
Mounture.com — Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, memiliki cara unik memperkenalkan kekayaan alam dan budayanya kepada wisatawan. Bukan melalui panorama alam semata, tetapi lewat Batik Valiri, sebuah destinasi wisata berbasis pengalaman yang mengajak pengunjung menyusuri Hutan Ranjuri, mengenal budaya Kaili, hingga mencoba langsung proses membatik menggunakan pewarna alami.
Perjalanan wisata di sini bukan sekadar membeli suvenir. Wisatawan diajak memahami bagaimana hutan, adat, sejarah, dan ekonomi lokal saling terhubung dalam kehidupan masyarakat. Selembar kain batik pun menjadi media untuk menceritakan identitas Kabupaten Sigi.
Batik Valiri berasal dari Desa Beka, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi. Di desa ini terdapat Hutan Ranjuri seluas sekitar 9 hektare yang dijaga secara turun-temurun oleh masyarakat adat.
Hutan tersebut bukan hanya berfungsi sebagai kawasan konservasi, tetapi juga menjadi sumber air bersih, pelindung desa dari banjir bandang dan kekeringan, sekaligus penyedia bahan pewarna alami bagi Batik Valiri.
Nama Valiri sendiri berasal dari bahasa Kaili yang berarti “jadi di sini”, merujuk pada kawasan sekitar Hutan Ranjuri yang sejak lama menjadi ruang hidup masyarakat sekaligus pusat berkembangnya nilai budaya dan pengetahuan lokal.
BACA JUGA: Liburan ke Danau Toba Makin Seru! Marianna Resort Hadirkan Paket Escape Lake Toba dengan Diskon 15%
Batik Valiri didirikan oleh Afrianto atau Anto pada 2019 setelah bertahun-tahun bekerja di industri batik di Kota Palu. Ia melihat kekayaan alam, budaya, dan sejarah Kabupaten Sigi belum banyak diangkat menjadi motif batik.
“Selama ini batik identik dengan motif Jawa. Padahal Sigi memiliki kekayaan budaya, sejarah, dan alam yang luar biasa, termasuk Hutan Ranjuri yang menyimpan banyak potensi sebagai inspirasi motif maupun sumber pewarna alami,” ujar Anto.
Keunikan Batik Valiri tidak hanya terletak pada tampilannya, tetapi juga makna di balik setiap motif.
Salah satu motif yang paling dikenal adalah Taiganja, simbol kesuburan, cinta, dan ketulusan hati dalam budaya Kaili. Dahulu, Taiganja merupakan benda sakral berbentuk liontin yang digunakan dalam upacara adat sekaligus menjadi mahar pernikahan.
Selain Taiganja, Batik Valiri juga menghadirkan berbagai motif khas Kabupaten Sigi, seperti pohon Rau dari Hutan Ranjuri, daun kelor, senjata tradisional Guma, serta jejak megalitik yang tersebar di wilayah Sigi.
Melalui motif-motif tersebut, wisatawan diajak mengenal sejarah, budaya, dan kekayaan alam Sulawesi Tengah dalam satu lembar kain.
BACA JUGA: Sunrise Camp Gunung Sindoro, Lokasi Camping Terindah dengan Sunrise Spektakuler
Salah satu ciri khas Batik Valiri adalah penggunaan pewarna alami yang berasal dari tanaman di sekitar Hutan Ranjuri.
Beberapa bahan yang dimanfaatkan antara lain daun Rau menghasilkan warna krem, daun mangga menghasilkan warna kuning kehijauan, daun jati menghasilkan nuansa cokelat, dan daun ketapang menghasilkan warna hitam alami.
Proses pembuatannya jauh lebih panjang dibanding pewarna sintetis. Sekitar 10 kilogram daun kering hanya mampu menghasilkan warna untuk lima lembar kain. Daun direbus hingga empat jam, kemudian kain dicelup berulang kali bahkan hingga 20 kali agar warna benar-benar meresap.
Dalam pengambilan bahan baku, masyarakat adat hanya memanfaatkan daun yang telah gugur tanpa menebang pohon, sehingga keseimbangan ekosistem tetap terjaga.
Kini Batik Valiri berkembang menjadi salah satu destinasi ekowisata berbasis pengalaman di Kabupaten Sigi.
Melalui paket wisata yang ditawarkan, pengunjung dapat:
– Menjelajahi Hutan Ranjuri.
– Mengenal tanaman penghasil pewarna alami.
– Memahami filosofi motif batik Kaili.
– Mencoba membatik secara langsung.
– Mengenal kehidupan masyarakat adat Desa Beka.
Konsep wisata ini menggabungkan edukasi, konservasi, budaya, dan ekonomi lokal dalam satu pengalaman perjalanan.
Perjalanan Batik Valiri semakin berkembang setelah mengikuti program inkubasi Gampiri Interaksi. Selama delapan bulan pendampingan, Batik Valiri memperoleh dukungan dalam penguatan kelembagaan usaha, penyusunan standar operasional produksi, peningkatan kapasitas SDM, akses pasar, dan pendampingan menuju penggunaan pewarna alami.
Program ini juga sejalan dengan upaya pemerintah daerah melalui Dinas Lingkungan Hidup yang mendorong pemanfaatan sumber daya Hutan Ranjuri secara berkelanjutan.
Sebagai bagian dari komitmen konservasi, masyarakat juga melakukan penanaman kembali pohon mangga, jati, dan ketapang serta menjalankan program adopsi pohon untuk menjaga keberlanjutan sumber pewarna alami.
Kini Batik Valiri tidak hanya dikenal wisatawan domestik, tetapi juga menarik perhatian tamu dari berbagai negara.
Melalui jaringan Gampiri Interaksi dan Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), Batik Valiri kerap menjadi suvenir resmi dalam berbagai kunjungan nasional maupun internasional.
Wisatawan dari Brasil, Amerika Serikat, Jepang, dan sejumlah negara lainnya telah datang langsung ke Desa Beka untuk belajar membatik sekaligus mengenal praktik pelestarian budaya dan lingkungan yang dijalankan masyarakat setempat.
Batik Valiri menjadi contoh bagaimana pelestarian alam dapat berjalan beriringan dengan pengembangan ekonomi masyarakat.
Di Kabupaten Sigi, yang sekitar 70 persen wilayahnya merupakan kawasan hutan, Batik Valiri menunjukkan bahwa menjaga hutan tidak hanya melindungi lingkungan, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat identitas budaya lokal.
Konsep ini dikenal sebagai ekonomi restoratif, yakni pembangunan yang menghadirkan manfaat ekonomi tanpa mengorbankan keberlanjutan lingkungan.
(mc/pd)





