
Sungai Qolbu di Gunung Argopuro – Foto: BBKSDA Jatim
Mounture.com — Video dua orang pendaki yang diduga mandi menggunakan sabun di Mata Air Sungai Kolbu dekat Sabana Cikasur menjadi perhatian publik. Menanggapi viralnya rekaman tersebut, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur akan melakukan penelusuran dan identifikasi terhadap pihak-pihak yang terlibat.
Penelusuran dilakukan untuk memastikan informasi yang beredar di media sosial dapat diverifikasi secara utuh. Klarifikasi juga diperlukan agar tindak lanjut terhadap kejadian tersebut dilakukan secara objektif, proporsional, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
BBKSDA Jawa Timur tidak hanya akan menelusuri identitas dua pendaki yang terlihat dalam video. Apabila hasil klarifikasi menunjukkan bahwa perjalanan tersebut merupakan bagian dari kegiatan yang dikelola secara komersial, pihak BBKSDA juga akan menelusuri penyelenggara atau operator open trip yang terkait.
Sejumlah hal dapat menjadi bagian dari penelusuran BBKSDA Jawa Timur, mulai dari kepatuhan terhadap prosedur pendakian, perizinan atau administrasi yang dipersyaratkan, hingga tanggung jawab ketua rombongan dan penyelenggara perjalanan.
Pembekalan kepada peserta mengenai aturan memasuki kawasan konservasi juga menjadi hal penting yang perlu diperhatikan.
Pasalnya, penyelenggara open trip tidak hanya bertugas mengatur transportasi, jadwal perjalanan, maupun kebutuhan teknis peserta. Ketika membawa peserta memasuki kawasan konservasi, penyelenggara juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan peserta memahami aturan dan etika yang berlaku.
Apabila ditemukan adanya pelanggaran, BBKSDA Jawa Timur dapat mengambil langkah secara bertahap dan proporsional sesuai kewenangan serta ketentuan yang berlaku.
Tindak lanjut tersebut dapat berupa pemanggilan dan klarifikasi, pembinaan, pernyataan tanggung jawab, evaluasi akses pendakian, maupun tindakan administratif lainnya apabila hasil pemeriksaan memberikan dasar untuk melakukan langkah tersebut.
BACA JUGA: Diduga Mandi Pakai Sabun di Mata Air Qolbu, Aksi Dua Pendaki Gunung Argopuro Tuai Kecaman
Kasus pendaki mandi di Sungai Kolbu menjadi pengingat bahwa penyelenggara open trip memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar mengatur perjalanan.
Membawa peserta memasuki kawasan konservasi berarti turut memastikan setiap peserta mengetahui batasan aktivitas yang diperbolehkan dan memahami pentingnya menjaga kelestarian ekosistem.
Karena itu, kejadian di Mata Air Sungai Kolbu dapat menjadi momentum bagi operator open trip dan komunitas pendakian untuk mengevaluasi kembali standar edukasi konservasi yang diberikan kepada peserta sebelum maupun selama perjalanan.
Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, mengatakan peristiwa tersebut perlu menjadi pembelajaran bersama.
Menurutnya, perhatian tidak seharusnya hanya tertuju kepada dua orang yang muncul dalam video, tetapi juga pada upaya membangun kesadaran seluruh pihak mengenai aturan ketika memasuki kawasan konservasi.
“Kami tidak ingin persoalan ini berhenti pada siapa dua orang yang ada di dalam video. Yang lebih penting adalah membangun kesadaran bahwa ketika seseorang memasuki kawasan konservasi, ada aturan dan batas yang harus dihormati.”
Ia menegaskan bahwa pendaki maupun penyelenggara open trip memiliki tanggung jawab untuk memastikan aktivitas yang dilakukan tidak merusak ekosistem kawasan.
BBKSDA Jawa Timur, lanjutnya, akan mengedepankan langkah yang terukur dan edukatif, tetapi tetap tegas berdasarkan hasil klarifikasi serta ketentuan yang berlaku.
“Kami akan melakukan klarifikasi terlebih dahulu. Jika perjalanan tersebut difasilitasi oleh penyelenggara open trip, tentu akan kami telusuri pula tanggung jawab penyelenggaranya,” tegas Nur Patria.
Menurutnya, konservasi bukan hanya menjadi tanggung jawab petugas. Setiap pihak yang membawa orang masuk ke kawasan konservasi juga harus ikut memastikan peserta memahami aktivitas yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
BACA JUGA: Tips Mandi di Sungai agar Aman, Nyaman, dan Tak Merusak Alam
Di tengah perdebatan mengenai video pendaki mandi di Sungai Kolbu, BBKSDA Jawa Timur juga memberikan apresiasi terhadap kepedulian masyarakat terhadap kelestarian kawasan.
Apresiasi diberikan kepada pendaki yang memberikan teguran di lapangan, pihak yang mendokumentasikan kejadian, akun yang pertama kali mengunggah rekaman hingga menjadi perhatian publik, serta warganet dan komunitas pendaki yang ikut menyuarakan pentingnya menjaga kawasan konservasi.
Kepedulian tersebut menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya menjadi tempat membagikan pengalaman perjalanan dan keindahan alam. Platform digital juga dapat menjadi sarana pengawasan sosial terhadap perilaku manusia di kawasan yang memiliki fungsi ekologis penting.
Meski demikian, kepedulian tersebut tetap perlu disampaikan secara bertanggung jawab.
BBKSDA Jawa Timur mengingatkan agar persoalan ini tidak berkembang menjadi persekusi, penghinaan, maupun penghakiman berlebihan terhadap individu yang bersangkutan.
Proses klarifikasi dan penanganan sebaiknya diserahkan kepada petugas yang memiliki kewenangan. Sementara itu, pihak yang terlibat perlu diberikan ruang untuk menunjukkan itikad baik serta mempertanggungjawabkan tindakannya sesuai dengan hasil pemeriksaan.
Kasus Sungai Kolbu pada akhirnya bukan sekadar persoalan mengenai aktivitas mandi di aliran mata air. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kawasan konservasi memiliki aturan yang perlu dipahami dan dihormati setiap pengunjung.
Bagi pendaki maupun penyelenggara open trip, menjaga kawasan bukan hanya dilakukan dengan membawa kembali sampah. Cara menggunakan sumber air, menjaga kebersihan, tidak merusak lingkungan, serta memahami batas aktivitas selama berada di kawasan konservasi juga menjadi bagian dari etika perjalanan.
Dengan adanya penelusuran BBKSDA Jawa Timur, publik kini menunggu hasil klarifikasi untuk mengetahui secara utuh apa yang sebenarnya terjadi di Mata Air Sungai Kolbu dan apakah terdapat pihak lain yang bertanggung jawab atas perjalanan tersebut.
(mc/pd)





