
Mounture.com — ArtScience Museum di Marina Bay Sands, Singapura, akan menghadirkan pameran bertajuk More than Human: Making With the Living World mulai 28 November 2026 hingga 16 Mei 2027. Pameran ini mengajak pengunjung mengeksplorasi hubungan manusia dengan alam melalui perpaduan seni, desain, sains, dan teknologi.
Hadir untuk pertama kalinya di Asia, pameran More than Human menampilkan lebih dari 140 karya seni, proyek desain, instalasi imersif, dan pengalaman interaktif dari hampir 55 seniman, desainer, arsitek, peneliti, serta komunitas.
Melalui berbagai karya inovatif yang terinspirasi dari alam, pengunjung diajak melihat tumbuhan, hewan, dan ekosistem bukan hanya sebagai bagian dari lingkungan, tetapi juga sebagai mitra dalam membangun kehidupan yang lebih bijaksana dan berkelanjutan.
Pameran ini sebelumnya dikembangkan oleh Design Museum di London bersama Future Observatory, sebuah program riset nasional yang berfokus pada transisi menuju masa depan yang lebih ramah lingkungan. Pengembangannya mendapat dukungan dari UKRI Arts and Humanities Research Council (AHRC).
Khusus untuk penyelenggaraan di Singapura, ArtScience Museum menghadirkan 25 karya tambahan yang dikurasi bersama dengan dukungan DesignSingapore Council. Tambahan tersebut memperkaya pameran dengan perspektif Asia, termasuk tradisi budaya dan kearifan lokal dalam memahami hubungan manusia dengan alam.
Vice President of Attractions Marina Bay Sands, Angelita Teo, mengatakan bahwa penyelenggaraan pameran ini menjadi kesempatan untuk menghadirkan perspektif Singapura dan Asia Tenggara dalam dialog mengenai hubungan manusia dengan lingkungan.
Menurutnya, kekayaan alam dan kehidupan di dalamnya dapat menjadi sumber inspirasi bagi kreativitas manusia. Karena itu, pameran ini tidak hanya membawa gagasan dari luar kawasan, tetapi juga menghubungkannya dengan pengetahuan dan cara masyarakat Asia Tenggara hidup berdampingan dengan alam.
BACA JUGA: Best Indonesian Gift Kembangkan Souvenir Khas Indonesia untuk Dukung Sektor Pariwisata
Pameran More than Human: Making With the Living World terbagi menjadi tiga bagian tematik. Pengalaman eksplorasi pengunjung didukung ruang pamer yang dirancang oleh Lekker Architects, firma arsitektur asal Singapura.
Desain ruangnya terinspirasi dari berbagai bentang alam, mulai dari labirin semak, gugusan pulau, hingga lanskap hutan. Konsep tersebut dirancang untuk mengajak pengunjung memahami hubungan manusia dan alam melalui pengalaman ruang yang berbeda.
Salah satu karya unggulan adalah Berl-Berl karya Jakob Kudsk Steensen. Instalasi audiovisual imersif berskala besar ini membawa pengunjung menjelajahi lanskap lahan basah digital yang terus berubah, terinspirasi dari bentang alam yang dahulu membentuk wilayah Berlin.
Ada pula How to Carve a Sculpture karya Aki Inomata yang memanfaatkan kayu bekas gigitan biwara (beaver) menjadi sebuah karya seni. Karya tersebut mengajak pengunjung mempertanyakan kembali apakah kreativitas merupakan kemampuan yang hanya dimiliki manusia.
Sementara itu, Pollinator Pathmaker: Perceptual Field 7SzzLn6GnY97DSo7hCSLMf karya Alexandra Daisy Ginsberg ditampilkan dalam bentuk tapestri sepanjang delapan meter. Karya ini menggambarkan taman yang dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan berbagai spesies penyerbuk.
Salah satu daya tarik pameran More than Human di Singapura adalah keterlibatan seniman dan kolaborator dari Asia Tenggara.
Sejumlah seniman dan kolektif yang berpartisipasi melalui karya baru maupun adaptasi antara lain Bewilder, Lêna Bùi, Ines Katamso, Khvay Samnang, Zarina Muhammad, Isa Pengskul, Citra Sasmita, Studio SKLIM, Superlative Futures, serta thesupersystem & VAAS.
Pameran ini juga melibatkan sejumlah institusi lokal melalui kolaborasi dan peminjaman koleksi, termasuk National Parks Board (NParks), Experimental Marine Ecology Laboratory dari National University of Singapore (NUS EMEL), serta Asian Civilisations Museum.
Beberapa karya yang menjadi sorotan di antaranya Bee Trail dari NParks, Fish Houses dari NUS EMEL, serta koleksi perangkap ikan tradisional Asia Tenggara dari Asian Civilisations Museum.
Keterlibatan berbagai institusi tersebut mempertemukan hasil penelitian, pengetahuan lokal, dan perspektif budaya untuk memperkaya pemahaman mengenai hubungan manusia dengan alam.
Direktur Eksekutif DesignSingapore Council, Dawn Lim, mengatakan bahwa desain memiliki kemampuan untuk mengubah cara manusia memandang dunia sekaligus menjalani kehidupan di dalamnya.
Melalui pameran ini, pengunjung diajak meninjau kembali hubungan dengan alam dan mempertimbangkan keberlangsungan spesies lain dalam setiap proses perancangan masa depan.
BACA JUGA: Tak Harus Menginap di Lovina, Seririt Bisa Jadi Basis Wisata Bali Utara
Selain karya seni dan desain, pengunjung juga dapat menikmati instalasi imersif dari sejumlah seniman dan kolektif seni internasional, seperti Marshmallow Laser Feast, Ursula Biemann, dan Zheng Mahler.
Karya-karya tersebut menghadirkan pengalaman sensoris yang mengajak pengunjung menyelami kompleksitas ekosistem dan hubungan saling ketergantungan di antara berbagai bentuk kehidupan.
Direktur Future Observatory, Justin McGuirk, menjelaskan bahwa pameran ini mencerminkan perkembangan gerakan seni dan desain yang semakin memperhatikan kelestarian ekosistem.
Menurutnya, desain pada abad ke-21 perlu melampaui pendekatan yang hanya berorientasi pada kebutuhan manusia. Desain juga harus mempertimbangkan keberlangsungan spesies lain dan ekosistem yang menopang kehidupan.
Melalui beragam karya dan pengalaman yang ditampilkan, More than Human: Making With the Living World diharapkan dapat membuka perspektif baru mengenai bagaimana manusia dapat bekerja bersama alam untuk menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan.
Pameran ini akan berlangsung di ArtScience Museum, Marina Bay Sands, Singapura, mulai 28 November 2026 hingga 16 Mei 2027. Tiket mulai tersedia pada 28 Oktober 2026 melalui loket tiket Marina Bay Sands maupun pembelian secara daring.
(mc/mg)





