Alasan Pendaki Bisa Tersesat saat Mendaki Gunung, Jangan Anggap Sepele!

Wanita Pendaki

Mounture.com — Mendaki gunung menjadi aktivitas favorit banyak orang untuk melepas penat sekaligus menikmati keindahan alam. Gunung-gunung populer seperti Gunung Semeru, Gunung Rinjani, hingga Gunung Merbabu hampir tak pernah sepi pendaki, terutama saat musim liburan.

Namun di balik keindahan panorama alam, selalu ada risiko yang mengintai. Salah satu insiden yang paling sering terjadi adalah pendaki tersesat di jalur pendakian. Lalu, apa sebenarnya alasan pendaki bisa tersesat saat mendaki gunung?

Berikut penjelasannya.

1. Kurang Riset Jalur Pendakian

Banyak pendaki pemula berangkat tanpa mempelajari jalur yang akan dilewati. Padahal setiap gunung memiliki karakter berbeda, mulai dari percabangan jalur, hutan lebat, hingga jalur berbatu yang minim penanda.

Minimnya pemahaman medan membuat pendaki mudah salah mengambil arah, terutama di titik percabangan yang tidak memiliki papan petunjuk jelas.

2. Mengandalkan Insting Tanpa Navigasi

Sebagian pendaki terlalu percaya diri dan hanya mengandalkan insting. Tanpa membawa peta, kompas, atau GPS, risiko tersesat meningkat drastis.

Saat kabut turun atau hari mulai gelap, orientasi arah menjadi sulit. Bahkan jalur yang sebelumnya terlihat jelas bisa tampak berbeda dalam kondisi cuaca buruk.

BACA JUGA: Desa Wisata Tulungrejo, Destinasi Alam dan Spiritual Favorit di Lereng Kelud

3. Terpisah dari Rombongan

Pendaki yang berjalan terlalu cepat atau terlalu lambat berpotensi terpisah dari kelompoknya. Dalam kondisi panik, seseorang bisa mengambil keputusan yang salah dan justru semakin menjauh dari jalur utama.

Mendaki gunung sebaiknya selalu menerapkan sistem buddy (berpasangan) agar saling memantau.

4. Cuaca Buruk dan Kabut Tebal

Perubahan cuaca di gunung bisa terjadi sangat cepat. Kabut tebal dapat membatasi jarak pandang hanya beberapa meter saja. Saat itulah banyak pendaki kehilangan orientasi arah.

Selain itu, hujan deras dapat menghapus jejak jalur tanah sehingga sulit dikenali.

BACA JUGA: Jangan Salah Tangkap, Ini Kode Pendaki Cewek saat Mendaki Gunung

5. Jalur Tidak Resmi atau Jalur Pintas

Beberapa pendaki tergoda mengambil jalur pintas agar lebih cepat sampai puncak. Padahal jalur tersebut belum tentu aman dan belum tentu terhubung dengan jalur utama.

Kasus tersesat sering terjadi karena pendaki keluar dari jalur resmi pendakian.

6. Kelelahan dan Dehidrasi

Faktor fisik juga sangat berpengaruh. Saat tubuh kelelahan atau kekurangan cairan, konsentrasi menurun. Dalam kondisi tersebut, seseorang lebih mudah salah mengambil keputusan.

Pendaki yang terlalu memaksakan diri cenderung mengabaikan tanda jalur dan fokus pada rasa lelahnya saja.

7. Kurangnya Koordinasi dengan Basecamp

Tidak melapor ke pos pendakian atau tidak mengikuti briefing sebelum naik gunung bisa meningkatkan risiko tersesat. Biasanya petugas basecamp memberikan informasi terbaru terkait kondisi jalur, cuaca, dan potensi bahaya.

(mc/pd)