0

Ada Situs Batu Tapak di Gunung Ciremai

  • 17 Desember 2018 08:19

(Mounture.com) — Di salah satu sudut Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) terdapat tempat bersejarah berupa petilasan yang disebut dengan Situs Batu Tapak. Petilasan batu ini menyerupai jejak dua buah kaki manusia berukuran anak dan dewasa. Jejak kaki tersebut berada di wisata alam Batu Nyongclo, Payung, Rajagaluh, Majalengka.

Jika berkunjung ke tempat ini, selain disuguhkan dengan keindahan alam juga dapat menyelami sejarah ‘karuhun’ (leluhur, red) . Ini ibarat pepatah ‘sambil menyelam minum air’, berwisata sambil belajar sejarah.

Telapak kaki kecil yang tergoreskan pada petilasan ini adalah jejak kaki Raden Angkawijaya. Sedangkan telapak kaki yang besar adalah jejak kaki dari Catur Lintang, pamannya.

“Raden Angkawijaya ialah putra dari ibu Dewi Mayangsari, selir dari Prabu Siliwangi yang memerintah kerajaan Pajajaran dan terkenal sebagai Raja Diraja Sunda yang melegenda serta memiliki gelar Sri Baduga Maharaja,” ungkap Didi, pengelola wisata Batu Nyongclo seperti dikutip dari tngciremai.com, baru-baru ini.

Konon menurut cerita, sekitar abad ke empat Masehi, Pangeran Angkawijaya dan pamannya singgah di Batu Nyongclo dan mempersiapkan diri selama tiga hari sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke bukit yang akan menjadi tempat bertapa.

Sang Prabu menginginkan kelak anaknya bisa menjadi seorang kesatria yang tangguh sehingga semenjak umur empat tahun, Sang Pangeran sudah berkelana dengan pendampingan pamannya. Bukit tempat bertapa pangeran Angkawijaya dan pamannya bernama Bukit Palasari. Bukit ini merupakan tempat yang berhutan lebat dan berada tak jauh dari Batu Nyongclo.

Perjalanan dengan jalan kaki dari Batu Nyongclo menuju ke Bukit Palasari dapat ditempuh dalam waktu sekitar dua jam. “Setelah selesai bertapa 40 hari, dua Ningrat ini menginjak salah satu batu di Batu Nyongclo hingga meninggalkan bekas telapak kaki yang sampai sekarang masih bisa kita lihat,” tutur Didi melanjutkan ceritanya.

Jejak kaki yang meninggalkan bekas di batu merupakan tanda kelulusan bertapa Sang Pangeran dan pamannya. Namun anehnya, jejak kaki itu tidak amblas melainkan menyembul ke atas. Selain meninggalkan jejak kaki, dua pertapa tadi juga menanam Hanjuang atau Andong (Cordyline) yang mengelilingi Batu Tapak. Dalam masyarakat Sunda, tanaman Hanjuang punya makna “filosofi” pertanda batas antara tidak sakti dan sakti. (MC/GC)

Sumber dan Foto: tngciremai.com