
Foto: rinjaniviaaikberik.com
Mounture.com — Aktivitas pendakian di Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat akan kembali dibuka untuk wisatawan nusantara dan mancanegara mulai 1 April 2026. Sebelumnya, jalur pendakian ditutup selama tiga bulan, yakni sejak 1 Januari hingga 31 Maret 2026.
Pembukaan kembali pendakian ini langsung disambut antusias oleh para pendaki. Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), Budhy Kurniawan mengatakan bahwa terjadi lonjakan pemesanan tiket pendakian setiap hari, yang didominasi oleh wisatawan domestik.
Budhy menjelaskan bahwa kuota pendakian untuk booking mandiri sudah habis terjual. Meski begitu, kuota untuk pendaki yang menggunakan jasa trekking organizer (TO) masih tersedia pada beberapa hari awal pembukaan.
Berikut sisa kuota pendakian melalui trekking organizer:
– 1 April 2026: 177 tiket
– 2 April 2026: 160 tiket
– 3 April 2026: 188 tiket
– 4 April 2026: 198 tiket
Sementara itu, untuk pendaki yang melakukan booking mandiri pada tanggal berikutnya, masih tersedia cukup banyak kuota.
Rinciannya sebagai berikut:
– 5 April 2026: 93 tiket
– 6 April 2026: 29 tiket
– 7 April 2026: 113 tiket
– 8 April 2026: 147 tiket
Berdasarkan data BTNGR, jumlah pendaki yang sudah terjadwal pada hari-hari awal pembukaan cukup tinggi. Pada 1 April 2026, total pendaki mencapai 219 orang, terdiri dari 181 pendaki nusantara dan 38 pendaki mancanegara.
Kemudian pada 2 April 2026, jumlah pendaki tercatat 222 orang, dengan rincian 189 pendaki nusantara dan 33 pendaki mancanegara. Selanjutnya pada 3 April 2026, jumlah pendaki juga mencapai 222 orang, terdiri dari 195 pendaki nusantara dan 27 pendaki mancanegara.
Sementara pada 4 April 2026, jumlah pendaki tercatat 207 orang, dengan rincian 189 pendaki nusantara dan 18 pendaki mancanegara.
Pemesanan tiket pendakian Gunung Rinjani sebenarnya telah dibuka sejak beberapa waktu lalu melalui sistem daring resmi. Pada hari pertama pembukaan booking, BTNGR mencatat sebanyak 652 wisatawan langsung melakukan pemesanan.
Dari jumlah tersebut, 470 orang merupakan pendaki nusantara, sedangkan 182 orang merupakan wisatawan mancanegara untuk periode pendakian April hingga Desember 2026.
Mulai 2026, BTNGR juga melakukan transformasi sistem pendakian agar lebih aman, modern, dan berstandar global. Beberapa teknologi yang mulai diterapkan antara lain:
– Aktivasi gelang RFID untuk identifikasi pendaki
– Personal beacon untuk memantau posisi pendaki
– Integrated Radio Communications
– Pembangunan Command Center
– Penguatan High End Infrastructure
– Pembaruan platform e-Rinjani
– Implementasi sistem zero waste digital
Untuk meningkatkan keselamatan, BTNGR juga menyediakan dua pilihan asuransi bagi pendaki. Pendaki dapat memilih asuransi reguler dengan biaya Rp10.000, atau asuransi premium dengan biaya Rp290.000.
Asuransi premium memungkinkan proses evakuasi menggunakan helikopter apabila terjadi kecelakaan saat pendakian.
BTNGR juga telah melakukan simulasi penyelamatan menggunakan drone logistik yang dilengkapi sensor thermal.
Teknologi ini mampu mendeteksi panas tubuh korban sekaligus membawa logistik darurat seperti alat komunikasi, air minum, hingga obat-obatan ke lokasi yang sulit dijangkau oleh tim penyelamat darat.
Dengan mobilitas tinggi dan navigasi presisi, drone dapat menjangkau korban lebih cepat tanpa menambah risiko bagi personel penyelamat di medan terjal kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani.
Pemanfaatan teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan kecepatan penanganan darurat sekaligus memberikan dukungan awal bagi korban sebelum tim penyelamat tiba di lokasi.
(mc/ril)






