Cegah Karhutla, Trekking Organizer Rinjani Bekali Guide dan Porter dengan APAR

Pendaki Rinjani

Mounture.com — Memasuki puncak musim kemarau, potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Rinjani menjadi perhatian bersama. Kondisi vegetasi yang semakin kering membuat risiko munculnya api perlu diantisipasi, termasuk oleh para pelaku wisata pendakian.

Upaya mitigasi karhutla di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) tidak hanya menjadi tanggung jawab petugas. Sejumlah Trekking Organizer (TO), guide, dan porter turut mengambil peran dengan meningkatkan kesiapsiagaan selama membawa wisatawan menjelajahi kawasan konservasi tersebut.

Salah satu bentuk kesiapsiagaan yang dilakukan adalah membekali guide dan porter dengan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) selama perjalanan.

Perlengkapan tersebut disiapkan sebagai langkah antisipasi apabila ditemukan sumber api di sepanjang jalur pendakian. Dengan adanya APAR, api dalam skala kecil diharapkan dapat segera ditangani sebelum berkembang dan meluas.

Penggunaan APAR dalam kegiatan pendakian bukan sekadar tambahan perlengkapan perjalanan. Kehadiran alat tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan seluruh pihak terhadap potensi karhutla di Gunung Rinjani.

Kondisi musim kemarau membuat material vegetasi lebih mudah terbakar. Karena itu, pencegahan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kebakaran di kawasan taman nasional.

Keterlibatan Trekking Organizer juga menunjukkan bahwa upaya menjaga kawasan konservasi dapat dilakukan secara bersama-sama. Guide dan porter yang berada langsung di lapangan memiliki peran penting dalam membantu menjaga keamanan rombongan sekaligus mengawasi kondisi lingkungan sepanjang perjalanan.

BACA JUGA: 11 Jam Menuju Puncak Kenteng Songo, Seperti Apa Jalur Merbabu via Suwanting?

Balai Taman Nasional Gunung Rinjani mengapresiasi inisiatif Trekking Organizer, guide, porter, serta berbagai pihak yang ikut berperan dalam mitigasi kebakaran hutan dan lahan.

Langkah tersebut menjadi contoh bahwa aktivitas wisata di kawasan konservasi tidak hanya berorientasi pada perjalanan menuju destinasi atau mencapai puncak.

Pendakian juga membawa tanggung jawab untuk menjaga lingkungan yang menjadi bagian dari perjalanan. Terlebih, Gunung Rinjani merupakan salah satu kawasan wisata alam dan pendakian populer di Indonesia yang memiliki ekosistem penting untuk dilindungi.

Karena itu, setiap pendaki maupun pelaku jasa wisata di Rinjani diharapkan ikut menjaga kawasan dengan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran, membawa turun sampah, serta mengikuti seluruh ketentuan dan arahan petugas taman nasional.

Pada akhirnya, perjalanan ke Rinjani bukan hanya tentang mencapai tujuan. Lebih dari itu, setiap orang yang datang memiliki tanggung jawab untuk menjaga kawasan tersebut tetap aman dan lestari.

(mc/pd)