
Ilustrasi
Mounture.com — Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada Minggu, 6 September 2026, membuat masyarakat di sejumlah wilayah perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi paparan abu vulkanik.
Berdasarkan informasi dari analisis citra RGB Himawari-9 pukul 06.00 WIB mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik dengan arah pergerakan berbeda. Sebaran tersebut berpotensi menjangkau wilayah yang cukup jauh dari sumber erupsi.
Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Paparan abu dapat mengganggu saluran pernapasan serta menyebabkan iritasi pada mata dan kulit. WHO juga menyebut erupsi gunung api dapat menimbulkan gangguan pernapasan akut maupun kronis, konjungtivitis, serta iritasi mata dan kulit.
Karena itu, masyarakat yang wilayahnya terdampak hujan abu perlu mengetahui cara melindungi diri dengan tepat.
1. Segera masuk ke dalam ruangan
Ketika abu vulkanik mulai turun, sebaiknya segera masuk ke rumah, kantor, sekolah, atau bangunan lain yang dapat memberikan perlindungan.
Tutup pintu dan jendela untuk mengurangi masuknya abu dari luar. Jika sedang berada di luar dan belum dapat mencapai rumah, cari tempat berlindung seperti gedung atau kendaraan.
Berdasarkan rekomendasi WHO (World Health Organization), masyarakat harus tetap berada di dalam ruangan selama hujan abu berlangsung hingga kondisi dinyatakan aman.
2. Gunakan masker saat harus keluar rumah
Jika harus keluar karena keadaan mendesak, gunakan masker yang dapat membantu menyaring partikel.
Masker perlu digunakan dengan posisi yang menutup hidung, mulut, dan dagu serta terpasang serapat mungkin. Untuk kondisi paparan partikel vulkanik, WHO menyebut respirator seperti N95 atau FFP2 dapat digunakan dalam situasi tertentu, termasuk saat erupsi gunung api, terutama untuk aktivitas luar ruangan dalam waktu singkat.
Jika tidak tersedia, gunakan perlindungan pernapasan yang ada sambil memprioritaskan untuk tetap berada di dalam ruangan.
BACA JUGA: Gumuk Reco Sepakung, Wisata Ekstrem di Kaki Gunung Telomoyo
3. Lindungi mata dari abu vulkanik
Selain saluran pernapasan, mata juga dapat mengalami iritasi akibat partikel abu. Gunakan kacamata pelindung atau goggles ketika harus berada di luar ruangan. Hindari mengucek mata apabila terkena abu karena dapat memperparah iritasi.
Masyarakat juga disarankan tidak menggunakan lensa kontak selama kondisi berabu karena dapat meningkatkan risiko gangguan pada mata.
4. Kurangi aktivitas di luar ruangan
Saat kualitas udara menurun akibat sebaran abu, hindari aktivitas yang tidak mendesak di luar rumah. Termasuk olahraga, berkendara tanpa kebutuhan mendesak, maupun kegiatan lain yang membuat seseorang terpapar abu dalam waktu lama.
Semakin lama seseorang berada di lingkungan yang penuh partikel abu, semakin besar pula peluang partikel tersebut terhirup.
5. Tutup sumber air dan makanan
Abu vulkanik dapat mencemari sumber air dan makanan yang berada di ruang terbuka. Karena itu, tutup tempat penampungan air dan makanan dengan baik. Apabila air terlihat keruh atau terdapat abu di dalamnya, jangan langsung digunakan untuk konsumsi.
Panduan WHO untuk kondisi hujan abu juga menyarankan agar air yang mengandung abu dibiarkan mengendap dan menggunakan bagian air yang bersih serta tidak keruh.
BACA JUGA: Takut Digigit Pacet Saat Mendaki? Ini 6 Cara untuk Menghindarinya
6. Bersihkan abu dengan hati-hati
Jangan sembarangan menyapu abu vulkanik dalam kondisi kering karena aktivitas tersebut dapat membuat partikel kembali beterbangan dan terhirup. Saat membersihkan rumah, gunakan perlindungan pernapasan dan mata. Bersihkan secara perlahan serta hindari membuat abu beterbangan ke udara.
Abu yang menumpuk di atap juga perlu diperhatikan karena berat akumulasi abu dapat memberikan tekanan pada struktur bangunan. WHO mencatat penumpukan abu vulkanik di atap dapat menyebabkan kerusakan bahkan keruntuhan bangunan dalam kondisi tertentu.
7. Hati-hati saat berkendara
Abu vulkanik dapat mengurangi jarak pandang dan membuat permukaan jalan licin. Jika tidak ada kebutuhan mendesak, sebaiknya hindari berkendara saat hujan abu berlangsung. Jika memang harus bepergian, berkendaralah dengan kecepatan rendah dan tingkatkan kewaspadaan.
Pastikan kaca kendaraan tertutup dan gunakan pengaturan sirkulasi udara yang tidak mengambil udara dari luar jika kendaraan memilikinya.
8. Pantau informasi resmi
Yang tidak kalah penting, masyarakat harus terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan informasi mengenai sebaran abu dari PVMBG, BMKG, BNPB/BPBD, serta pemerintah daerah.
Jangan hanya mengandalkan informasi yang beredar di media sosial. Jika ada instruksi evakuasi atau pembatasan aktivitas dari pihak berwenang, ikuti arahan tersebut.
Paparan abu vulkanik dapat menyebabkan batuk, iritasi mata dan kulit, hingga gangguan pernapasan. Orang dengan gangguan pernapasan atau kondisi kesehatan tertentu perlu lebih berhati-hati.
Jika setelah terpapar abu muncul sesak napas, nyeri dada, gangguan penglihatan, atau keluhan berat lainnya, segera cari pertolongan medis.
(mc/mg)





