Gunung Krakatau dan Anak Krakatau: Sejarah Letusan Dahsyat hingga Erupsi Terbaru 2026

Gunung Anak Krakatau - Lampung

Ilustrasi

Mounture.com — Gunung Anak Krakatau kembali menjadi sorotan setelah mengalami rangkaian erupsi dengan intensitas tinggi pada awal September 2026. Aktivitas vulkanik tersebut ditandai dengan semburan lava atau lava fountain serta dentuman yang terdengar hingga sejumlah wilayah pesisir Banten dan Lampung.

Nama Krakatau tentu bukan hal asing bagi masyarakat Indonesia. Gunung api yang berada di Selat Sunda ini memiliki sejarah panjang, terutama setelah letusan dahsyat pada 1883 yang tercatat sebagai salah satu bencana vulkanik paling besar dalam sejarah modern.

Lantas, apa hubungan antara Gunung Krakatau dengan Anak Krakatau? Bagaimana gunung api baru tersebut terbentuk? Berikut sejarah Gunung Krakatau dan perkembangan aktivitas Anak Krakatau hingga erupsi terbaru 2026.

Erupsi Anak Krakatau Terbaru September 2026

Gunung Anak Krakatau mengalami rangkaian erupsi sejak Jumat malam, 4 September 2026. Aktivitas tersebut berlanjut hingga 5 September dengan munculnya semburan lava (lava fountain) yang terlihat dari sejumlah wilayah di sekitar Selat Sunda.

Erupsi juga disertai dentuman keras yang dilaporkan terdengar hingga kawasan pesisir Banten dan Lampung.

Rangkaian erupsi pada 4–5 September 2026 disebut menjadi salah satu periode dengan intensitas aktivitas paling tinggi sejak Anak Krakatau berada pada status Siaga (Level III) yang ditetapkan pada 2 Juli 2026.

Sejak status tersebut ditetapkan, Anak Krakatau telah mengalami ratusan kali erupsi. Meski aktivitas vulkaniknya meningkat, status gunung api tersebut masih berada pada Level III atau Siaga. Artinya, peningkatan aktivitas tersebut belum membuat status Anak Krakatau dinaikkan ke level tertinggi.

BACA JUGA: 6 Danau Cantik yang Berada di Kawasan Gunung Indonesia

Apakah Erupsi Anak Krakatau Berpotensi Tsunami?

Meningkatnya aktivitas Anak Krakatau tentu kembali mengingatkan masyarakat pada tsunami Selat Sunda yang terjadi pada 2018. Namun, kondisi erupsi terbaru perlu dibedakan dengan kejadian tersebut.

Aktivitas erupsi saat ini berasal dari proses vulkanik di dalam tubuh Anak Krakatau. Potensi terjadinya tsunami akibat aktivitas tersebut dinilai sangat kecil selama tidak terjadi perubahan besar pada tubuh gunung yang menyebabkan material longsor ke laut.

Meski demikian, masyarakat dan wisatawan tetap harus mengikuti arahan otoritas karena kawasan sekitar gunung api aktif memiliki potensi bahaya lain, termasuk lontaran material vulkanik, abu, gas vulkanik, serta aliran lava.

Wisatawan dan nelayan juga diminta tidak mendekati kawah aktif dalam radius yang telah ditetapkan oleh otoritas terkait.

Sejarah Letusan Gunung Krakatau 1883

Untuk memahami mengapa aktivitas Anak Krakatau selalu mendapat perhatian besar, kita perlu kembali ke sejarah lebih dari satu abad lalu.

Gunung Krakatau berada di Selat Sunda, di antara Pulau Jawa dan Sumatra. Sebelum letusan besar 1883, kawasan tersebut merupakan kompleks gunung api yang membentuk pulau vulkanik.

Aktivitas vulkanik mulai meningkat pada Mei 1883. Sejumlah laporan pada masa itu menyebut adanya kolom asap dan aktivitas letusan dari kawasan Krakatau. Aktivitas tersebut terus berkembang hingga mencapai klimaks pada 26–27 Agustus 1883.

Rangkaian ledakan besar kemudian menghancurkan sebagian besar tubuh Krakatau dan membentuk kaldera yang sebagian besar berada di bawah permukaan laut.

Dampak letusan tersebut sangat besar. Ledakan utama pada 27 Agustus 1883 terdengar hingga wilayah yang berjarak ribuan kilometer dari Krakatau. Suara letusan bahkan dilaporkan terdengar di Australia dan kawasan Samudra Hindia.

Letusan juga memicu tsunami besar yang menghantam pesisir Banten dan Lampung. Ribuan permukiman terdampak dan jumlah korban jiwa akibat rangkaian letusan serta tsunami diperkirakan mencapai lebih dari 36.000 orang.

Abu dan material vulkanik yang terlontar ke atmosfer juga menyebar sangat luas sehingga memengaruhi kondisi atmosfer dan iklim global.

Salah satu dampak yang paling terkenal adalah munculnya warna matahari terbenam yang tidak biasa di berbagai belahan dunia akibat partikel vulkanik yang berada di atmosfer.

BACA JUGA: Bandara Soekarno-Hatta Tutup Sementara Imbas Erupsi Gunung Anak Krakatau

Krakatau Pernah Meletus Sebelum 1883

Letusan 1883 bukan satu-satunya aktivitas besar dalam sejarah Krakatau. Sejumlah catatan sejarah dan kajian geologi menyebut adanya letusan besar di kawasan Krakatau pada masa lampau. Salah satu yang sering dikaitkan dengan sejarah Krakatau adalah peristiwa sekitar tahun 416 Masehi.

Selain itu, laporan pelaut Belanda pada 1680 juga mencatat adanya aktivitas vulkanik di kawasan Krakatau.

Hal ini menunjukkan bahwa kompleks Krakatau memang merupakan salah satu kawasan vulkanik aktif di Indonesia dan telah mengalami perubahan besar selama berabad-abad.

Bagaimana Anak Krakatau Terbentuk?

Letusan Krakatau 1883 meninggalkan kaldera besar di Selat Sunda. Selama beberapa dekade setelah bencana tersebut, aktivitas vulkanik di kawasan itu relatif tenang. Namun, pada 1927, muncul aktivitas erupsi bawah laut yang kemudian menjadi awal terbentuknya gunung baru.

Gunung tersebut kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau. Nama Anak Krakatau diberikan karena gunung api tersebut muncul dari kawasan kaldera bekas Krakatau dan merupakan hasil aktivitas vulkanik setelah letusan 1883.

Seiring waktu, letusan demi letusan membuat material vulkanik menumpuk. Lava dan abu yang keluar dari kawah secara perlahan membangun tubuh gunung baru tersebut. Karena proses pertumbuhannya dapat diamati sejak kemunculannya, Anak Krakatau menjadi salah satu objek penelitian penting bagi para ilmuwan.

Anak Krakatau Terus Tumbuh dan Berubah

Anak Krakatau merupakan gunung api yang relatif muda jika dibandingkan dengan gunung-gunung lain di Indonesia. Aktivitas vulkaniknya berlangsung secara berulang, baik berupa letusan eksplosif maupun keluarnya lava.

Setiap erupsi dapat menambah material baru pada tubuh gunung. Namun, proses pertumbuhannya tidak selalu berlangsung satu arah. Ketika terjadi letusan besar atau longsoran, sebagian tubuh gunung dapat kembali runtuh dan mengubah bentuk serta ketinggiannya. Fenomena tersebut terlihat jelas pada Desember 2018.

Tsunami Anak Krakatau 2018

Pada Desember 2018, sebagian tubuh Anak Krakatau mengalami longsoran ke laut saat gunung tersebut sedang aktif. Material longsoran yang masuk ke laut kemudian memicu tsunami yang menerjang pesisir Banten dan Lampung. Peristiwa tersebut menimbulkan korban jiwa dan kerusakan besar di kawasan pesisir.

Tsunami 2018 menjadi pengingat bahwa ancaman Anak Krakatau tidak hanya berasal dari letusan secara langsung. Perubahan bentuk tubuh gunung dan potensi longsoran ke laut juga menjadi faktor penting yang harus diperhatikan. Karena itu, pemantauan Anak Krakatau dilakukan secara terus-menerus oleh otoritas vulkanologi.

BACA JUGA: Gunung Anak Krakatau Erupsi, Ini 8 Cara Melindungi Diri dari Abu Vulkanik

Apakah Anak Krakatau Berbahaya bagi Wisatawan?

Anak Krakatau merupakan gunung api aktif sehingga aktivitas wisata di sekitarnya harus mengikuti ketentuan keselamatan yang ditetapkan otoritas. Saat aktivitas vulkanik meningkat, masyarakat, wisatawan, maupun nelayan tidak diperbolehkan mendekati kawah aktif dalam radius yang telah ditetapkan.

Bahaya yang perlu diperhatikan tidak hanya berupa letusan. Kawasan gunung api juga dapat memiliki potensi lontaran batu pijar, abu vulkanik, gas vulkanik, lava, hingga material longsoran.

Karena itu, wisatawan yang hendak beraktivitas di kawasan Selat Sunda perlu memantau informasi resmi sebelum melakukan perjalanan.

Bagi masyarakat yang menggunakan jalur penyeberangan Merak–Bakauheni, kondisi operasional kapal juga sebaiknya dipantau melalui informasi resmi karena situasi di kawasan gunung api dapat berubah sewaktu-waktu.

Fakta Menarik Gunung Krakatau dan Anak Krakatau

Berikut sejumlah fakta menarik mengenai Krakatau dan Anak Krakatau:

1. Krakatau merupakan kompleks gunung api di Selat Sunda

Kawasan Krakatau terdiri atas sejumlah pulau dan sisa tubuh gunung yang terbentuk setelah letusan besar.

2. Letusan 1883 mengubah bentuk Krakatau

Sebagian besar tubuh gunung runtuh dan membentuk kaldera besar yang sebagian berada di bawah laut.

3. Anak Krakatau lahir setelah letusan 1883

Aktivitas vulkanik bawah laut pada 1927 menjadi awal terbentuknya gunung yang kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau.

4. Anak Krakatau terus membangun tubuhnya

Material hasil erupsi seperti lava dan abu secara perlahan menambah volume gunung.

5. Ketinggian Anak Krakatau dapat berubah

Tubuh gunung dapat bertambah akibat erupsi, tetapi juga dapat berkurang drastis ketika terjadi longsoran atau keruntuhan.

6. Krakatau menjadi laboratorium alami bagi ilmuwan

Kemunculan Anak Krakatau memungkinkan peneliti mempelajari proses pembentukan ekosistem baru di pulau vulkanik.

Krakatau, Gunung Api yang Terus Berubah

Sejarah Gunung Krakatau menunjukkan bagaimana aktivitas vulkanik dapat mengubah bentang alam dalam waktu yang sangat singkat.

Letusan 1883 menghancurkan sebagian besar tubuh Krakatau dan menciptakan kaldera besar. Puluhan tahun kemudian, aktivitas vulkanik kembali membangun gunung baru yang dikenal sebagai Anak Krakatau.

Kini, hampir satu abad setelah kemunculannya, Anak Krakatau masih aktif dan terus mengalami perubahan. Erupsi pada September 2026 kembali menunjukkan bahwa kawasan Selat Sunda merupakan salah satu wilayah vulkanik yang dinamis.

Bagi masyarakat, khususnya yang tinggal dan beraktivitas di sekitar Selat Sunda, kewaspadaan dan kepatuhan terhadap rekomendasi keselamatan menjadi hal yang paling penting.

Sementara bagi dunia ilmu pengetahuan, perjalanan dari Krakatau 1883 hingga Anak Krakatau 2026 menjadi gambaran luar biasa tentang bagaimana bumi dapat menghancurkan, sekaligus membangun kembali, sebuah gunung api.

(mc/ls/mg)