Gunung, Pandemi dan Pendaki

Danau Ranu Kumbolo di Gunung Semeru (Mounture.com/DenChito)

Mounture.com — Pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung hampir dua tahun membuat semua lini kehidupan terdampak, salah satunya sektor pariwisata. Sektor pariwisata menjadi salah satu sektor yang merasakan dampak pandemi ini dengan penurunan jumlah kunjungan, termasuk kegiatan pendakian.

Kegiatan pendakian sendiri selama masa pandemi ini seringkali dilakukan sistem buka dan tutup, yang mana membuat calon pendaki menunda bahkan mengurungkan niat melakukan pendakian. Sebagai contoh, selama masa pandemi setidaknya kebijakan pemerintah berefek pada penutupan Taman Nasional dan Taman Wisata Alam hingga jalur pendakian yang dikelola secara independen oleh masyarakat setempat.

Sebagai gambaran, selama periode tahun 2020, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat berhasil meraih pendapatan dari Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) Jasa Lingkungan sebesar Rp49.061.431.913. Dari angka pendapatan PNBP pada 2020 itu mengalami penurunan dibandingkan tahun 2019 sebesar Rp169.503.366.750.

Adapun PNBP sendiri adalah seluruh penerimaan pemerintah pusat yang tidak berasal dari penerimaan perpajakan. Salah satu kelompok PNBP yaitu penerimaan dari pemanfaatan sumber daya alam, dalam hal ini yaitu dari Jasa Lingkungan. Pada kelompok Jasa Lingkungan ini terdiri dari Jasa Lingkungan Wisata Alam, dan Jasa Lingkungan Air.

KLHK mengumpulkan pendapatan dari Jasa Lingkungan Wisata Alam yang terdiri dari Iuran Izin Usaha Penyediaan Sarana Wisata Alam (IUPSWA), Pungutan Hasil Usaha Penyediaan Sarana Wisata Alam (PHUPSWA), dan Masuk Objek Wisata Alam (MOWA). Sedangkan pada Jasa Lingkungan Air, yaitu Pungutan Usaha Pemanfaaatan Air (PUPA).

Dari data KLHK, disebutkan bahwa selama periode Januari – Desember 2020, jumlah kunjungan wisatawan ke kawasan konservasi, seperti Taman Nasional (TN), dan Taman Wisata Alam (TWA) mengalami penurunan lebih dari 50 persen, jika dibandingkan dengan tahun 2019.

Tercatat, selama 2020 sebanyak 3.338.082 orang melakukan kunjungan ke TN, dan TWA atau mengalami penurunan jika dibandingkan 2019 yang mencapai 7.872.563 orang. KLHK, mengungkapkan penurunan jumlah pengunjung ke kawasan konservasi ini dikarenakan pada awal pandemi Covid-19 seluruh kawasan konservasi ditutup untuk kunjungan.

Dari data tersebut di atas, bisa diambil kesimpulan bahwa pandemi Covid-19 membawa dampak yang sangat signifikan, di mana sektor pariwisata mengalami penurunan dari jumlah kunjungan. Hal itu membuat efek domino ke perekonomian, khususnya masyarakat yang ada di lokasi wisata.

Pun dibuka, kegiatan pendakian juga diharuskan untuk menerapkan protokol kesehatan yang ketat, mulai dari membawa surat keterangan sehat atau bukti test anti Covid-19, memakai masker selama pendakian, membawa hand sanitizier hingga menjaga jarak tenda saat berkemah.

Adapun penerapan protokol kesehatan selama pendakian diharapkan dapat meminimalisir penularan virus Covid-19 diantara pendaki. Namun, sekali lagi pandemi membuat segalanya harus merasakan dampak yang tidak mengenakan baik itu pengunjung, ataupun pengelola.

Namun, di balik pandemi itu, nyatanya gunung seakan kembali lestari, di mana gunung-gunung selama ditutup merasakan ‘ketenangan’ tanpa ada hiruk pikuk pengunjung. Bahkan, gunung-gunung yang ditutup membawa kedamaian bagi penghuninya. Beberapa kabar menyatakan bahwa binatang-binatang yang ada di wilayah gunung, dengan bebasnya berkeliaran tanpa takut bertemu dengan pengunjung.

Kendati demikian, gunung, pandemi, dan pendaki memiliki keterikatan satu sama lain. Di mana gunung juga membutuhkan ‘istirahat’, di saat pandemi membawa dampak yang membahayakan kesehatan, dan pendaki yang menjadi ‘kurang piknik’. Walau bagaimanapun kita semua harus menyikapinya dengan bijak dari sisi positif, karena kita hidup harus selalu berpikir positif.

Jadi untuk sementara biarkan gunung beristirahat, menunggu pandemi yang semoga segera berakhir, agar pendaki bisa kembali menikmati keindahan alam yang sering dirindukan. Salam lestari, tetap jaga kesehatan dan patuhi protokol kesehatan. (MC/PC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.