
Mounture.com — Aktivitas Gunung Salak, Jawa Barat, masih berada pada Level I (Normal) berdasarkan evaluasi Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk periode 1–31 Juli 2026.
Meski aktivitas kegempaan vulkanik Gunung Salak mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya, masyarakat dan pendaki yang beraktivitas di kawasan Gunung Salak tetap diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi paparan gas vulkanik berbahaya atau beracun.
Informasi tersebut disampaikan Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak melalui akun Instagram resminya, @btn_gn_halimunsalak, dengan mengacu pada laporan evaluasi aktivitas Gunung Salak dari Badan Geologi tertanggal 7 Agustus 2026.
Dalam laporan bernomor 1369.Lap/GL.03/BGL/2026, Badan Geologi mencatat adanya penurunan jumlah gempa vulkanik Gunung Salak selama periode 1–31 Juli 2026 dibandingkan data kegempaan pada 1–30 Juni 2026.
Selama periode tersebut, instrumen merekam:
– 5 kali gempa Vulkanik Dangkal;
– 18 kali gempa Vulkanik Dalam;
– 45 kali gempa Tektonik Lokal; dan
– 65 kali gempa Tektonik Jauh.
Dari pengamatan visual, Gunung Salak terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati selama periode evaluasi. Kondisi cuaca tercatat cerah hingga hujan dengan suhu udara sekitar 22–34 derajat Celsius.
Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental tersebut, Badan Geologi mempertahankan tingkat aktivitas Gunung Salak pada Level I (Normal).
BACA JUGA: Gunung Ciremai via Sadarehe Full Booked, Antusiasme Pendaki Jelang HUT RI
Meskipun status aktivitas Gunung Salak berada pada Level I, potensi bahaya lain tetap perlu diperhatikan, khususnya gas vulkanik berbahaya di sekitar kawah dan lokasi tembusan fumarol atau solfatara.
Badan Geologi secara khusus mengingatkan masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki yang memasuki Kawasan Rawan Bencana (KRB) III untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan gas vulkanik.
Area yang menjadi perhatian antara lain Kawah Ratu, Kawah Hirup, dan Kawah Paeh, termasuk lokasi tembusan fumarol atau solfatara.
Potensi paparan gas beracun juga disebut dapat meningkat ketika memasuki musim hujan atau saat kondisi cuaca mendung. Karena itu, pendaki maupun wisatawan yang beraktivitas di kawasan tersebut sangat direkomendasikan menggunakan perlindungan atau alat proteksi yang memadai terhadap paparan gas.
Badan Geologi juga mengimbau masyarakat di sekitar Gunung Salak agar tidak mudah mempercayai informasi yang menyesatkan mengenai aktivitas gunungapi.
Perkembangan aktivitas Gunung Salak dapat dipantau melalui kanal resmi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), MAGMA Indonesia, Badan Geologi, serta media sosial resmi PVMBG.
Untuk informasi lebih lanjut, masyarakat dapat menghubungi PVMBG di Bandung atau Pos Pengamatan Gunungapi Salak.
Status Level I (Normal) ini tetap berlaku selama belum diterbitkan laporan evaluasi berikutnya. Tingkat aktivitas Gunung Salak akan dievaluasi secara berkala atau apabila terjadi perubahan aktivitas yang signifikan.
Dengan demikian, status Gunung Salak saat ini masih Normal, tetapi bukan berarti kawasan sepenuhnya bebas dari potensi bahaya. Pendaki dan wisatawan, khususnya yang menuju kawasan kawah, tetap perlu memperhatikan kondisi cuaca, mengikuti rekomendasi petugas, serta memantau informasi resmi sebelum melakukan aktivitas.
(mc/mg)





