Viral Kericuhan Pendaki, Aturan Baru di Gunung Lawu Wajibkan Tektok Pakai Pemandu Lokal

Puncak Gunung Lawu

Puncak Gunung Lawu – Foto: disparpora.karanganyarkab.go.id

Mounture.com — Kericuhan antar rombongan pendaki di puncak Gunung Lawu berbuntut pada penerapan aturan baru. Kini, pendaki tektok dari luar daerah diwajibkan menggunakan pemandu atau porter lokal saat melakukan pendakian.

Aturan ini disampaikan oleh pengelola Pos Pendakian Candi Cetho, Eko, sebagai langkah preventif untuk menghindari konflik serupa di masa mendatang.

Kebijakan baru ini secara khusus berlaku bagi pendaki tektok, yaitu pendaki yang naik dan turun gunung dalam satu hari tanpa bermalam.

Menurut Eko, kewajiban menggunakan pemandu atau porter lokal berlaku bagi pendaki dari luar daerah yang melalui jalur Candi Cetho maupun Cemoro Kandang.

“Ke depannya, pendaki dari luar yang tektok wajib menggunakan porter lokal dari Candi Cetho maupun Cemoro Kandang,” ujarnya.

Langkah ini diambil untuk meningkatkan pengawasan di jalur pendakian sekaligus menjaga ketertiban di area puncak yang kerap menjadi titik berkumpul pendaki.

BACA JUGA: Cara Mengurus Izin Drone di Taman Nasional Gunung Merbabu, Biaya Rp2 Juta per Hari

Kehadiran pemandu lokal diharapkan tidak hanya membantu navigasi, tetapi juga berperan sebagai penghubung komunikasi antarpendaki.

Eko menegaskan bahwa aturan ini bertujuan untuk meminimalisasi potensi gesekan yang bisa terjadi akibat kelelahan, miskomunikasi, atau kepadatan di jalur dan puncak.

“Ini untuk menanggulangi hal-hal yang tidak diinginkan lagi,” katanya.

Untuk sanksi pelanggaran, pengelola di lapangan tidak memiliki kewenangan langsung. Penanganan lebih lanjut berada di bawah PUD Aneka Usaha Karanganyar sebagai pengelola resmi kawasan.

BACA JUGA: Aturan Booking Pendakian Gunung Arjuno, Wajib Online dan Minimal 3 Orang

Sebelumnya, video keributan antar pendaki di puncak Gunung Lawu viral di media sosial setelah diunggah oleh akun Instagram @ginaadimulia. Video tersebut telah ditonton ratusan ribu kali dan memicu berbagai reaksi dari warganet.

Insiden tersebut melibatkan dua rombongan pendaki yang terlibat perselisihan, diduga akibat berebut spot foto di area puncak. Ketegangan disebut dipicu oleh faktor kelelahan dan kurangnya komunikasi di lokasi.

Kepala Bidang Operasional dan Pengembangan PUD Aneka Usaha Karanganyar, Titin Riyadiningsih, menyatakan bahwa konflik tersebut telah diselesaikan secara kekeluargaan.

Kasus ini menjadi pengingat pentingnya etika dan komunikasi saat berada di alam terbuka, terutama di gunung yang ramai seperti Gunung Lawu.

Pendaki diimbau untuk mengutamakan keselamatan dan toleransi, menghindari ego saat berada di puncak atau jalur sempit, mematuhi aturan terbaru dari pengelola, dan memanfaatkan jasa pemandu lokal untuk keamanan dan kenyamanan.

(mc/pd)