5–15 menit

Tanda Bahaya yang Tidak Boleh Diabaikan

– Pusing hebat dan terus-menerus

– Mual dan muntah

– Sakit kepala berat

– Penglihatan kabur

– Kehilangan keseimbangan

– Kebingungan atau linglung

Gejala-gejala tersebut bisa menjadi indikasi awal altitude sickness.

2. Waspadai Altitude Sickness (Penyakit Ketinggian)

Altitude sickness umumnya terjadi di atas 2.500 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kondisi ini disebabkan oleh tubuh yang belum beradaptasi dengan rendahnya kadar oksigen.

Gejala Acute Mountain Sickness (AMS)

– Sakit kepala

– Mual

– Nafsu makan hilang

– Gangguan tidur

– Lemas berlebihan

Jika gejala memburuk dan muncul sesak napas saat istirahat, batuk berbusa, atau gangguan kesadaran, itu bisa mengarah pada kondisi serius seperti HAPE (High Altitude Pulmonary Edema), dan HACE (High Altitude Cerebral Edema).

Kedua kondisi tersebut adalah keadaan darurat medis dan satu-satunya penanganan efektif adalah segera turun ke ketinggian yang lebih rendah.

BACA JUGA: Gunung Rante Jawa Timur: Jalur Sepi dengan Trek Menantang di Lumajang

3. Tanda-Tanda Awal Hipotermia

Hipotermia terjadi ketika suhu inti tubuh turun di bawah 35°C. Kondisi ini sering terjadi saat pendaki terlalu lama terpapar angin, hujan, atau pakaian basah.

Gejala awal, berupa:

– Menggigil hebat

– Bibir kebiruan

– Jari kaku

– Bicara pelo

– Koordinasi tubuh menurun

Jika menggigil berhenti tetapi tubuh terasa semakin lemas, itu justru tanda kondisi semakin parah. Segera cari perlindungan, ganti pakaian kering, dan hangatkan tubuh.

4. Cedera yang Sering Diabaikan Pendaki

Beberapa cedera ringan bisa menjadi serius jika dipaksakan yakni nyeri lutut akibat beban berlebih, pergelangan terkilir, kram otot karena dehidrasi, hingga lecet parah yang memicu infeksi.

Jangan memaksakan summit jika tubuh sudah memberi sinyal tidak sanggup. Puncak bukan tujuan utama—keselamatan adalah prioritas.

5. Cara Mendengarkan Tubuh saat Mendaki

Agar tetap aman selama pendakian:

– Istirahat Teratur: Gunakan pola jalan 45–60 menit, istirahat 5–10 menit.

– Minum Sebelum Haus: Dehidrasi memperparah risiko AMS dan kram.

– Jangan Terlalu Ambisius: Kecepatan pendakian ideal memberi waktu tubuh beradaptasi.

– Kenali Batas Diri: Jika gejala tidak membaik setelah istirahat, pertimbangkan turun.

(mc/pd)