7 Tips Mengurangi Risiko Mulas dan Ingin BAB saat Mendaki Gunung

Trekking Pendaki

Mounture.com — Mendaki gunung menjadi aktivitas luar ruang yang menyenangkan sekaligus menantang. Selain membutuhkan stamina dan persiapan fisik yang matang, pendaki juga perlu memperhatikan kondisi tubuh selama perjalanan. Salah satu hal yang kerap menjadi kendala adalah keinginan buang air besar (BAB) saat berada di jalur pendakian.

Keinginan BAB bisa menjadi masalah tersendiri, terutama ketika pendaki melewati jalur yang panjang, jauh dari pos istirahat, atau berada di kawasan yang tidak memiliki fasilitas toilet. Kondisi ini tentu dapat mengganggu perjalanan, terlebih jika muncul secara tiba-tiba.

Untuk mengurangi risiko gangguan pencernaan selama mendaki gunung, ada beberapa hal yang bisa diperhatikan, mulai dari pemilihan makanan hingga kebiasaan makan dan minum.

Berikut sejumlah tips yang bisa diterapkan pendaki untuk membantu menjaga kenyamanan perut selama perjalanan.

1. Hindari Makanan Pedas dan Asam

Makanan pedas dapat memicu keluhan pencernaan pada sebagian orang, termasuk rasa mulas dan keinginan untuk BAB. Sementara itu, makanan asam berpotensi memperburuk keluhan lambung pada orang yang sensitif terhadap jenis makanan tersebut.

Karena itu, pendaki sebaiknya mengenali makanan yang dapat memicu gangguan pencernaan pada tubuh masing-masing. Jika makanan pedas atau asam sering membuat perut tidak nyaman, sebaiknya hindari sebelum dan selama pendakian.

Sebagai alternatif, pilih makanan yang lebih mudah ditoleransi oleh tubuh agar perjalanan tetap nyaman.

2. Batasi Konsumsi Minuman Bersoda

Minuman bersoda mengandung karbon dioksida yang dapat meningkatkan gas di saluran pencernaan. Pada sebagian orang, kondisi tersebut bisa menyebabkan perut kembung, bersendawa, dan rasa tidak nyaman.

Meski tidak secara langsung menyebabkan keinginan BAB pada semua orang, minuman bersoda sebaiknya dibatasi jika sering menimbulkan gangguan pencernaan.
Saat mendaki, air putih tetap menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh, terutama ketika melakukan aktivitas fisik dalam waktu lama.

3. Minum Air Secara Bertahap

Mengatur pola minum juga penting selama pendakian. Minum dalam jumlah besar sekaligus dapat membuat perut terasa penuh dan tidak nyaman, terutama ketika dilakukan berdekatan dengan waktu makan atau saat tubuh sedang aktif bergerak.

Pendaki dapat minum secara bertahap dan menyesuaikan kebutuhan cairan dengan intensitas aktivitas, kondisi cuaca, serta banyaknya keringat yang keluar.

Namun, bukan berarti pendaki harus membatasi asupan air secara berlebihan. Menjaga hidrasi tetap menjadi prioritas saat mendaki gunung. Kekurangan cairan justru dapat meningkatkan risiko dehidrasi dan mengganggu kondisi fisik selama perjalanan.

BACA JUGA: Daftar 16 Gunung di Jawa Tengah, Lengkap dengan Ketinggian dan Lokasinya

4. Hindari Makan Berlebihan

Makan terlalu banyak dalam satu waktu dapat membuat perut terasa penuh, begah, dan tidak nyaman. Pada sebagian orang, aktivitas makan juga dapat merangsang gerakan usus yang memunculkan keinginan BAB.

Untuk mengurangi risiko tersebut, pendaki bisa mengatur porsi makan sesuai kebutuhan energi selama perjalanan. Jika diperlukan, makan dalam porsi yang lebih kecil dengan frekuensi yang disesuaikan dapat menjadi pilihan.

Selain itu, jangan mencoba terlalu banyak makanan baru saat mendaki, terutama jika belum mengetahui bagaimana tubuh bereaksi terhadap makanan tersebut.

5. Pilih Posisi Istirahat yang Nyaman

Setelah melewati jalur menanjak atau medan yang menguras tenaga, pendaki perlu beristirahat dengan posisi yang nyaman. Duduk dengan rileks dan meluruskan kaki jika memungkinkan dapat membantu mengurangi ketegangan tubuh setelah berjalan jauh.

Meski demikian, posisi tubuh saat beristirahat bukan cara yang terbukti dapat mencegah keinginan BAB. Jika rasa mulas muncul, pendaki sebaiknya tidak memaksakan diri untuk menahannya terlalu lama.

Apabila tersedia, gunakan toilet di pos pendakian atau fasilitas yang memang diperuntukkan bagi kebutuhan tersebut.

6. Biasakan BAB Sebelum Memulai Pendakian

Salah satu langkah praktis yang bisa dilakukan adalah menyempatkan diri ke toilet sebelum memulai perjalanan. Pendaki dapat mengatur waktu makan dan keberangkatan agar memiliki kesempatan untuk BAB terlebih dahulu.

Bagi yang memiliki pola BAB teratur pada pagi hari, kebiasaan tersebut bisa dimanfaatkan sebelum memasuki jalur pendakian. Namun, setiap orang memiliki pola pencernaan yang berbeda sehingga tidak perlu memaksakan diri jika belum merasa ingin BAB.

Pendaki juga sebaiknya membawa perlengkapan kebersihan pribadi dan mengetahui aturan pengelolaan limbah di jalur yang akan dilalui.

7. Kenali Kondisi Tubuh dan Jangan Abaikan Rasa Mulas

Keinginan BAB tidak selalu bisa dicegah hanya dengan mengatur makanan dan minuman. Perubahan rutinitas, aktivitas fisik, stres, serta kondisi pencernaan juga dapat memengaruhi frekuensi BAB selama pendakian.

Jika rasa mulas disertai diare, nyeri perut berat, demam, atau tanda dehidrasi, pendaki perlu lebih waspada. Jangan memaksakan perjalanan apabila kondisi tubuh memburuk.

Karena itu, persiapan pendakian tidak hanya berkaitan dengan perlengkapan dan kondisi fisik, tetapi juga kesiapan menghadapi kebutuhan dasar selama berada di gunung.

(mc/ns)