
Salah satu harimau yang terekam kamera jebak TN Gunung Leuser (dok. TNGL)
Mounture.com — Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BB TNGL) bersama Wildlife Conservation Society – Indonesia Program (WCS-IP) melakukan survei populasi harimau di kawasan TNGL. Survei tersebut dilakukan dengan memasang kamera jebak.
Adapun total area survei yang dilakukan seluas 730,4 kilometer persegi atau 73.400 hektare yang mewakili empat tipe habitat dataran rendah, perbukitan, submontana dan montana. Kamera jebak sendiri dipasang secara berpasangan di 82 titik.
Pemasangan dan pengambilan kamera jebak melibatkan sekitar 120 orang dan membutuhkan waktu 9 bulan dari Oktober 2020 sampai dengan Juli 2021 untuk menyelesaikan seluruh kegiatannya.
Dalam keterangan resmi TNGL, disebutkan bahwa hasil survei tersebut didapatkan dengan melihat pola loreng sisi kanan kiri menggunakan extract compare, terekam setidaknya 13 individu harimau yang terdiri dari 6 jantan dewasa, 6 betina dewasa dan 1 ekor anak.
Tiga dari jumlah individu tersebut pernah terekam pada survei 2017/2018 bahkan satu diantaranya juga pernah terekam pada survei 2013/2014.
Satu ekor harimau jantan yang terekam dalam 3 periode survei tersebut (Leuser_MT202) menjadi individu terlama dalam data base Extract Compare yaitu selama sembilan tahun dengan area jelajah yang sangat luas yaitu 21.581,10 hektare sejak 2013-2021. Ke depan, monitoring akan dilakukan untuk melihat dinamika populasi yang terjadi pada area survei ini.
“Menghitung jumlah pasti populasi harimau itu tentunya sulit ya. Survei dan analisa ini kita pakai sebagai pendekatan biar tahu kelimpahan harimau sumatera di kawasan TNGL,” ujar Ruswanto, Plh. Kepala Balai Besar TN Gunung Leuser.
Ia mengatakan, Balai Besar TNGL dan WCS-IP konsisten untuk terus melakukan monitoring terhadap spesies kunci ini. “Agar kita punya strategi yang tepat untuk konservasi harimau sumatera di Leuser khususnya, sehingga populasinya meningkat,” jelasnya.
“Kondisi medan cukup menyulitkan memang. Ada yang luka, tergigit ular, dan sebagainya. Namun Alhamdulillah tim selamat semua. Apresiasi kami untuk jerih payah mereka,” terang Tarmizi, WCS-IP Leuser Landscape Manager.
Tarmizi juga mengatakan kehadiran jantan betina dan anak harimau pada hasil survei kali ini membawa harapan cerah bagi konservasi harimau sumatera di Leuser.
Selain harimau, kamera jebak juga merekam 47 jenis satwa liar diantaranya kijang (Muntiacus muntjak), sempidan sumatera (Lophura inornata), Musang bertopeng (Paguma larvata), Musang leher kuning (Martes flavigula), macan dahan (Neofelis diardi) dan beruang madu (Helarctos malayanus). (MC/RIL)