
Foto: Kementerian Pariwisata
Mounture.com — Bayangkan sebuah perjalanan yang tidak dimulai dengan kendaraan menuju hotel atau tempat wisata, melainkan dengan menaiki perahu kayu dan menyusuri sungai yang membelah hutan.
Itulah pengalaman yang ditawarkan Taman Nasional Tanjung Puting di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.
Dikutip dari laman Kementerian Pariwisata, disebutkan bahwa perjalanan menuju kawasan konservasi ini umumnya dimulai dari Pangkalan Bun. Dari sana, perjalanan dilanjutkan melalui jalur darat sekitar setengah jam menuju Kumai. Di pelabuhan inilah klotok menjadi kendaraan utama untuk menyusuri Sungai Sekonyer dan anak-anak sungainya menuju kawasan taman nasional.
Klotok bukan sekadar alat transportasi. Perahu kayu tradisional ini menjadi bagian penting dari pengalaman menjelajahi Tanjung Puting karena banyak bagian kawasan hutan yang tidak terhubung oleh jalan darat.
Dari atas perahu, perjalanan perlahan membawa wisatawan masuk semakin jauh ke dalam hutan.
Perjalanan dengan klotok menawarkan pemandangan yang terus berubah. Vegetasi di tepi sungai berganti, suara hutan mulai mendominasi, sementara aktivitas satwa lebih mudah dijumpai pada pagi atau sore ketika suhu udara relatif lebih sejuk.
Salah satu pengalaman menarik adalah ketika warna air sungai mulai berubah dari cokelat menjadi merah kecokelatan.
Warna tersebut berkaitan dengan ekosistem gambut dan proses alami pembusukan material tumbuhan seperti daun, akar, ranting, dan kayu yang kemudian memengaruhi warna air.
Semakin jauh perjalanan dilakukan, hutan di kiri dan kanan sungai terasa semakin rapat. Anak-anak sungai dan vegetasi gambut seolah menjadi tirai alami yang perlahan membuka jalan menuju habitat satwa liar.
Bagi wisatawan yang terbiasa dengan perjalanan wisata konvensional, suasana seperti ini menjadi pengalaman yang berbeda. Tidak ada deretan toko, kendaraan yang lalu-lalang, atau keramaian kota. Yang terlihat adalah sungai, pepohonan, suara satwa, dan klotok yang bergerak perlahan menuju kawasan konservasi.
BACA JUGA: Kebakaran Hutan Terjadi di Sejumlah Gunung, Begini Teknik Pemadamannya
Setelah sekitar dua jam perjalanan, salah satu pemberhentian yang dapat ditemui adalah Pondok Tanggui.
Kawasan ini berkaitan dengan kegiatan konservasi dan rehabilitasi orangutan yang pernah berada dalam perawatan manusia. Di lokasi tersebut terdapat sesi pemberian pakan terjadwal yang memungkinkan wisatawan mengamati orangutan dari jarak yang telah diatur.
Namun, penting untuk diingat bahwa kegiatan tersebut bukan pertunjukan satwa. Wisatawan datang sebagai pengamat, sementara orangutan tetap menjadi satwa liar yang harus dihormati ruang hidupnya.
Karena itu, pengalaman melihat orangutan seharusnya tidak diukur dari seberapa dekat wisatawan bisa berdiri atau mendapatkan foto. Justru, menjaga jarak dan mengikuti arahan pemandu menjadi bagian dari pengalaman wisata di kawasan konservasi.
Perjalanan kemudian dapat dilanjutkan menuju Camp Leakey, yang berjarak sekitar satu hingga dua jam dari Pondok Tanggui.
Camp Leakey memiliki sejarah panjang dalam penelitian dan konservasi orangutan. Pusat penelitian tersebut didirikan oleh Dr. Biruté Mary Galdikas pada 1971 dan dinamai untuk menghormati Dr. Louis Leakey, mentor Galdikas.
Tempat ini kemudian berkembang menjadi salah satu lokasi penting dalam penelitian mengenai perilaku dan kehidupan orangutan Kalimantan.
Bagi wisatawan, Camp Leakey bukan hanya tempat untuk melihat satwa. Kawasan ini memberikan kesempatan untuk memahami bagaimana penelitian dan konservasi berjalan berdampingan dengan ekosistem hutan.
Di sinilah perjalanan ke Tanjung Puting terasa lebih dari sekadar wisata alam. Setiap jalur, sungai, dan perjumpaan dengan satwa membawa cerita tentang hubungan antara manusia, penelitian, dan upaya mempertahankan habitat alami.
BACA JUGA: Menjelajah Banyuwangi, Ini 7 Tempat Wisata yang Wajib Kamu Datangi
Orangutan Kalimantan memang menjadi salah satu daya tarik utama Taman Nasional Tanjung Puting. Namun, kawasan ini memiliki kekayaan satwa yang jauh lebih luas.
Dalam perjalanan, wisatawan berpeluang menjumpai monyet ekor panjang, rusa, babi hutan, buaya, hingga bekantan. Bekantan bahkan menjadi salah satu primata yang menarik perhatian karena hidung panjangnya yang khas.
Melihat satwa-satwa tersebut dari atas klotok memberikan pengalaman tersendiri. Kadang kemunculannya hanya berlangsung beberapa detik di antara pepohonan atau tepian sungai. Karena itu, perjalanan di Tanjung Puting membutuhkan kesabaran.
Tidak semua satwa akan muncul ketika kamera sudah siap.
Ketika matahari mulai tenggelam, pengalaman di Tanjung Puting belum berakhir.
Hutan yang sebelumnya ramai dengan suara aktivitas siang hari perlahan berubah menjadi lebih tenang. Suara serangga dan satwa malam mulai terdengar, sementara langit yang cerah dapat memperlihatkan gugusan bintang di atas kawasan hutan.
Wisatawan yang mengikuti perjalanan beberapa hari dapat bermalam di atas klotok.
Pengalaman tersebut tentu berbeda dengan tidur di hotel. Suara sungai, udara lembap, dan suasana hutan menjadi bagian dari malam. Justru kondisi itulah yang membuat perjalanan Tanjung Puting terasa lebih dekat dengan alam.
Taman Nasional Tanjung Puting bukan destinasi yang cocok jika ukuran liburan adalah fasilitas seperti hotel berbintang. Udara lembap, serangga, hujan yang dapat turun sewaktu-waktu, jalur berlumpur, hingga keterbatasan sinyal merupakan bagian dari perjalanan.
Namun, semua kondisi tersebut juga menjadi bagian dari pengalaman menjelajahi salah satu kawasan hutan penting di Kalimantan.
Untuk perjalanan, periode yang relatif lebih kering sekitar Juni hingga September sering menjadi pilihan karena hujan cenderung lebih sedikit dan jalur trekking biasanya lebih mudah dilalui.
Meski demikian, Tanjung Puting tetap dapat dikunjungi sepanjang tahun. Saat musim hujan, hutan justru dapat terlihat semakin hijau, meski wisatawan perlu lebih siap menghadapi perubahan cuaca.
Durasi sekitar tiga hari dua malam dapat menjadi pilihan untuk menikmati perjalanan dengan lebih santai. Waktu tersebut memungkinkan wisatawan menyusuri sungai, mengunjungi sejumlah lokasi pengamatan, mengikuti kegiatan trekking, serta merasakan pengalaman bermalam di atas klotok.
Wisatawan juga sebaiknya tidak mengatur kedatangan ke Pangkalan Bun terlalu sore agar perjalanan menuju Kumai dan proses keberangkatan dengan klotok dapat dilakukan tanpa terburu-buru.
Pemesanan klotok, pemandu, dan tiket penerbangan juga sebaiknya dilakukan lebih awal. Sebelum berangkat, pastikan kembali informasi operasional, biaya, izin, serta kondisi jalur kepada pengelola atau operator resmi karena informasi tersebut dapat berubah.
Ada satu hal yang tidak boleh dilupakan ketika berwisata di kawasan konservasi: manusia bukan pemilik habitat tersebut.
Orangutan dan satwa liar lainnya harus tetap diberi ruang.
Selama berada di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, wisatawan perlu mengikuti arahan pemandu dan petugas. Jangan menyentuh, memberi makan, memanggil, atau menghalangi pergerakan orangutan.
Hindari makan di dekat satwa dan jaga suara tetap rendah. Penggunaan lampu kilat juga sebaiknya dihindari agar tidak mengganggu satwa.
Jika orangutan mendekat, wisatawan tidak perlu mencoba mendapatkan foto dari jarak sedekat mungkin. Tetap tenang dan biarkan pemandu mengatur jarak aman.
Hal sederhana lainnya adalah membawa kembali seluruh sampah.
Tisu, botol plastik, bungkus makanan, hingga puntung rokok tidak boleh ditinggalkan di kawasan hutan.
(mc/mg)





