Tarsius: Primata Terkecil di Indonesia yang Jadi Maskot Bangka Belitung

 

Tarsius

Foto: Disparbud Selayar

Mounture.com — Tarsius merupakan salah satu primata terkecil di Indonesia yang memiliki ciri khas tubuh mungil dengan mata berukuran sangat besar. Satwa ini dapat dijumpai di wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Ukuran tubuhnya relatif kecil, namun memiliki kaki belakang yang sangat panjang. Keunikan lainnya terletak pada tulang tarsus di bagian kakinya yang memanjang.

Dari tulang inilah nama “tarsius” berasal. Struktur kaki tersebut membuat tarsius mampu melompat dengan lincah dari satu pohon ke pohon lainnya.

Tarsius termasuk hewan nokturnal, yaitu satwa yang aktif pada malam hari. Menjelang sore, tarsius akan keluar dari sarangnya untuk mencari makan.

Makanan utama tarsius adalah serangga. Dengan penglihatan tajam berkat mata besarnya, tarsius mampu berburu mangsa dalam kondisi minim cahaya. Perilaku berburu ini menjadi salah satu daya tarik unik dari primata kecil ini.

BACA JUGA: Grenden Magelang: Pesona Air Terjun Kembar di Lereng Gunung Merbabu

Di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, tarsius telah ditetapkan sebagai maskot daerah. Masyarakat lokal menyebutnya dengan nama pelilean. Secara ilmiah, jenis yang terdapat di wilayah ini dikenal sebagai Tarsius bancanus saltator.

Awalnya, jenis tarsius di Pulau Belitung dianggap sama dengan kerabatnya di Pulau Bangka, yaitu Tarsius bancanus bancanus. Namun, penelitian lebih lanjut menemukan adanya perbedaan karakter morfologi atau bentuk fisik luar di antara keduanya.

Perbedaan tersebut membuat para peneliti menetapkan populasi tarsius di Pulau Belitung sebagai jenis yang berbeda dari populasi di Pulau Bangka.

Sebagai salah satu satwa endemik Indonesia, tarsius memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, terutama dalam mengendalikan populasi serangga. Keberadaannya yang unik dan khas menjadikan tarsius sebagai bagian penting dari kekayaan biodiversitas Indonesia.

Upaya pelestarian perlu terus dilakukan agar primata mungil ini tetap lestari di habitat alaminya dan tidak terancam oleh kerusakan lingkungan maupun perburuan liar.

(mc/pd)