Jangan Istirahat Terlalu Lama Saat Mendaki Gunung, Ini 4 Alasannya

Istirahat di Gunung

Mounture.com — Beristirahat saat melakukan pendakian gunung merupakan hal yang sangat penting untuk memulihkan tenaga, mengatur napas, serta menjaga kondisi fisik selama perjalanan. Namun, istirahat saat mendaki gunung juga memiliki batas waktu yang disarankan.

Banyak pendaki berpengalaman menyarankan agar waktu istirahat tidak lebih dari 10 hingga 15 menit dalam satu sesi. Terlalu lama berhenti di jalur justru dapat membuat tubuh kehilangan performa dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan selama pendakian.

Lalu, apa saja alasan mengapa pendaki tidak dianjurkan beristirahat terlalu lama di jalur? Berikut penjelasannya.

1. Suhu Tubuh Turun dan Berisiko Mengalami Hipotermia

Saat trekking, tubuh menghasilkan panas karena otot terus bekerja. Ketika pendaki berhenti terlalu lama, produksi panas tersebut akan menurun sehingga suhu tubuh ikut turun.

Apalagi jika pendakian dilakukan di kawasan pegunungan dengan suhu dingin, angin kencang, atau kondisi pakaian yang basah karena keringat. Tubuh akan lebih mudah menggigil dan kehilangan panas.

Jika dibiarkan, kondisi ini dapat meningkatkan risiko hipotermia, yaitu keadaan ketika suhu tubuh turun di bawah batas normal yang dapat membahayakan keselamatan pendaki.

2. Tubuh Justru Terasa Lebih Lelah

Banyak orang mengira semakin lama beristirahat maka tenaga akan semakin pulih. Padahal, saat mendaki gunung hal tersebut belum tentu benar.

Istirahat terlalu lama membuat ritme tubuh berubah. Otot yang sebelumnya aktif akan mulai rileks sehingga ketika perjalanan kembali dimulai, tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi lagi.

Akibatnya, langkah pertama setelah beristirahat sering terasa lebih berat dan tubuh justru menjadi cepat lelah.

BACA JUGA: Gunung Slamet via Guci: Jalur Pendakian Sepi dengan Hutan Asri

3. Otot Menjadi Kaku dan Memicu Kram Kaki

Terlalu lama duduk di jalur pendakian juga dapat membuat otot kaki menjadi lebih kaku.

Ketika pendaki kembali berjalan, otot yang sudah mulai dingin berisiko mengalami kram, terutama jika kurang melakukan peregangan atau kebutuhan cairan tubuh tidak tercukupi.

Karena itu, selain membatasi waktu istirahat, pendaki juga disarankan melakukan peregangan ringan sebelum melanjutkan perjalanan agar otot kembali siap bekerja.

4. Target Waktu Pendakian Bisa Berantakan

Setiap pendakian umumnya memiliki target waktu, baik untuk mencapai pos tertentu, lokasi berkemah, maupun puncak gunung.

Jika waktu istirahat terlalu lama, jadwal yang telah disusun bisa meleset. Dampaknya, pendaki berpotensi tiba di tujuan saat hari mulai gelap atau melewati batas waktu yang telah ditentukan.

Kondisi tersebut tentu dapat meningkatkan risiko keselamatan karena pendakian malam hari umumnya lebih menantang dibandingkan saat kondisi masih terang.

BACA JUGA: Turun Gunung Rinjani via Torean Berapa Jam? Simak Estimasi Waktu dan Medan yang Akan Dilewati

Secara umum, pendaki disarankan beristirahat sekitar 5 hingga 10 menit setiap kali berhenti, atau maksimal 15 menit apabila memang dibutuhkan untuk memulihkan kondisi.

Selama istirahat, manfaatkan waktu untuk:

– Minum air agar tubuh tetap terhidrasi.
– Mengonsumsi camilan berenergi seperti cokelat, kurma, atau energy bar.
– Mengatur napas hingga kembali normal.
– Melakukan peregangan ringan sebelum melanjutkan perjalanan.

Dengan cara tersebut, tubuh tetap bugar tanpa kehilangan ritme berjalan.

(mc/pd)