Bantul Ubah Sampah Plastik Jadi Solar, Teknologi Faspol 5.0 Mampu Hasilkan 0,9 Liter dari 1 Kg Sampah

Teknologi Faspol 5.0

Mounture.com — Upaya mencari solusi atas persoalan sampah plastik di Indonesia terus berkembang. Terbaru, Pertamina Foundation bersama Pemerintah Kabupaten Bantul dan Badan Riset dan Inovasi Nasional meluncurkan teknologi pirolisis multikondensor Generasi 5.0 atau Faspol 5.0 yang mampu mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar solar.

Inovasi tersebut akan diterapkan di bank sampah yang dikelola Kelompok Swadaya Mandiri (KSM) Pilah Berkah di Kapanewon Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kehadiran teknologi ini diharapkan menjadi solusi pengelolaan sampah sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru bagi masyarakat.

Peluncuran Faspol 5.0 mendapat sambutan positif dari Pemerintah Kabupaten Bantul yang saat ini menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah pasca penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan.

Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, menilai teknologi yang dikembangkan BRIN tersebut dapat menjadi solusi jangka panjang dalam menangani persoalan sampah di wilayahnya.

Menurutnya, pengelolaan sampah membutuhkan kolaborasi berbagai pihak karena kompleksitas masalah yang terus meningkat dari waktu ke waktu.

“Pengelolaan sampah di Bantul membutuhkan banyak sinergi karena penanganannya semakin menantang pasca TPA Piyungan ditutup. Hadirnya BRIN melalui inovasi Faspol yang didukung Pertamina Foundation sangat selaras dengan fokus penanganan kami saat ini dan ke depan akan dikembangkan ke KSM lainnya,” ujarnya.

BACA JUGA: Tak Sekadar Tanam Pohon, MIND ID Kembangkan Reklamasi Tambang Berbasis Ekosistem

Teknologi Faspol 5.0 merupakan inovasi hasil penelitian yang dikembangkan oleh peneliti BRIN sekaligus penerima program PFsains Pertamina Foundation 2024, Heru Susanto.

Faspol bekerja menggunakan teknologi pirolisis multikondensor untuk mengolah sampah plastik, baik yang kotor maupun basah, menjadi bahan bakar alternatif yang dikenal dengan nama Petasol.

Menurut Heru, kemampuan alat ini cukup menjanjikan karena mampu menghasilkan hampir satu liter bahan bakar dari setiap kilogram sampah plastik yang diolah.

“Satu kilogram sampah plastik dapat menghasilkan sekitar 0,8 hingga 0,9 liter solar. Proses pengolahannya membutuhkan pemanasan suhu tinggi selama 7 hingga 8 jam, dilanjutkan proses penjernihan dan tahapan lainnya hingga menghasilkan Petasol yang siap digunakan pada mesin berbahan bakar diesel,” jelasnya.

Keberhasilan teknologi Faspol tidak hanya terjadi di Bantul. Hingga saat ini, Faspol 5.0 telah diterapkan di 53 lokasi di berbagai daerah di Indonesia.

BRIN menargetkan teknologi ini dapat direplikasi lebih luas sehingga setiap desa atau kecamatan memiliki akses terhadap mesin pengolah sampah plastik menjadi bahan bakar.

Menurut Heru, dukungan Pertamina Foundation melalui program PFsains menjadi faktor penting dalam mempercepat implementasi teknologi tersebut di berbagai daerah yang menghadapi persoalan sampah.

“Dukungan Pertamina Foundation memungkinkan kami mereplikasi inovasi ini ke Bantul yang saat ini tengah menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah,” katanya.

BACA JUGA: Misteri Danau Taman Hidup Gunung Argopuro, Tempat Mandi Dewi Rengganis yang Penuh Legenda

Presiden Direktur Pertamina Foundation, Agus Mashud S. Asngari, menegaskan bahwa PFsains dirancang untuk mendorong lahirnya inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan mampu memberikan dampak nyata.

Menurutnya, teknologi seperti Faspol membuktikan bahwa sampah plastik tidak harus berakhir menjadi masalah lingkungan, tetapi dapat diubah menjadi sumber daya yang bernilai ekonomi.

“Permasalahan sampah plastik yang selama ini menjadi tantangan lingkungan dapat diubah menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomi. Inilah bentuk inovasi yang kami dorong, yakni solusi yang lahir dari kebutuhan masyarakat dan dapat dimanfaatkan secara langsung,” ujar Agus.

Ia menambahkan bahwa Pertamina Foundation berupaya menjembatani hasil penelitian agar tidak berhenti sebagai karya ilmiah semata, melainkan dapat dihilirisasikan menjadi solusi yang bermanfaat hingga ke tingkat desa.

Program PFsains sendiri telah berjalan sejak 2020 dan menjadi salah satu wadah pengembangan inovasi berbasis riset di Indonesia.

Hingga saat ini, program tersebut telah mendukung sedikitnya 45 inovator dan peneliti dari berbagai sektor, mulai dari energi terbarukan, pertanian, perikanan, hingga pengelolaan limbah.

Tidak hanya memberikan bantuan pendanaan, PFsains juga menyediakan pendampingan pengembangan model bisnis, implementasi lapangan, hingga evaluasi berkelanjutan agar inovasi yang dihasilkan dapat berkembang dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

Implementasi Faspol 5.0 di Bantul dinilai sejalan dengan agenda pembangunan nasional, khususnya dalam mendorong hilirisasi hasil riset dan penguatan ekonomi masyarakat desa.

Teknologi ini tidak hanya membantu mengurangi volume sampah plastik yang mencemari lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru melalui produksi bahan bakar alternatif berbasis limbah.

Dengan kemampuan mengubah sampah plastik menjadi solar, Faspol 5.0 berpotensi menjadi salah satu solusi inovatif dalam menjawab dua tantangan sekaligus, yakni pengelolaan sampah dan penyediaan energi alternatif yang lebih bernilai guna bagi masyarakat.

(mc/ns)