Legenda Batu Lingga Gunung Ciremai, Jejak Sunan Gunung Jati di Ketinggian 2.200 Mdpl

  • 17 January 2026 10:10
Batu Lingga

Batu Lingga di Gunung Ciremai – Foto: TN Gunung Ciremai

Mounture.com — Gunung Ciremai sebagai gunung tertinggi di Jawa Barat, tak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga menyimpan kisah legenda yang dipercaya secara turun-temurun oleh masyarakat setempat. Salah satu cerita paling dikenal adalah Legenda Batu Lingga, sebuah lokasi sakral yang berada di ketinggian 2.200 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Batu Lingga terletak di jalur pendakian menuju puncak Gunung Ciremai. Dari titik ini, jarak menuju puncak utama masih sekitar 2,3 kilometer.

Lokasi tersebut dapat dijumpai oleh pendaki yang melalui jalur Linggajati, Desa Linggajati, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Di area Transit Camp Batu Lingga, terdapat sebuah batu yang dipagari dahan kayu. Batu inilah yang oleh Ranger Gunung Ciremai dan masyarakat setempat dikenal sebagai Batu Lingga.

“Sebenarnya Batu Lingga itu berukuran besar. Namun pada medio tahun 2000-an, batu tersebut sempat raib entah ke mana,” ungkap Ranger Linggajati, Kang Ewer, seperti dikutip dari laman resmi Taman Nasional Gunung Ciremai.

Menurutnya, beberapa tahun kemudian para ranger berinisiatif menyusun kembali Batu Lingga sebagai penanda sejarah dan legenda Gunung Ciremai agar tetap dikenang oleh generasi pendaki.

BACA JUGA: Gunung Underrated di Indonesia: Indah dan Menantang, tapi Masih Jarang Dijamah Pendaki

Kang Ewer menuturkan, legenda Batu Lingga erat kaitannya dengan Sunan Gunung Jati, salah satu Wali Songo dari Kasultanan Cirebon. Konon, pada abad ke-16 Masehi, sekitar tahun 1521–1530, Sunan Gunung Jati melakukan tadabur alam di Gunung Ciremai melalui jalur Linggajati.

“Di tempat ini, Kanjeng Sunan bermunajat kepada Gusti Allah untuk mencari jalan keluar dalam menghadapi peperangan melawan penjajah Portugis,” jelasnya.

Versi cerita lain menyebutkan bahwa area Batu Lingga dipercaya sebagai jalur tembus menuju kawah ganda Gunung Ciremai. Hal ini karena ketinggian Batu Lingga diyakini sejajar dengan dasar kawah gunung tersebut.

“Memang begitu ceritanya, tapi semua kembali pada keyakinan dan ‘mata batin’ masing-masing,” tutur Kang Ewer.

Legenda Batu Lingga juga berkaitan dengan tokoh bernama Nyi Linggi. Setelah Sunan Gunung Jati meninggalkan lokasi tersebut, Nyi Linggi disebut datang untuk melakukan tapa brata demi memperoleh ilmu kedigdayaan.

Dalam kisah yang beredar di masyarakat, Nyi Linggi melakukan pertapaan ditemani dua ekor macan tutul kesayangannya. Namun tapa brata tersebut berakhir gagal. Nyi Linggi dikisahkan meninggal dunia, sementara kedua macan tutul tersebut menghilang secara misterius.

Hingga kini, legenda Batu Lingga masih hidup dan menjadi bagian dari narasi spiritual Gunung Ciremai. Bagi para pendaki, Batu Lingga bukan sekadar titik transit, melainkan simbol sejarah, budaya, dan kearifan lokal yang menyatu dengan alam pegunungan Jawa Barat.

(mc/ril)