
Foto: Merapi Merbabu de Trail
Mounture.com — Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb) mencatat lonjakan kunjungan pendaki selama libur long weekend 14–17 Mei 2026. Berdasarkan data resmi Balai Taman Nasional Gunung Merbabu, total sebanyak 5.658 pendaki menikmati jalur pendakian Gunung Merbabu melalui lima jalur resmi yang dibuka untuk umum.
Dari seluruh jalur yang tersedia, jalur Selo menjadi rute pendakian paling favorit dengan total 1.567 pendaki selama empat hari periode libur panjang tersebut.
Posisi berikutnya ditempati jalur Suwanting dengan 1.520 pendaki dan Thekelan sebanyak 1.473 pendaki. Sementara jalur Wekas mencatat 737 pendaki dan jalur Cuntel sebanyak 361 pendaki.
Popularitas jalur Selo masih mendominasi karena dikenal memiliki panorama sabana luas dan akses yang cukup populer di kalangan pendaki Gunung Merbabu.
Selain itu, jalur ini juga menjadi salah satu rute favorit untuk menikmati pemandangan sunrise dan bentang alam pegunungan dari kawasan Merbabu.
Meski begitu, jalur Suwanting dan Thekelan juga terus menjadi pilihan utama pendaki karena menawarkan karakter trek yang berbeda dengan suasana hutan yang lebih rapat dan jalur yang menantang.
Balai Taman Nasional Gunung Merbabu mencatat puncak kunjungan terjadi pada 14 Mei 2026 dengan total 1.775 pendaki dalam satu hari.
Pada tanggal tersebut, jalur Selo menyumbang 578 pendaki, Suwanting 386 pendaki, Thekelan 391 pendaki, Wekas 294 pendaki, dan Cuntel 126 pendaki. Sementara pada 15 Mei tercatat 1.654 pendaki, lalu 1.449 pendaki pada 16 Mei, dan 780 pendaki pada 17 Mei 2026.
Penurunan jumlah pendaki pada hari terakhir terjadi seiring berakhirnya masa libur panjang dan mulai kembalinya aktivitas masyarakat.
Dalam keterangannya, Balai Taman Nasional Gunung Merbabu turut mengapresiasi para pendaki yang tetap menjaga kebersihan kawasan selama periode long weekend berlangsung.
Pengelola juga mengingatkan bahwa menikmati alam harus dibarengi dengan kesadaran menjaga ekosistem gunung agar tetap lestari.
“Terima kasih untuk seluruh Sobat Merbabu yang tetap tertib, mematuhi aturan, dan membawa turun kembali sampahnya. Karena menikmati alam juga berarti ikut menjaganya tetap lestari,” tulis pengelola TN Gunung Merbabu.
Lonjakan kunjungan saat musim libur panjang sendiri menjadi pengingat pentingnya pengelolaan wisata alam berkelanjutan, terutama di kawasan pegunungan yang rentan terhadap kerusakan lingkungan akibat tingginya aktivitas manusia.
(mc/ns)






