Menelusuri Sejarah Kopi Ijen, Warisan Perkebunan di Lereng Gunung Ijen

Kebun Kopi Ijen

Foto: PTPN III

Mounture.com — Di lereng Pegunungan Ijen, Bondowoso, Jawa Timur, kopi bukan sekadar komoditas. Tanaman Arabika yang tumbuh di kawasan pegunungan tersebut menyimpan sejarah panjang tentang perkebunan, masyarakat, ekonomi, dan hubungan manusia dengan lingkungan.

Jejak itu bermula lebih dari satu abad lalu ketika Gerhard David Birnie, pengusaha asal Belanda, mengembangkan perkebunan kopi Arabika di lereng Gunung Ijen pada era pemerintahan Hindia Belanda.

Sejumlah literatur juga menyebut pengembangan komoditas tembakau di kawasan tersebut. Perkebunan yang dahulu dikelola perusahaan Belanda itu kemudian dinasionalisasi setelah Indonesia merdeka dan menjadi bagian dari perjalanan panjang perkebunan negara hingga kini dikelola PTPN I sebagai bagian dari Holding Perkebunan Nusantara (PTPN Group).

Bagi Bondowoso, sejarah tersebut tidak hanya meninggalkan perkebunan dan tanaman kopi. Kehadiran perkebunan turut membentuk kehidupan masyarakat yang berkembang di sekitar kawasan Ijen.

Membayangkan pembangunan perkebunan di lereng pegunungan pada akhir abad ke-19 memberikan gambaran tentang tantangan yang dihadapi para pengelolanya.

Kawasan perkebunan berada di dataran tinggi dengan medan yang tidak mudah dijangkau. Infrastruktur transportasi pada masa itu tentu belum seperti sekarang. Namun, pengembangan perkebunan tetap dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi geografis dan kesesuaian lahan.

Kopi Arabika dipilih karena karakter lingkungan pegunungan Ijen mendukung pertumbuhannya. Ketinggian, suhu sejuk, tanah vulkanik, serta kondisi iklim menjadi bagian penting dari ekosistem produksi kopi.

Dalam perkembangannya, perkebunan juga tidak hanya menjadi ruang produksi. Kehadiran aktivitas ekonomi membuat kawasan yang sebelumnya relatif terpencil berkembang menjadi tempat tinggal dan ruang kehidupan bagi para pekerja.

Tenaga kerja didatangkan dari sejumlah wilayah di sekitar Jawa Timur, antara lain Bondowoso, Banyuwangi, Jember hingga Malang.

Mereka tidak hanya datang untuk bekerja. Sebagian kemudian menetap dan membangun kehidupan bersama keluarganya. Dari proses tersebut tumbuh komunitas dan kultur masyarakat perkebunan yang jejaknya masih dapat ditemukan di kawasan Ijen hingga sekarang.

BACA JUGA: Rayakan Dua Dekade, DXI 2027 Perluas Kolaborasi Diving hingga Outdoor Adventure

Sejarah perkebunan Ijen dapat dirasakan lebih nyata ketika melihat langsung berbagai bangunan peninggalan masa lalu. Salah satunya adalah kompleks Jampit Guest House yang kini dikelola PTPN I Regional 5.

Bangunan yang didirikan pada 1927 tersebut masih memperlihatkan karakter arsitektur masa perkebunan kolonial. Lantai kayu, bentuk bangunan, serta suasana kawasan menghadirkan gambaran mengenai kehidupan perkebunan pada masa lalu.

Bangunan tersebut pada akhirnya tidak hanya menjadi tempat beristirahat. Ia menjadi bagian dari lanskap sejarah perkebunan yang masih hidup dan digunakan hingga saat ini. Di kawasan ini, sejarah tidak berhenti sebagai catatan mengenai tahun dan nama tokoh.

Sejarah hadir dalam bangunan tua, jalan perkebunan, tanaman kopi, pabrik, serta kehidupan pekerja yang terus berlangsung dari generasi ke generasi.

Gerhard David Birnie dikenal membuka perkebunan Blawan yang pada masa itu disebut Mount Blau. Pengembangan perkebunan kemudian berlanjut ke kawasan Kalisat/Jampit.

Dari kawasan inilah perkembangan kopi Ijen semakin panjang. Komoditas kopi Arabika dari dataran tinggi Bondowoso kemudian dikenal hingga pasar Eropa.

Pergantian zaman turut mengubah struktur pengelolaan perkebunan. Setelah Indonesia merdeka, perusahaan-perusahaan perkebunan asing dinasionalisasi dan pengelolaannya beralih kepada negara.

Kini, perkebunan tersebut menjadi bagian dari ekosistem PTPN I dalam Holding Perkebunan Nusantara. Namun, melihat Kebun Ijen hanya dari sisi produksi kopi akan membuat cerita panjang perkebunan ini menjadi terlalu sederhana.

Ada pekerja yang menggantungkan pendapatan dari kebun. Ada keluarga yang kehidupannya tumbuh mengikuti musim kopi. Ada pengetahuan mengenai tanaman dan pengolahan hasil yang diwariskan lintas generasi.

Dengan demikian, perkebunan juga menjadi ruang ekonomi yang mempertemukan pekerja, masyarakat sekitar, pengolah hasil, pelaku usaha hingga mata rantai distribusi.

BACA JUGA: TN Komodo Tambah Kuota Kunjungan Minimal 500 Orang per Hari

Kawasan yang dikenal sebagai Biosite Kopi Bondowoso mencakup perkebunan negara dan perkebunan rakyat di Kecamatan Ijen dan Sumberwringin.

Kawasan Pegunungan Ijen-Raung menjadi salah satu sentra penting kopi Arabika di Jawa Timur. Perkebunan berada pada ketinggian sekitar 1.100–1.550 meter di atas permukaan laut.

Karakter tanah vulkanik, udara pegunungan, iklim, ketinggian serta praktik budidaya yang berlangsung lintas generasi menjadi kombinasi yang membentuk karakter kopi dari kawasan tersebut.

Kopi Arabika Bondowoso dikenal memiliki tingkat keasaman yang menonjol, aroma intens, ukuran biji sedang, serta sentuhan rasa manis menyerupai cokelat.

Karakter tersebut menjadi bagian dari identitas Java Coffee dan memperkuat posisi kopi Arabika Bondowoso sebagai salah satu kopi spesialti dari Indonesia.

Kopi Arabika dari Bondowoso juga telah memperoleh perlindungan Indikasi Geografis yang mengakui kekhasan produk berdasarkan karakter wilayah asalnya.

Menariknya, keberadaan tanaman kopi di Ijen tidak berdiri sendiri. Di antara tanaman kopi terdapat berbagai jenis tanaman penaung, seperti suren, dadap, kayu manis, pinus dan kayu putih.

Vegetasi tersebut memiliki fungsi ekologis, antara lain membantu menjaga kondisi mikroklimat berupa suhu dan kelembapan di sekitar tanaman kopi.

Keberadaan vegetasi juga membuat kawasan perkebunan menjadi bagian dari ekosistem yang dapat mendukung kehidupan berbagai jenis fauna, burung hingga serangga penyerbuk. Dengan kondisi tersebut, kebun kopi tidak hanya dapat dilihat sebagai ruang produksi.

Ia juga merupakan ruang ekologis yang memiliki hubungan erat dengan keberlanjutan perkebunan itu sendiri.

Produktivitas dan kelestarian lingkungan pada akhirnya bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Pengelolaan perkebunan justru membutuhkan keseimbangan antara produksi dan kemampuan ekosistem untuk terus menopang kehidupan.

Kunjungan ke Kompleks Kebun dan Pabrik Kopi Ijen pada November tahun lalu memperlihatkan sisi lain dari perkebunan yang sulit ditemukan hanya melalui data produksi.

Di tengah hamparan tanaman kopi, sejarah bertemu dengan kehidupan sehari-hari. Ada aktivitas pekerja di kebun, proses pengolahan hasil, bangunan tua, permukiman, jalan perkebunan dan lingkungan pegunungan yang menjadi satu kesatuan.

Di sinilah makna perkebunan negara menjadi lebih luas daripada sekadar angka produksi. Kebun Ijen memiliki nilai ekonomi karena menghasilkan kopi. Ia memiliki nilai sosial karena menciptakan pekerjaan dan menopang kehidupan masyarakat. Ia juga memiliki nilai ekologis karena pengelolaan tanaman dan vegetasi berlangsung dalam lanskap pegunungan yang memiliki fungsi lingkungan.

Lebih jauh lagi, terdapat pengetahuan yang tidak selalu tercatat dalam buku. Pengetahuan tentang kapan merawat tanaman, bagaimana memanen kopi, mengelola tanaman penaung hingga menangani hasil panen merupakan pengalaman yang terbentuk selama puluhan bahkan lebih dari seratus tahun.

Pada akhirnya, kopi Ijen bukan hanya cerita tentang rasa dalam secangkir minuman. Ia adalah cerita tentang sejarah, manusia, alam, pekerjaan, dan pengetahuan yang tumbuh bersama di lereng Pegunungan Ijen.

Dari jejak perkebunan yang dibangun pada masa kolonial, tumbuh sebuah lanskap kehidupan yang terus berubah mengikuti zaman. Perusahaan berganti, pemerintahan berubah, tetapi tanaman kopi, masyarakat dan lingkungan tetap menjadi bagian penting dari cerita panjang kawasan tersebut.

Dan di antara kabut pegunungan Ijen, barisan tanaman kopi seolah menjadi pengingat bahwa sebuah perkebunan dapat menyimpan sejarah jauh lebih panjang daripada sekadar umur tanamannya.

(mc/ns)