
Mounture.com — Mendaki gunung belakangan bukan lagi sekadar aktivitas pecinta alam. Gunung kini menjadi ruang pelarian, tempat mencari ketenangan, bahkan bagian dari gaya hidup anak muda. Media sosial turut mendorong tren ini lewat deretan foto sunrise, lautan awan, hingga konten perjalanan yang terlihat menyenangkan.
Namun di balik meningkatnya jumlah pendaki, muncul persoalan yang terus berulang yaitu sampah berserakan, vandalisme, perusakan fasilitas, hingga minimnya kesadaran menjaga alam.
Ironisnya, banyak orang datang menikmati keindahan gunung, tetapi lupa bahwa alam membutuhkan rasa hormat, bukan hanya dijadikan latar foto.
Kesadaran menjaga kelestarian alam di kalangan pendaki sebenarnya tidak tumbuh secara instan. Dibutuhkan proses panjang, pendidikan, dan contoh nyata di lapangan agar budaya mendaki yang bertanggung jawab bisa benar-benar terbentuk.
BACA JUGA: 5 Etika Meminjam Alat Pendakian Gunung yang Wajib Diketahui, Jangan Sampai Bikin Hubungan Rusak
Salah satu masalah terbesar di jalur pendakian saat ini adalah munculnya pola pikir bahwa gunung hanyalah tempat wisata biasa. Akibatnya, sebagian pendaki datang tanpa memahami etika dasar di alam bebas.
Masih banyak ditemukan sampah makanan, tisu basah, puntung rokok, hingga botol plastik yang ditinggalkan begitu saja di jalur pendakian maupun area camping.
Belum lagi aksi vandalisme seperti mencoret batu, merusak shelter, hingga memetik tanaman endemik demi konten media sosial.
Padahal, ekosistem pegunungan termasuk kawasan yang rentan rusak. Proses pemulihannya pun tidak cepat. Sampah plastik bisa bertahan puluhan tahun di alam, sementara kerusakan vegetasi dapat memicu erosi hingga mengganggu habitat satwa liar.
Karena itu, membangun kesadaran pendaki bukan hanya soal aturan, tetapi juga mengubah cara pandang terhadap alam.
Kesadaran lingkungan idealnya ditanamkan bahkan sebelum seseorang menginjak jalur pendakian.
Saat ini banyak pendaki pemula yang belajar mendaki hanya dari media sosial. Sayangnya, tidak semua konten memberikan edukasi yang benar. Banyak video lebih fokus pada estetika perjalanan dibanding pengetahuan dasar tentang konservasi alam.
Di sinilah pentingnya edukasi dari komunitas, pengelola gunung, maupun sesama pendaki.
Briefing sebelum pendakian dapat menjadi langkah sederhana tetapi efektif untuk mengingatkan soal etika membawa sampah turun, larangan merusak fasilitas, penggunaan api secara aman, hingga pentingnya menghormati flora dan fauna.
Konsep “leave no trace” atau tidak meninggalkan jejak juga perlu terus diperkenalkan sebagai budaya dasar pendaki modern.
BACA JUGA: Aplikasi Econique Trip Resmi Diluncurkan, Beli Tiket Wisata Bisa Diskon 15%
Kesadaran lingkungan sering kali tumbuh dari kebiasaan yang dilihat langsung di lapangan.
Ketika seorang pendaki melihat orang lain memungut sampah, membawa turun sampah tambahan, atau menjaga sikap selama di gunung, perilaku itu perlahan menjadi contoh positif yang menular.
Sebaliknya, jika perilaku buruk terus dianggap biasa, maka kerusakan alam akan semakin sulit dicegah.
Karena itu, komunitas pendaki memiliki peran penting dalam membangun budaya mendaki yang sehat. Bukan hanya aktif mengadakan pendakian, tetapi juga konsisten mengkampanyekan konservasi alam.
Kegiatan seperti bersih gunung, edukasi pendakian ramah lingkungan, hingga penanaman pohon bisa menjadi cara sederhana menumbuhkan rasa memiliki terhadap alam.
Meski sering dianggap memicu over-tourism, media sosial sebenarnya juga bisa menjadi alat edukasi yang kuat jika digunakan dengan bijak.
Konten tentang pentingnya menjaga gunung, membawa turun sampah sendiri, hingga edukasi etika pendakian dapat menjangkau lebih banyak orang, terutama generasi muda.
Narasi soal mendaki pun perlahan perlu diubah. Bukan lagi tentang siapa paling sering naik gunung atau paling tinggi mencapai puncak, tetapi siapa yang paling bertanggung jawab menjaga alam.
Sebab pada akhirnya, gunung bukan warisan untuk satu generasi saja. Alam yang rusak hari ini akan berdampak bagi pendaki di masa depan.
Kelestarian gunung tidak bisa dibebankan hanya kepada pengelola taman nasional atau relawan lingkungan. Pendaki juga memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga alam tetap lestari.
Hal sederhana seperti membawa tumbler, mengurangi sampah sekali pakai, tidak merusak fasilitas, hingga membawa turun sampah pribadi sebenarnya sudah menjadi langkah penting menjaga ekosistem pegunungan.
Kesadaran itu mungkin terlihat kecil jika dilakukan sendirian. Namun ketika menjadi budaya bersama, dampaknya akan sangat besar bagi masa depan alam Indonesia.
Karena mendaki gunung sejatinya bukan hanya soal mencapai puncak, tetapi juga tentang bagaimana manusia belajar menghargai alam yang telah memberi banyak kehidupan.
(mc/pd)





