
Ilustrasi turun kabut di gunung – Foto: Mounture.com/Luchito Sangsoko
Mounture.com — Mendaki gunung merupakan aktivitas yang menawarkan pengalaman luar biasa, tetapi juga memiliki risiko yang tidak bisa dianggap remeh. Salah satu ancaman yang sering dihadapi pendaki adalah tersesat akibat kabut tebal yang tiba-tiba menyelimuti jalur pendakian.
Kabut tebal dapat mengurangi jarak pandang secara drastis sehingga penanda jalur, percabangan, hingga keberadaan anggota rombongan menjadi sulit terlihat. Dalam kondisi seperti ini, keputusan yang tepat sangat menentukan keselamatan seluruh tim.
Agar perjalanan tetap aman, berikut beberapa tips yang bisa dilakukan ketika kabut tebal turun saat mendaki gunung.
1. Perdekat Jarak Antaranggota Rombongan
Langkah pertama yang harus dilakukan ketika kabut mulai turun adalah memperpendek jarak antaranggota rombongan.
Jangan biarkan ada pendaki yang berjalan terlalu jauh di depan atau tertinggal di belakang. Dengan tetap berdekatan, komunikasi menjadi lebih mudah dan risiko anggota rombongan terpisah bisa diminimalkan.
Jika kabut semakin pekat dan jalur sulit dikenali, berhentilah di lokasi yang relatif aman dan terbuka untuk mengevaluasi kondisi serta menyusun langkah berikutnya.
2. Gunakan Peluit atau Lampu Darurat Sebagai Penanda
Saat jarak pandang terbatas, suara peluit dapat menjadi alat komunikasi yang sangat efektif untuk memberi tanda kepada anggota rombongan maupun pendaki lain di sekitar.
Selain peluit, manfaatkan fitur lampu darurat berwarna merah pada headlamp atau senter jika tersedia. Cahaya tersebut lebih mudah dikenali dalam kondisi minim visibilitas dan dapat membantu menunjukkan posisi rombongan.
Namun, hindari membunyikan peluit atau menggunakan sinyal darurat secara berlebihan jika situasi masih terkendali agar tidak menimbulkan kebingungan bagi tim lain.
BACA JUGA: 5 Barang Penting yang Harus Tetap Kering Saat Mendaki Gunung
3. Gunakan Tali Agar Rombongan Tetap Bersama
Dalam kondisi kabut yang sangat tebal, navigator atau pemimpin rombongan dapat menggunakan seutas tali sebagai penghubung antarpendaki.
Caranya, ujung tali diikat atau dipegang oleh pemimpin, sementara anggota lain memegang bagian tali di belakangnya dengan jarak yang aman. Teknik sederhana ini membantu menjaga formasi rombongan sehingga tidak mudah terpisah ketika berjalan melewati jalur dengan visibilitas rendah.
Pastikan tali digunakan dengan bijak dan tidak mengganggu keseimbangan saat melintasi medan yang terjal atau berbatu.
4. Tetap Tenang dan Jangan Panik
Kepanikan merupakan salah satu penyebab utama pendaki mengambil keputusan yang keliru saat menghadapi situasi darurat.
Jika kabut turun dan jalur mulai sulit dikenali, usahakan tetap tenang, berpikir jernih, serta terus berkomunikasi dengan anggota rombongan. Hindari berjalan sendiri atau mengambil jalur yang belum dipastikan kebenarannya.
Apabila benar-benar kehilangan arah, lebih baik berhenti di lokasi yang aman sambil menunggu kabut menipis atau meminta bantuan daripada terus berjalan tanpa tujuan yang jelas.
BACA JUGA: Mau Mendaki Sambil Menikmati Savana? Ini 5 Gunung yang Wajib Masuk Bucket List
Selain mengetahui cara menghadapi kabut tebal, pendaki juga sebaiknya melakukan persiapan sebelum memulai perjalanan.
Pastikan memahami karakter jalur pendakian, memantau prakiraan cuaca, membawa perlengkapan navigasi seperti peta offline, kompas atau GPS, serta membawa peluit dan headlamp yang berfungsi dengan baik.
Mendaki secara berkelompok dan tidak memisahkan diri dari rombongan juga menjadi langkah penting untuk meningkatkan keselamatan selama berada di gunung.
Pada akhirnya, keselamatan harus selalu menjadi prioritas utama. Dengan tetap tenang, menjaga kekompakan tim, serta mengambil keputusan yang tepat saat kabut tebal turun, risiko tersesat di gunung dapat diminimalkan sehingga pendakian tetap berjalan dengan aman.
(mc/ns)





