Desa Kanikeh di Pedalaman Seram, Gerbang Pendakian Gunung Binaiya yang Harus Ditempuh 3 Hari Jalan Kaki

Desa Kanikeh

Suasana Desa Kanikeh – Foto: TN Manusela

Mounture.com — Tidak banyak orang yang mengetahui keberadaan Desa Kanikeh, sebuah desa terpencil yang berada di kawasan Taman Nasional Manusela, Pulau Seram, Maluku.

Secara administratif, desa ini termasuk dalam wilayah Kecamatan Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah.

Desa Kanikeh berada jauh di pedalaman hutan Pulau Seram. Untuk mencapai desa ini tidak ada akses kendaraan bermotor. Satu-satunya cara adalah berjalan kaki selama 2 hingga 3 hari perjalanan.

Selama perjalanan menuju desa tersebut, pengunjung harus melewati berbagai medan alam seperti sungai, perbukitan, dan hutan tropis yang lebat.

Desa Kanikeh dikenal sebagai desa terakhir sebelum menuju Puncak Gunung Binaiya melalui jalur utara.

Gunung Binaiya sendiri merupakan gunung tertinggi di Kepulauan Maluku dengan ketinggian 3.027 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Bagi para pendaki yang ingin menjelajahi puncak gunung tersebut dari sisi utara, Desa Kanikeh menjadi titik awal perjalanan menuju kawasan pegunungan.

Dari desa ini pula, panorama Gunung Binaiya terlihat jelas dari sisi selatan dengan latar belakang hutan tropis yang masih sangat alami.

BACA JUGA: Menjelajah Karimunjawa 3 Hari 2 Malam, Ini Destinasi Snorkeling hingga Spot Sunset Terbaik

Sebagai desa yang berada di tengah kawasan hutan Gunung Binaiya, kehidupan masyarakat di Desa Kanikeh masih sangat sederhana.

Sebagian besar warga menggantungkan hidup dari berburu dan berladang. Fasilitas umum di desa ini juga terbatas.

Di desa tersebut hanya terdapat satu sekolah dasar dan satu gereja yang menjadi pusat kegiatan masyarakat.

Meski hidup dengan keterbatasan, warga Desa Kanikeh dikenal memiliki semangat gotong royong yang tinggi serta rasa kebersamaan yang kuat.

Salah satu tantangan hidup di Desa Kanikeh adalah keterbatasan infrastruktur, terutama akses listrik.

Hingga saat ini, desa tersebut masih belum teraliri listrik secara permanen.

Pada malam hari, penerangan hanya mengandalkan genset milik warga yang digunakan secara terbatas.

Meski begitu, kondisi tersebut tidak mengurangi semangat masyarakat untuk menjalani kehidupan di tengah alam yang masih asri.

BACA JUGA: 5 Hal yang Harus Dihindari Sebelum Mendaki Gunung, Jangan Sampai Abaikan Persiapan

Hal unik lainnya dari pendakian Gunung Binaiya melalui Desa Kanikeh adalah adanya tradisi upacara adat.

Para pendaki yang ingin menuju puncak gunung biasanya diwajibkan mengikuti ritual adat setempat.

Upacara ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap alam sekaligus doa agar perjalanan pendakian berjalan lancar dan para pendaki selalu diberikan keselamatan.

Tradisi tersebut menjadi salah satu bagian penting dari budaya masyarakat setempat yang hingga kini masih terus dijaga.

Dengan letaknya yang terpencil serta dikelilingi hutan lebat, Desa Kanikeh menawarkan suasana alam yang masih sangat alami.

Bagi para pecinta petualangan dan pendaki gunung, desa ini menjadi salah satu gerbang menuju pengalaman menjelajahi Gunung Binaiya dan hutan tropis Pulau Seram yang terkenal sebagai salah satu kawasan keanekaragaman hayati penting di Indonesia.

(mc/pd)